
"Sayang, kita jalan-jalan kemana?" Radit mendekati Zahira yang sedang melipat mukena, seperti keinginan Zahira malam akhir pekan ini mereka akan menghabiskan waktu di luar.
"Kemana saja." Zahira melihat sekilas, lalu kemudian membuka lemari pakaian dan mengambil gaun dan jaket untuk di pakainya.
Radit mendekati gadis itu, membiarkannya sibuk mengganti pakaian hingga selesai tanpa menggangu hanya melihat dan memperhatikannya.
Zahira berbalik dan begitu terkejut Radit sedang menatapnya dengan wajah serius. "Ada apa denganmu?" Zahira berusaha menutupi sikap serba salahnya.
Radit tak menjawab, tangan kokohnya meraih tubuh kecil yang baru saja mengganti pakaiannya dengan gaun coklat muda, lengan pendek dan kancing yang berbaris memanjang di bagian depan. Dia menautkan bibirnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, memainkan hati gadis cantik itu dengan begitu lincahnya. Sejenak melepaskan tanpa memberi jarak, mata elangnya terlihat begitu menusuk dan menggetarkan. Mengulang kembali hingga berkali-kali dan membuat gadis itu kembali hanyut dan terbawa suasana.
Rasa itu begitu membuat Zahira ketagihan, ingin selalu dekat dan melakukannya lagi. Tangannya mencengkeram baju Radit dengan satu tangan kanannya memeluk pinggang Radit suaminya. Dan sepertinya Radit tak melewatkan pemandangan yang indah di hadapannya, wajah cantik yang sedang menahan gejolak itu tampak begitu menggoda dan membuat Radit ingin membuatnya lebih menggila. Tangannya mulai bergerak liar meraih kerah baju dan menariknya sedikit paksa, tak peduli kancing baju itu lepas dan menghambur ke mana-mana. Bahu mulus itu begitu terpampang terlihat menantang untuk ditelusuri, tentu saja Radit tak melewatkan itu, menghirup aroma wangi tubuh perawan yang belum tersentuh, begitu menusuk menyeruak membangkitkan naluri lelaki yang begitu menginginkannya.
Radit memeluk erat gadis yang begitu selalu membuat gelisah, gadis yang selalu menggoda dalam tidurnya, gadis yang selalu membuat Radit ingin menyentuhnya.
"Aku menginginkanmu sayang, apa kau sudah siap?" Radit setengah berbisik begitu dekat dengan telinganya. Zahira tak menjawab, tangan itu semakin mengeratkan pelukannya dan mengangguk.
Kembali membelai pipi mulus gadis itu, mengecupnya dengan mesra dan menggendongnya ke atas ranjang yang luas nan empuk. Mata elang itu tak mengalihkan pandangannya tepat dalam mata bening Zahira, kembali mengecap bibir merah itu dengan tangan hangatnya bermain begitu lincah mengusap bagian yang menantang membuat gadis itu kian mabuk dan melambung hingga ke nirwana. Bibir seksi Radit tak melewatkan setiap jengkal tubuh mulusnya, setengah mengecup dan menggigit meninggalkan jejak-jejak cinta yang tampak begitu indah di puncak bukit indah ranum dan menggoda. "Kau akan selalu ingat malam ini seumur hidupmu." ucapnya, kemudian melanjutkan pemanasan yang sangat lama.
"Radit aku sudah tidak tahan." Zahira menggeliat kesana-kemari menahan gejolak itu tak kunjung di selesaikan.
"Sebentar lagi sayang." Radit semakin mempermainkan perasaan gadis belia itu.
"Aku mau sekarang." Zahira menarik baju kemeja Radit yang masih melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Radit melepas pakaian miliknya dengan begitu cepat, dan kembali menikmati pemanasan yang tak kunjung di akhirinya, Radit meraih tangan kecil itu dan menuntunnya ke bawah memegang miliknya yang berukuran besar melebihi ukuran biasa
Mata bening itu terbelalak membulat sempurna begitu tak percaya. Dengan bibir yang masih di bungkam gadis itu hanya menahan gejolak bercampur tak percaya di dalam hati. 'i**ni yang membuat Radit melakukan pemanasan yang sangat lama.' Kali ini dia sudah pasrah, Radit bersiap menghancurkan mahkota paling berharga milik Zahira.
Berkali-kali hentakan itu ia lakukan, hingga akhirnya berhasil dengan sebagian masih tak bisa masuk. Radit kembali melakukan pemanasan, hingga gadis itu lupa dan kembali hanyut terbawa rasa yang mendayu-dayu di dalam jiwa, barulah Radit kembali melanjutkan perjuangannya hingga berhasil masuk sempurna.
Seringai kemenangan di antara jeritan kecil itu menghiasi wajah tampan yang terlihat begitu gagah, dia sudah berhasil menaklukkan Zahira yang tak tersentuh, memporak porandakan pertahanannya, merampasnya dalam ikatan suci, mereguk madu cintanya yang nikmat dalam ikatan halal menenangkan hati.
"Terima kasih istriku sayang, ini begitu sempurna." Bisik Radit di akhir permainan panas itu.
Zahira tak mampu menjawab, sakit perih dan nikmat dia rasakan bersamaan. Sungguh suami tampannya itu begitu menguasainya dan membuatnya tak mampu berkutik. Rasa yang membuncah itu begitu membuatnya sangat bahagia.
***
"Kau ini, akulah yang sangat berterima kasih padamu, kau sudah menjaga kedua anakku. Tanpamu apalah jadinya mereka." Ayu memeluk guru muda Tiga puluh lima tahun itu.
"Mereka budak pintar, baik pula. Sekarang budak tu dah kawin Nurul ikut bahagia." wajah manisnya tersenyum penuh ketulusan.
"Aku juga sangat bersyukur dan bahagia. Lain kali kau datanglah kembali, Zahira akan merindukanmu." Ayu melepas tangan Nurul, karena mobil sudah siap menghantar kepulangannya, Nurul akan kembali ke Malaysia.
"Mudah-mudahan kite di beri umur panjang, Nurul pasti balik lagi kat sini." Nurul menuju pintu mobil yang telah terbuka, sejenak ia terlihat sedang berpikir. "Sampaikan salam Nurul pada Zahira, maafkan ummi tak sempat jumpe lagi" Wanita itu terlihat sedikit bersedih mengingat ia sangat dekat dengan Zahira namun tak sempat bertemu sebelum meninggalkannya pulang.
"Akan ku sampaikan, mungkin mereka sedang menikmati malam yang melelahkan." Ayu terkekeh geli.
__ADS_1
"Betul tu." Nurul ikut tertawa, sedih yang tadi sempat terlihat terganti dengan raut bahagia.
"Assalamualaikum kak Ayu." Nurul masuk kedalam mobil.
"Wa'alaikum salam." Ayu melambaikan tangan di iringi David yang baru saja keluar dan melihat Nurul sudah berlalu.
"Apa Zahira tak akan merajuk di tinggal tanpa berpamitan." David merangkul tubuh ramping Ayu.
"Dia tak akan ingat, mereka sedang menikmati malam yang melelahkan. Bangunnya pasti kesiangan." Ayu kembali terkekeh geli.
"Aku rasa Zahira akan kelelahan di buatnya." David melirik Ayu dengan tatapan nakalnya.
"Tentu saja, kau juga begitu waktu itu." Ayu balas menggoda suaminya.
"Bukan itu, tapi ukurannya lebih dari milikku." Bisik David di telinga Ayu.
"Yang benar saja David." Ayu terkejut tak percaya, membayangkan hal itu membuat Ayu bergidik ngeri. Bagai mana dengan Zahira yang lembut polos dan lugu itu.
"Tentu saja benar, dia putraku dan aku melihatnya." David tersenyum bangga.
"Zahira pasti kesulitan pagi ini. Apa aku harus ke sana?" Ayu terlihat khawatir, ingin segera mendatangi rumah putri kesayangannya.
"Tidak, itu tidak perlu." David meraih bahu Ayu yang akan berlalu. "Mereka bisa mengatasinya, jika kau ke sana malah mengganggu."
__ADS_1
"Tapi Zahira!" Ayu menjadi bingung. Lalu kemudian ia tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala masuk ke dalam dengan merasa aneh juga lucu. Mereka sudah dewasa, sudah menikah, bahkan ia lupa akan hal itu.