
"Apa yang kau sembunyikan Radit?" ucap Ayu pelan, sungguh ia takut putranya menyakiti Zahira. Jika itu sampai terjadi sudah pasti Zahira akan kecewa, dia akan kehilangan, dan sungguh ia tak akan sanggup menyaksikan kehancuran itu.
Ayu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kasar, dalam hatinya berdoa semoga saja hubungan anak mereka baik-baik saja.
Siang itu Radit mengantar Vino terlebih dahulu lalu setelahnya menjemput Zahira di kampusnya dan baru saja Radit tiba di depan gerbang kampus itu namun tiba-tiba pemandangan tidak enak menyambut kedatangannya. Zahira sedang mengobrol dengan beberapa teman kampusnya, dua orang diantaranya adalah laki-laki tampan. Tampak salah satunya pria berperawakan tinggi dan berkelas sangat memperhatikan Zahira, matanya nyaris tak beralih dari wajah cantik itu.
Radit segera turun dengan perasaan terbakar cemburu, mendekati Zahira dan menyapanya.
"Zahira." panggilnya pelan namun terdengar menakutkan.
"Radit!" seru Zahira segera mendekati Raditya.
"Zahira, kau tidak ikut makan bersama kami?" salah satu teman wanitanya memanggil.
"Maaf ya Ana, lain kali aku akan ikut." jawab Zahira tangan kecil itu menggandeng lengan Radit dengan erat.
Sekilas Radit melihat pria tampan itu menatap istrinya dengan kecewa, 'Untung saja aku sudah lebih dulu menikahi Zahira, jika tidak aku akan memiliki banyak saingan.'
Radit membawa Zahira masuk dan mulai melajukan mobilnya. "Laki-laki yang berjaket tadi siapa?" tanya Radit.
"Temanku, tadi kami membicarakan soal ujian." Zahira menoleh Radit
"Aku tidak suka kau dekat dengannya, dia menyukaimu Zahira." Radit masih menatap lurus ke depan.
"Aku tidak mungkin berpaling darimu, aku ini istrimu Radit." Zahira tersenyum menoleh suaminya yang sedang cemburu, namun berbeda halnya Radit hatinya masih terasa panas mengingat pria itu melihat Zahira dengan kagum.
"Aku tahu, tapi apapun bisa terjadi jika seseorang menyukaimu, bahkan melakukan hal yang licik." Radit masih tak mau menoleh.
"Jangan berprasangka buruk, itu tidak baik." Zahira mencoba meredam kekesalannya.
"Aku tidak berprasangka, itu sudah terbukti dan banyak terjadi." Sedikit meninggikan suaranya.
__ADS_1
Zahira terdiam, apa harus seperti itu jika sedang cemburu? Bukankah tadi ia hanya mengobrol bersama banyak teman, Zahira jadi berpikir.
"Maaf Radit." Zahira menunduk, bukankah memang seharusnya seorang istri tak banyak bicara dengan orang lain terlebih lagi itu laki-laki, dan Zahira berpikir dia memang salah.
"Jauhi dia." pinta Radit lagi, kali ini sedikit menoleh.
"Iya." jawab Zahira pelan, ia menunduk sedikit menhan kesedihan.
Setelah itu tak ada obrolan apapun hingga sampai di rumah dua lantai orang tua mereka, memang Zahira dan Radit memutuskan untuk tinggal di sana sementara waktu hingga Zahira libur akhir bulan ini.
"Sayang kalian sudah pulang?" Ayu menyambut mereka, wanita karier itu sengaja pulang lebih awal untuk menemui kedua anaknya.
"Iya Mama." jawab Zahira pelan, wajah gadis itu tampak murung.
Ayu sedikit memicingkan mata menatap tajam Radit putra semata wayang yang sedang ia selidiki kelakuannya.
"Kenapa Mama melihatku begitu?" tanya Radit begitu heran.
"Mama hanya penasaran dengan apa yang terjadi sehingga membuat istrimu tak senang." Ayu masih menatap curiga.
Pria itu mencoba membujuk Zahira, sekejap ia sadari memang tak seharusnya dia bersikap begitu namun sungguh saat ia cemburu rasa kesal dan marah itu tidak terkendali. Bayangan saat bersama Merry kembali terlintas menghantui sehingga membuat ia ketakutan, sungguh ketakutan, akan kehilangan Zahira dan menghancurkan segalanya.
"Sayang maafkan aku, aku hanya tidak suka ada laki-laki lain menyukaimu. Aku sangat takut kehilanganmu." Radit memeluknya dengan lembut, membiarkan sedikit rongga udara masuk diantara tubuh keduanya agar terasa sejuk dan nyaman.
"Tak ada yang perlu kau takutkan Radit, aku ini istrimu, milikmu! Dan lagi, aku tahu batasan juga hal-hal apa yang menimbulkan dosa, sungguh aku tidak akan melakukannya. Kau tahu aku bukan wanita yang haus perhatian, perhatian darimu saja sudah cukup buatku, bahkan lebih dari cukup. Hanya satu ku pinta padamu, jangan khianati aku dan juga jangan pernah membohongi aku."
Deg
Hati Radit tertusuk dengan ucapan terakhir, mengkhianati, membohongi, bahkan dia sudah menikahi wanita lain. 'Tidak, tidak.' ucap hati Radit.
"Tentu saja sayang." jawabnya pelan, semakin memeluk tubuh kecil itu dan mengecup kepalanya, hati yang sesak itu membuatnya menengadah mencoba menarik nafas dan rasa sesal itu segera berlalu.
__ADS_1
Malam hari, suasana di rumah dua lantai itu terlihat ramai, mereka semua terlibat pembicaraan ringan juga sedikit bercanda bersama, termasuk dengan beberapa asisten rumah tangga yang ikut tertawa.
"Mbak Narsih coba bawa kesini teh dan susunya." Ayu meminta salah satu asisten untuk membawa minum dia dan Zahira.
"Iya Nyonya." jawab wanita yang masih muda itu, meletakkan dua gelas teh ke atas meja.
"Ini bukan teh Narsih, ini kopi?" Asisten yang lainnya menatap kesal dengan kesalahan berulang-ulang di lakukan rekan kerjanya.
"Oh, iya toh. Maaf Bu." wanita itu mengambil gelasnya dan menukar dengan yang masih ada di meja besar.
"Pantesan suami kamu kawin lagi, kamu suka salah ngasih minuman. Suamimu minta kopi kamu ngasihnya teh, suamimu minta teh kamu ngasihnya kopi, lama-lama suamimu capek lalu pergi gak mau kembali."
"Nggak gitu mbak, emang dianya laki-laki brengsek, enggak bersyukur sudah punya aku eh dia masih doyan yang lain." jawab Narsih.
"Uhukkk,, uhukk." Radit yang sedang menikmati kopinya terbatuk mendengar ocehan para asisten rumah tangga itu.
"Radit." panggil Zahira, ia beranjak dan memberikan air minum untuk suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, hanya kopinya masih panas." Radit kembali minum air putih yang di pegang Zahira.
"Tuh Mas Radit saja sampai keselek dengerin ocehanmu yang kepedean." Asisten senior itu masih menyambung pembicaraan mereka.
"Aduh Mbak Sri nggak tau aja, istrinya yang sekarang jauh lebih tua. Tentu aku harus percaya diri, aku masih muda, masa depanku masih panjang, berkecil hati tak ada gunanya, apalagi putus asa." jawab Narsih tak mau kalah.
"Kalian ada-ada saja." Ayu ikut menimpali obrolan kedua asistennya.
"Apa saya harus bersedih Bu?" tanya Narsih lagi.
"Tentu tidak, laki-laki penghianat pantas di buang, yang jauh!" ucap Ayu lagi memberi semangat untuk asisten muda yang nasibnya menyedihkan.
Membuat Narsih bertepuk tangan tertawa gembira. "Ah ibu baik banget, Narsih jadi semangat!" ucapnya sedikit berlonjak di samping kursi yang diduduki Ayu.
__ADS_1
"Lebay amat Sih." Sri menatapnya kesal.
"Sama sopir kantor mau nggak Narsih?" tanya Ayu.