Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
47. Harus tahu kebenarannya


__ADS_3

"Tidak, hanya lelah seharian ini sangat sibuk." jawab Zahira berusaha tersenyum.


"Kita mandi?" Radit mulai merayu dan seperti biasa, pria itu akan menghabiskan waktu bersama Zahira.


Hingga malam hari mereka berdua baru saja selesai makan malam, kini duduk berdua di teras depan menikmati malam yang indah dengan suara deru mobil masih berlalu-lalang di depan gerbang rumahnya.


"Sayang, aku ingin sekali punya anak." Zahira memulai obrolan, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan perihal Radit datang ke klinik seperti yang di katakan Ana. Tapi rasanya tidak mungkin langsung mengatakan hal itu, jika hanya mengandalkan 'kata Ana' saja.


"Aku juga sudah lama menginginkannya sayang." sahut Radit, ia tampak biasa saja.


"Menurutmu kenapa Allah belum mengizinkan aku mengandung anakmu?" Zahira mulai bertanya dan sepertinya kali ini ia akan banyak berandai-andai.


"Mungkin belum waktunya, dan kita harus berusaha lebih keras lagi." Radit menggigit lengan Zahira hingga membuat di istrinya menjerit.


"Sakit Radit!" protesnya.


Radit segera menggendong Zahira tanpa mendengarkan apa yang dia ucapkan.


"Kau mau bawa aku kemana?" Zahira ingin segera dilepaskan.


"Kita ke kamar bawah sayang, aku sudah tidak sabar ingin membuat anak." jawabnya tanpa peduli Zahira meronta ingin di turunkan.


"Apa kita akan membuat kamar ini berantakan?" tanyanya Zahira, suara tertahan itu sama sekali tak di pedulikan Radit.


Pria itu melakukannya penuh damba, sikapnya menunjukan tak ada peraduan lain selain Zahira, Radit begitu menikmatinya dengan segenap jiwa, hingga raga itu menegang sesuatu di bawah sana menyembur benih yang begitu banyak dapat ia rasakan mengalir hangat. Zahira merasa hanya dia saja yang ada di dalam hati suaminya, sangat yakin, begitu yakin.


Radit membelai lembut wajahnya, sungguh tidak ada yang berubah, kasih sayangnya masih terasa begitu besar yang tak henti menyebut dan memanggil nama Zahira meluapkan rasa yang membuncah itu begitu dahsyat.


Tak ada yang aneh bukan? Itu benar-benar Raditya yang mencintai dan menggilainya sejak awal. Lalu siapa wanita yang di ceritakan Ana? Pikiran Zahira melayang kemana-mana.


"Aku mencintaimu Zahira sayang." begitu ia selalu berbisik mesra.


Lalu?


Pukul 02:00 malam, Zahira terbangun dari tidurnya masih sibuk memikirkan cerita Ana. Zahira memandangi wajah tampan itu begitu terlihat sempurna.

__ADS_1


Drrrttt.


Drrrtttt


Ponsel Radit bergetar.


Zahira melihat wajah itu lagi sekilas tidurnya begitu nyenyak. Karena rasa penasaran Zahira bangun dan meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.


'P."


Hanya satu huruf saja isi pesan itu sehingga Zahira bingung untuk membalasnya, dan karena rasa penasaran yang sudah menumpuk Zahira membuka semua aplikasi di ponsel berwarna hitam itu.


Tak ada foto atau chat sekalipun yang mencurigakan, lalu siapa wanita yang bersama Radit itu? Tak mungkin jika Ana salah mengenali orang, bahkan dia adalah teman yang paling sering melihat Radit saat sedang mengantar atau menjemput Zahira. Zahira tidur dengan di selimuti kebingungan, pikirannya menebak-nebak namun arahnya semakin membuat ia pusing hingga ia tertidur dengan lelah.


Pagi itu gerimis seakan mewakili hati Zahira yg gelisah, Meski sikap Raditya masih terasa hangat tapi rasa ingin tahu dan penasaran tentang kedatangan Radit ke klinik milik orang tua Ana semakin kuat. Dia tidak bisa berdiam diri hanya memikirkan tanpa tahu kebenaran.


"Sayang, apa yang membuatmu melamun?" Radit memeluk tubuh kecil yang sedang duduk di ruang makan menunggu mbok Tuti menghidangkan makanan.


"Tidak ada Radit." jawabnya singkat, tersenyum hangat dan menoleh hingga pipinya bersentuhan dengan hidung Radit.


"Tentu aku hanya memikirkan dirimu. Akhir-akhir ini aku merasa gelisah dan takut kehilanganmu Radit." ucapnya setengah berbisik, tentu ucapan itu berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Tak ada yang perlu kau takutkan Zahira, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, justru akulah yang sangat takut kehilanganmu." jawabnya pelan, masih menempel di pipi Zahira.


Zahira menoleh hingga bola mata mereka bertemu dengan hidung saling bersentuhan. Nafas itu bertukar saling mengisi, menghangatkan jiwa yang dingin di pagi hari ini.


"Aku tak memiliki siapapun selain dirimu Raditya." begitu ucapny menggetarkan hati Radit yang semakin merasa bersalah. Itu memang kenyataan, bahwa Zahira hanya memiliki dirinya saja, bahkan orang tuanya adalah ayah dan ibu Radit.


'Haruskah aku jujur padamu Zahira, aku sudah melakukan kesalahan begitu besar sayang'


Radit merasakan sesak itu semakin banyak melihat wajah cantik yang begitu di puja di setiap malamnya, menjadi ingatan di setiap jauh darinya, dan membayangkan saat gadis itu tahu kebenaran tentang dirinya.


"Percayalah Zahira, cintaku padamu melebihi apapun." Radit begitu menyayanginya, sungguh-sungguh menyayanginya.


*

__ADS_1


"Assalamualaikum Mama." Zahira mendatangi kantor Ayu pagi ini.


"Wa'alaikum salam sayang, tumben sekali kau datang tanpa memberi tahu Mama." Ayu memeluk Zahira begitu hangat.


"Tadi aku di antar sopir kantor Mama." Zahira duduk mengikuti Ayu diruang pribadinya.


"Ada apa sayang?" Ayu menatap wajah menantunya begitu lekat, hatinya mengatakan ada yang penting hingga membawanya datang ke kantornya pagi-pagi begini.


"Aku ingin membicarakan sesuatu tentang Radit Mama." ucapnya serius.


"Ada apa dengan Radit." Ayu mulai merasa tidak tenang karena dia juga sedang menyelidiki sesuatu.


"Teman kampusku melihat Radit pergi ke klinik bersama seorang wanita, itu di hari Sabtu ketika aku sempat menelepon mama menanyakan Radit. Dan mama harus tahu, Radit dan wanita itu sedang memeriksakan kehamilan." ucapnya sedih, mata bening itu mulai berembun


"Apa?" Ayu juga tak kalah terkejut, kecurigaannya memang sedang mengarah pada seorang perempuan.


"Aku takut Mama." Zahira sudah tidak mampu menahan air matanya.


Ayu mendekat dan segera memeluk Zahira begitu erat, hatinya berkecamuk membayangkan penghianatan putranya.


"Mama bersamamu sayang, jangan takut dengan apapun, kau putri Papa dan Mama. Mama pastikan akan membuang Radit jika dia sampai mengkhianatimu." Ayu semakin takut dengan dugaannya.


"Aku ingin datang ke klinik itu Mama?" Zahira melonggarkan pelukan Ayu dan meraih tas yang sempat ia letakkan di meja.


"Mama akan ikut bersamamu."


Mereka beranjak keluar dengan rasa tak menentu, bukan hanya Zahira tapi Ayu pun merasakan kekhawatiran yang sama.


"Ma!" panggil Zahira, langkahnya berhenti sejenak saat akan melangkah naik ke mobil Ayu.


"Ada apa sayang?" Ayu mengurungkan tangannya membuka pintu mobil.


"Bagaimana jika Radit benar-benar memiliki wanita lain?" suaranya bergetar dengan air mata yang turun tanpa permisi.


"Mama tidak yakin Zahira, tapi apapun itu kita harus tahu kebenarannya." Ayu menatap sendu pada Zahira, sungguh ia tahu bagaimana hatinya putri kesayangannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2