
"Kau ada di mana sayang?" Radit menengadah ke langit dengan pakaian dan wajah kusutnya, pria itu tampak benar-benar hancur, duduk di pinggir jalan dan menatap dengan putus asa.
Lama ia termenung dengan sesekali melihat ke kiri dan kanan, berharap ada Zahira di tempat itu. Tak pernah menyangka akan jadi seperti ini, kesalahan yang tak di inginkan sudah berhasil membawanya pada kehancuran.
Kemarin, dia masih ada dengan sejuta senyum dan tawa.
Kemarin, dia masih terlihat dengan sejuta keindahan yang mempesona.
Kemarin, dia masih berkata dengan mesra bahwa ia hanya memiliki Radit saja.
Kemarin mereka masih menghabiskan malam panjang itu dengan begitu mesra.
Dan kemarin juga, dia marah, kecewa, terluka dan kini pergi....
Kembali dada lebarnya merasakan hantaman baru besar, Zahira kesayangan telah pergi, Zahira tercinta hilang karena kesalahannya sendiri.
'Pulanglah sayang, aku sudah tidak kuat menahan rindu ini, aku yang salah, aku memang salah. Pulanglah dan marahi aku, pulanglah dan habisi saja aku, rasanya akan senang jika aku mati di tangan kecilmu. Paling tidak itu mengurangi rasa bersalahku padamu, maafkan aku Zahira.'
Sama halnya ditempat yang lain, Zahira sedang menatap langit, menyaksikan bulan yang tertutup awan tipis. Meskipun cahayanya masih dapat di lihat, tapi keindahannya tak terlihat sempurna.
Tak pernah menyangka akan ada di masa seperti ini, menghabiskan malam yang sepi ini sendiri, tanpa Radit yang selalu memberinya kehangatan dan kebahagiaan.
Itu dulu sebelum Radit memiliki wanita lain selain dirinya, berbeda sekarang bukanlah Zahira saja yang menginginkan kehadirannya, ada wanita dan ada calon anak mereka yang pasti butuh Ayah.
"Apa melamun itu menyenangkan?"
Zahira menoleh, ia tahu akan ada pengganggu.
"Kasihan sekali bayi kesayanganku 18 tahun yang lalu sedang patah hati." Anggara ikut duduk bersama gadis itu.
Zahira masih tak bicara, tapi menatap Anggara dengan tak berkedip.
"Kenapa menatapku seperti itu, hem?" Anggara menaikan sedikit kedua alisnya.
"Benar aku kesayanganmu?" tanya Zahira ingin tahu.
"Tentu saja, sampai aku membelikan Vila ini untukmu setelah kau lahir ke dunia ini." jawabnya sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Sekarang tidak lagi?" tanya Zahira polos.
Anggara menoleh.
"Buktinya kau sering sekali marah padaku." Zahira menggerutu
"Kau sudah besar, sudah bersuami, apa aku harus memeluk, mencium dan menggendongmu saat seperti masih bayi?" ucap Anggara dengan suara beratnya.
Zahira menatap lembut pada pria itu, dia sosok yang dewasa, tampan dan mapan. Wajahnya tampak teduh mendamaikan hati, Zahira jadi berpikir bahwa menikah dengan Radit adalah kesalahan yang terlalu cepat, jika saja dia bisa mengulang waktu itu, mungkin benar lebih baik menikah dengan orang yang sudah matang akan membuatnya jauh dari rasa sakit ini.
"Kenapa?" tanya Anggara pelan.
"Tidak." Zahira menunduk.
"Apa rasanya masih sakit sekali?" tanya Anggara.
"Tentu saja, bahkan hatiku ini sudah terlalu sakit sehingga menghilangkan cintaku padanya."
Benar, dia butuh teman bicara.
"Dia tidak sepenuhnya bersalah Zahira, dia juga masih punya hak untuk membela diri." Anggara menjelaskan.
"Aku tahu, anak buahku tahu semuanya hanya dalam waktu sehari." jawabnya enteng.
"Tapi Radit mengharapkan anak itu, dan dia rela membohongi aku demi mereka. Artinya aku bukan lagi satu-satunya di hati Radit, dia sudah membagi hatinya." Zahira mencoba menjelaskan.
"Aku tidak bisa memberikan saran apapun, aku bahkan belum pernah menikah, tapi aku pernah menjadi militer dan ikut berperang." jelas Anggara.
"Apa hubungannya?" Zahira menatap pria itu tak percaya, sungguh kata-katanya membuat gadis itu semakin heran.
"Tentu saja ada, kau tahu posisimu itu sama seperti saat aku sedang bertugas. Jika sedang ada di Medan pertempuran hanya ada dua kemungkinan. Tinggal kau pilih saja, bertahan hingga mati, atau mengalah dan pergi, tentu saja di tempat lain masih banyak peluang untuk menang. Mengalahkan musuh tak harus selalu dari depan, walaupun itu sikap kesatria, dari samping juga masih tak mengurangi sikap satria, asal bukan dari belakang, itu pengecut!" jelasnya panjang sekali.
"Seperti Radit." jawabnya dengan wajah kesal.
"Jika kau masih mencintainya kau masih punya waktu untuk bertahan, dia suamimu kau berhak mempertahankannya. Tapi jika sebaliknya juga terserah, ikuti kata hatimu." Anggara memperhatikan gadis itu cantik sekali. Lesung pipi yang dulu membuat Anggara iri pada ayahnya kini menurun pada Zahira, dan saat ini dia juga mengaguminya. Tidak munafik, ia menginginkan Zahira segera berpisah, tentu ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadikannya istri.
"Tapi hebat sekali wanita itu, kami sudah menikah berbulan-bulan tapi aku tak kunjung hamil juga. Mengapa dengannya malah cepat sekali?" Zahira masih memikirkan hal itu.
__ADS_1
"Kembali lagi pada pengaturan yang maha kuasa. Dia yang menguasai segalanya Zahira." Anggara mencoba menenangkan gadis itu.
"Besok aku akan pulang." ucap Zahira tiba-tiba.
"Bersamaku." jawab Anggara dengan suara beratnya.
Zahira menoleh, mengapa suara itu terdengar lembut sekali? Zahira merasa pria itu akan selalu melindunginya.
"Tidak punya pilihan." jawabnya menopang dagu.
"Apa kau tidak mau?" tanya Anggara tersenyum, ia sungguh gemas sekali melihat wanita cantik dan sedikit berani, berbeda sekali dengan ibunya yang merupakan sosok yang lembut, halus dan sopan.
"Aku hanya berpikir nanti malah menimbulkan fitnah, aku istri orang dan kau pria dewasa. Lain jika aku sudah berpisah." jawabnya dengan dengan suara yang halus.
"Aku tidak takut dengan fitnah apapun, tapi demi dirimu maka aku harus memesankan taksi dan membiarkanmu pulang sendiri." Anggara tertawa, pria itu beranjak dari duduknya.
"Itu lebih baik." jawab Zahira tersenyum, namun gadis itu masih seperti enggan berpindah, masih betah dalam lamunan tak berguna.
"Masuklah, hari sudah malam." perintahnya.
"Aku masih ingin di luar." Zahira tak beranjak.
"Di luar dingin, kau bisa sakit! Aku tidak mau merawatmu." Anggara ingin sekali memaksanya.
"Nanti saja, biar aku sendirian tidak apa-apa." jawabnya masih keras kepala.
"Masuk atau ku gendong?" Anggara sudah tidak tahan dengan gadis keras kepala.
"Kenapa kau marah?"
"Oh Baby, aku akan dengan senang hati menggendong dan menggigitmu." Anggara menarik lengan bajunya dan mendekat seakan bersiap untuk menggendong Zahira.
"Tidak, tidak! Aku akan masuk sendiri." Zahira berdiri dengan tergesa-gesa hingga sendal jepit yang di pakainya tertinggal satu. Gadis itu segera menghilang dari hadapan Anggara, membanting pintu dengan terburu-buru.
Anggara tersenyum menang, pria itu tampak lega bisa menakut-nakuti gadis muda yang membuatnya selalu berpikir.
"Ada-ada saja, yang seperti itu sudah menikah dan ingin punya anak? Sayang sekali suaminya adalah pria yang bodoh."
__ADS_1
Dia tidak sadar, tadi siang Zahira juga sudah membuat dirinya menjadi pria bodoh.