Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
200. Masih istri Anggara


__ADS_3

"Dua bulan sudah kau pergi meninggalkan aku Mas, cinta dan rinduku tak sedikitpun berkurang." Zahira menarik nafas, menatap banyak foto di layar ponselnya. "Hari ini, kandunganku genap tiga bulan Mas, waktu dimana ditiupkan ruh di dalamnya. Sebentar lagi dia akan bergerak, dia akan menyapa di setiap pagi dan sebelum tidur." Mata beningnya mengeluarkan air mata, sesak itu kembali hadir.


"Terkadang aku berharap ini hanyalah mimpi, di ketika aku bangun tanganku masih memeluk tubuhmu. Tapi malah sebaliknya Mas, di saat bangun aku hanya mendapati ruang kosong yang dingin." Zahira mengelus wajah Anggara di dalam ponsel itu.


"Kau sering sekali mengatakan, jika hidup ini adalah mimpi, dan kita akan terbangun ketika kita sudah mati. Artinya aku masih tidur dan kau sudah bangun lebih dulu, seperti sholat subuh yang selalu kau lakukan lebih awal di saat aku masih tertidur nyenyak karena pelukanmu."


"Mas! Kapan kau menjemputku? Aku rindu.....!"


Tertidur dengan air mata masih mengalir, membasahi bantal untuk kesekian kalinya. Lelah karena menangis, lelah karena merindu, lelah karena menahan rasa sedih itu.


Beberapa jam terlelap dengan tarikan nafas yang mulai normal setelah sesuatu yang menyumbat di hidungnya mencair. Namun kemudian kembali terbangun ketika orang sudah terlelap semuanya. Kembali hatinya meratap, malam yang sepi, sunyi, menciutkan rasa hingga tandas ke titik terendah. Menghilangkan bahagia ketika mengingat tawa dan nafas mewangi itu kini telah tiada. Hanya bisa menahan, berusaha bertahan kala rindu itu datang mencekik.


"Mas...!" ucapnya pelan, antara tidur dan sadar, tangisnya kembali terdengar. Berlanjut


hingga lama, tentu tak ada seorangpun mendengar.


Dalam tidurpun rindu itu selalu hidup.......


Cintanya selalu menyala.......


Menerangi kegelapan jiwa, dengan bayang-bayang kasih sayang yang terbawa hingga maut menjemput.


...***...


"Mau kerja Non?" Bibi mendekati Zahira yang sedang berdiri di ruang keluarga, pagi itu Zahira mengenakan jas kesayangan suaminya, jas abu-abu sebagai penutup gaun panjang berwarna putih.


"Iya Bi." jawabnya menoleh dengan senyum manis sekali.


"Cantik!" ucap Bibi ketika melihat pakaian putih Zahira berpadu dengan jas berwarna abu-abu.


Zahira menunduk tersenyum, menatap bagaimana jas itu menjadi kenangan termanis di saat mereka bertemu di puncak kala itu. Saat Anggara mengatainya sebagai pencuri jeruk di kebun milik suaminya. Zahira mengulurkan tangannya ke dalam saku jas bagian depan, di sana dia menyimpan jeruk matang hingga ada satu yang pecah dan meninggalkan noda di bagian dalam sakunya.

__ADS_1


"Aku sangat rindu padanya Bi, ini pakaian yang selalu membuat dia tampan dan gagah. Aku masih bisa merasakan hangatnya pelukan Mas Anggara." Zahira beralih pada foto di dinding ruangan besar itu. Foto ketika mereka baru saja menikah, Anggara memeluknya erat, Zahira tampak bahagia tertawa hingga mengernyitkan hidungnya.


"Bibi yakin, Mas Anggara selalu bersama Non Zahira, cintanya, rindunya, dan doanya." jawab Bibi mengelus bahu Zahira.


"Aku harus kuat, demi anak-anak. Demi bayi yang masih di dalam sini." Zahira mengelus perutnya yang tampak masih rata. "Dan untuk menghukum wanita yang sudah memisahkan aku dengan suamiku." sambungnya lagi.


"Yang terpenting, jangan sampai membahayakan diri sendiri. Biarkan Allah menjalankan rencananya, mungkin ada yang indah setelah duka yang dalam ini. Percayalah, orang baik akan selalu dikelilingi orang-orang baik pula, Non tidak sendiri." jawab Bibi.


"Salah satunya Bibi." ucap Zahira kemudian memeluk Bibi.


"Terimakasih Non, kalau saja istri Mas Anggara bukan Non Zahira, mungkin Bibi sudah pulang kampung saat ini. Bibi sudah sepuh dan tidak berguna." ungkap Bibi sedih.


"Bibi adalah ibu untuk suamiku, tentu aku juga menyayangi Bibi. Terimakasih sudah menjaga suamiku dan mendidiknya dengan kasih sayang, sehingga membentuk pribadi yang penuh kasih sayang pula, sungguh aku mencintainya Bibi, aku sangat jatuh cinta pada putramu."


Bibi menangis tersedu-sedu kali ini, ia merindukan Anggara, tapi juga menemukan ketulusan dari istri Anggara. Hari dalam kasih sayang, mereka sama-sama kehilangan.


"Selamat pagi Om?" Zahira menyapa Ricky ketika akan masuk ke ruangannya.


"Apa kegiatanku hari ini?" tanya Zahira, menoleh ruangan Lili tapi sepertinya wanita 30 tahun itu belum datang.


"Tidak ada, hanya menunggu mungkin ada laporan atau klien kita yang datang." Ricky melihat jam di pergelangan tangannya.


"Om!" seseorang datang dengan tergesa-gesa, namun membuat Zahira membuang muka.


"Radit! Ada apa pagi-pagi sekali kau sudah datang kemari?" Ricky menatap heran.


"Aku butuh bicara denganmu." jawab Radit, matanya melirik wanita cantik yang pura-pura tak mendengar. Sudah pasti Radit terfokus dengan jas yang di pakainya, iri, cemburu, kesal, entahlah!


"Ayo!" Ricky mengajak Radit masuk ke ruangannya.


"Bisa tidak bicara di luar saja, tidak perlu datang ke kantor ini! Aku tidak suka." ucap Zahira dengan wajah tak bersahabat.

__ADS_1


"Hanya sebentar Zahira, aku tidak akan mengganggumu." rayu Radit dengan suara pelan, jika saja itu Merry, pastilah sudah meleleh.


"Om!" Zahira menatap ke tajam kepada Ricky.


Tentu saja pria itu serba salah, turun menuju lantai dasar butuh waktu yang tidak sebentar, belum lagi harus keluar dan kemudian kembali lagi.


"Hanya sebentar aku-"


Zahira berlalu menuju ruangannya, ia tidak mau mendengarkan Radit.


"Zahira!" Radit mengejar hingga ke ruangan pribadinya, Zahira menutup pintu dengan segera namun Radit menahan hingga terjadi dorong-dorongan.


"Pergi!" teriak Zahira dari dalam, namun tak di dengarkan Radit, pria muda itu malah semakin mendorong dan menahan pintu dengan tubuhnya, hingga kemudian berhasil masuk.


"Kau!" Zahira kesal sekali, ia mendorong tubuh gagah Radit dan memilih keluar.


"Mau kemana?" Radit menutup dan mengunci pintunya.


"Jangan bercanda Radit! Aku tidak suka berada dalam ruangan ini bersamamu, kau bukan siapa-siapaku!" kesal Zahira, suaranya meninggi penuh emosi.


"Oh ya? Kalau begitu katakan padaku mengapa sampai harus membenciku seperti ini?" Radit menyandar di pintu.


"Melihatmu hanya membuat hatiku sakit, karena kau suamiku meninggal!" mata beningnya kini terlihat menantang.


"Bukan aku Zahira! Sejak kapan kau sudah tidak percaya pada takdir Allah? Semua yang terjadi pasti dengan alasan, bahkan daun jatuh dari pohonnya atas kehendak Allah." Radit menatap wajah Zahira dengan penuh kasih sayang.


"Aku tidak mau mengambil resiko, lagi pula kau sudah dekat dengan mantan istrimu, itu sudah cukup dan jauhi aku!" tegas Zahira kembali menyingkirkan tubuh Radit.


"Aku tidak bisa!" Radit memegang tangan Zahira, dan meraihnya agar semakin dekat.


"Jangan macam-macam Radit! Aku masih istri Anggara!"

__ADS_1


__ADS_2