Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
228. Tak perlu ada Reza


__ADS_3

"Aku tidak menyukainya!" Zahira menoleh hingga wajah mereka sangat dekat, bahkan ujung kerudung Zahira hampir menyentuh hidung Reza Mahendra.


"Benarkah?" tanya Reza lagi, suara beratnya menghangatkan telinga.


Tak hanya suara dan senyumnya yang mendadak mengganggu jiwa yang sedang merindu, tapi sorot mata mesra penuh cinta itu menjadi kegelisahan tersendiri saat ini. Reza tak akan menyerah hanya karena Zahira masih mencintai Anggara saja, dia malah semakin gencar menunjukkan perasaannya yang semakin hari semakin sulit di kendalikan olehnya sendiri.


"Aku mau membeli susu." Zahira mendorong bahu Reza agar menyingkir.


Bukannya tersinggung dia malah tersenyum senang bahunya di sentuh Zahira. Mengikuti Zahira menuju rak susu, membiarkan wanita cantik itu memilih, Reza Mahendra merasa sudah menjadi suaminya. (Dia sedang berkhayal).


"Strawberry." gumam Zahira mencari-cari susu rasa Strawbery, mata indahnya menelusuri barisan kotak susu.


Reza meraih urutan paling atas dan memberikannya kepada Zahira, lalu mengambil rasa yang lain juga dan mengisi keranjang belanja.


"Aku tidak suka yang ini." Zahira mengambil rasa coklat dan memberikan kepada Reza.


"Ini rasa coklat Sayang, enak di minum saat malam hari." ucap Reza.


"Kalau begitu untukmu saja." Zahira mendorong keranjangnya.


Reza menatap kotak susu dengan bingung, mana mungkin dia meminum susu hamil. Reza meletakkan kembali di rak susu dan menyusul Zahira.


"Kau suka es krim?" Reza melihat ada eskrim juga di sudut ruangan depan. Pria itu mengambil Dua buah rasa strawberry dan coklat.


"Tidak." jawab Zahira tapi tak membuat Reza menyerah, tetap membawa kotak es krim di tangannya.


Sejenak membiarkan Zahira berkeliling, Reza membeli banyak makanan ringan dan langsung memasukkan ke dalam mobil.


"Kau membeli apa?" tanya Zahira melihat Reza sedang membayar di kasir.


"Hanya makanan ringan." Reza meraih keranjang Zahira dan meminta pegawai toko mengemasnya juga.


"Berapa?" Zahira mengeluarkan dompet dari tasnya.


"Sudah, sekalian dengan yang tadi." Reza kembali meminta kasir menggesek kartu miliknya.


"Itu tidak perlu." Zahira melakukan protes.


"Hanya makanan Sayang, sekantong berlian saja aku akan berikan untukmu." ucapnya merayu lagi.


"Apa tidak rugi, kau akan miskin jika memberikannya padaku." Zahira tertawa sedikit menanggapi candaan Reza.


"Aku tidak akan miskin hanya karena sekantong berlian, malah akan sangat rugi jika kau yang menjauh dariku." Tersenyum dengan kantong belanjaan Zahira di tangannya.

__ADS_1


"Sini biar aku saja." Zahira meraih kantong plastik belanjaan.


"Ibu hamil tidak boleh membawa yang berat-berat, kerjamu hanya bersantai, tidur, makan, tidak boleh banyak pikiran." jelas Reza terlihat sangat mengerti.


"Kau paham sekali, aku curiga kau pernah menikah." Zahira menatap wajah pria disampingnya.


Reza tertawa lebar mendengar dugaan Zahira, bahkan terdengar lucu saat wanita cantik itu mengatakannya. "Aku banyak belajar dari Amelia, belakangan ini dia sering berceramah tentang ibu hamil." jelasnya lagi.


Zahira tertawa sedikit, benar sekali jika Dokter Amelia itu sangat baik. Dia adalah teman Anggara juga, atau mungkin mereka berteman karena Reza adalah sepenuhnya.


"Mau makan siang di mana?" Reza membukakan pintu untuk Zahira.


"Aku sampai lupa, harusnya akulah yang mengajakmu makan." Zahira masuk lebih dulu.


"Aku makan es krim saja." Reza membuka kotak es krim sambil menunggu Jia masih di dalam sana.


"Kau seperti Sadewa, suka cokelat. Seperti Mas Anggara." lirihnya menunduk.


Reza meliriknya, menyendok es krim lalu menyodorkan pada bibir mungil Zahira.


"Tidak mau." Zahira menghindar.


"Sedikit saja. Karena coklat itu menenangkan, hangat dan nikmat." Reza tak menyerah, masih dengan sendok kecil itu di depan wajah Zahira.


"Emmm." Zahira menutup mata saat es krim itu menyentuh lidahnya.


"Enak?" Reza menunggu jawaban, tentu ia ingin tahu seperti apa pendapat wanita cantik itu.


"Manis." jawabnya menyandar, dan mengelap bibirnya dengan tangan.


"Tentu saja manis, ini pakai gula." Reza mengulum sendok sisa Zahira.


"Itu bekasku." Zahira menunjuk sendok yang ada di dalam mulut Reza.


"Manis." ucapnya menatap Zahira, tersenyum sambil menikmati sisa es krim di lidahnya.


Zahira ikut tertawa, menggeleng kali ini. Ada-ada saja hal yang dilakukan Reza untuk membuatnya tertawa, bahkan hal konyol yang terkadang sengaja dilakukan dengan paksa pada akhirnya membuat Zahira ikut dalam gurauannya.


"Memang manis, sepertimu." ungkapnya masih tersenyum lebar memamerkan gigi putih berbaris rapi.


Tak lama setelahnya Jia sudah datang membawa buah yang sengaja di belinya sendiri.


"Kau duduklah bersama Zahira, biar aku yang menyetir." Reza keluar memutar menuju pintu depan, sementara Jia masuk duduk di samping Zahira.

__ADS_1


Tak ambil pusing, tapi sedikit heran mengapa pria penggoda itu memilih menyetir.


"Aku ingin memandang wajahmu dari sini." Reza menunjuk kaca depan, seakan tahu apa yang sedang di pikirkan Zahira, senyum dan lirikan matanya tak pernah beralih, sebentar kemudian akan kembali menatap wajah ayu di belakangnya, dengan sesekali bertemu pandang dan membuat sudut bibir Reza tertarik bahagia.


Empat puluh menit di perjalanan, mereka sudah tiba di kediaman Anggara. Seperti biasa Jia turun lebih dulu lalu Zahira yang sudah tentu di bukakan pintu oleh Reza Mahendra.


"Sayang! Mama mencarimu." Ayu segera mendekati Zahira. Ia tampak khawatir apalagi Zahira pergi cukup lama.


"Aku ke pemakaman Mama, dan langsung ke kantor polisi setelahnya." jawab Zahira lembut, memeluk dan mencium Ayu.


"Mama khawatir, kau belum sembuh." ucap Ayu lagi.


"Kau sakit?" tanya Reza tak mengerti.


"Ah, luka memar di bagian kaki." jelas Ayu kemudian meraih bahu Zahira.


"Maaf, aku tidak tahu jika kau sedang terluka. Seandainya aku tahu aku tak akan mengizinkanmu pergi ke kantor polisi hari ini." Reza menatap wajah Zahira penuh penyesalan.


"Hanya sedikit." jawab Zahira lagi.


Dari dalam rumah mewah itu, tampak Radit keluar dengan wajah dingin. Ujung matanya melirik Zahira lalu Reza, tak bicara namun sikapnya jelas menunjukkan jika dia sedang tidak suka.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Reza paham keadaan tidak sedang baik-baik saja. Aura pertengkaran kental tercium di hidung mancung miliknya, terlebih lagi mata sipit Radit terlihat menyalakan api cemburu.


"Terimakasih banyak." ucapan lembut Zahira membuat pria itu tersenyum.


"Tidak perlu." jawabnya semakin tersenyum lebar. "Mari Nyonya." Reza berbalik enggan menoleh, karena menatap wajah cantik pemilik rumah itu akan membuatnya malas pulang.


"Ayo Sayang!" Ayu mengajak Zahira masuk.


Tapi Radit masih berdiri di luar tanpa bicara, hatinya sedang nyeri dipukul sebuah kenyataan bahwa Zahira lebih memilih Reza dari pada dirinya. Harusnya tak perlu ada Reza, karena Radit ada di sana sejak semalam.


"Apakah aku harus kembali mengalah?" lirihnya sedih.


*


*


*


Jangan lupa, like,💗, dan Votenya ya.. Terimakasih masih setia membaca.


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2