
"Aku akan menikah, hanya sedang menunggu seseorang." ucapnya berusaha terlihat santai.
"Ya. Lagi pula kau sudah terlalu lama sendirian." Zahira masih menatap kesal.
"Atau jika kau punya kenalan yang sudah punya anak, bahkan beranak lima aku tak keberatan. Agar rumahku di penuhi dengan keramaian anak-anak, dan Papa dan Mama tidak akan kesepian." jawabnya.
Radit beranjak dari duduknya lalu keluar tanpa menoleh Zahira lagi.
"Ada apa dengannya?" Zahira menatap bingung. "Lagi pula mengapa harus seorang janda, bukankah banyak gadis yang menyukainya, bahkan dia masih terlihat seperti bujangan yang belum pernah menikah." Zahira masih menatap pintu yang sudah tertutup kembali.
Sore hari kemudian.
"Wow, sepupuku datang berkunjung, biasanya aku yang lebih dulu datang ke rumahmu." Akbar menyambut kedatangan Radit di rumahnya.
"Aku hanya ingin melihatmu, apakah setelah pulang kau terlihat lebih tampan atau lebih tua." Radit tersenyum mengejek.
"Aku masih muda." kesal Akbar.
"Sebaiknya kau pastikan kelanjutan kisah cintamu dengan gadis kurus itu, jika tidak kau akan benar-benar menjadi perjaka tua." ujar Radit lagi.
"Aku memang akan memastikannya, dan tiba-tiba kau datang mengganggu. Kau tahu, aku akan pergi ke rumah Zahira. Apa kau mau ikut?" tanya Akbar terlihat bersemangat.
Tapi tidak untuk Radit, pria muda itu menarik nafas dan mendongakkan kepalanya di sofa.
"Mau ikut atau tidak?" tanya Akbar lagi menatap heran.
"Tidak." jawabnya masih mendongak dengan memejamkan mata.
"Kenapa? Apa kau sudah menyerah?" tanya Akbar lagi.
"Entahlah, rasanya dia lebih nyaman bersama orang lain daripada aku. Mau tidak mau aku harus membiarkannya, lagi pula bersamaku belum tentu dia bahagia."
"Kau sedang patah hati." Akbar tertawa kecil.
"Sedikit." jawabnya masih asyik memejamkan mata.
"Ya sudah aku harus pergi, aku tidak mau menjadi perjaka tua karena kau ada di sini." Akbar beranjak meraih kunci di atas meja.
"Ya, lain kali aku akan ikut bersamamu." jawab Radit tak juga beranjak.
"Atau lain kali, dia yang akan datang padamu." Akbar sedikit menggodanya.
__ADS_1
"Aku rasa itu hanyalah mimpi." jawab Radit tersenyum remeh.
Sementara Zahira baru saja tiba di rumahnya, pertama kali di lihatnya adalah pemandangan yang selalu saja menyembuhkan lelah, yaitu anak-anak yang selalu asyik bermain di jam-jam sore sebelum mandi.
"Ibu!" panggil mereka bersamaan, wajah-wajah halus menggemaskan itu mendekati Zahira dengan berlari, memeluk erat dan meminta dicium kedua belah pipi mereka bergantian.
"Kau sudah kelas Dua Sayang, apakah tidak malu memeluk ibu seperti masih balita?" Mereka berdua memeluk sambil bergelayut manja, sesekali tubuh kecil ibunya terhuyung karena pelukan mereka yang sangat erat.
"Tidak, karena kami hanya punya Ibu." jawab Satria dengan wajah polosnya, masih tetap memeluk dan menciumi pipi ibunya yang kini duduk setengah berlutut.
Zahira tersenyum, tulus namun tersimpan kesedihan mendengarnya. Benar sekali jika mereka hanya punya Zahira.
"Ayah sudah ada di surga Sayang." ucap Zahira berusaha untuk tidak menangis.
Ya, sedih dan rindu tapi tak selalu harus menangis. Ada kalanya merasa bangga memiliki rindu kepadamu Anggara, walaupun dia sudah tak ada.
"Surga itu ada di mana?" tanya Sadewa menatap Zahira dengan bola mata cokelat seperti Anggara.
"Di sana." Zahira menunjuk langit yang biru, kebetulan di sore itu awan berbentuk indah, berbaris rapi dan separuhnya membentuk lekukan tak biasa.
"Ayah melihat kita." Satria menatap jauh ke arah telunjuk ibunya.
"Dan yang paling penting kita harus selalu menjaga Ibu." ucap Sadewa menoleh Satria yang juga tersenyum yakin. Mereka memang memiliki dua jiwa, tapi pada hakikatnya hati mereka satu.
Suara deru mobil memasuki halaman rumah itu. Membuat ketiga orang tersebut menoleh, melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam Akbar, akhirnya kau datang juga." Zahira berdiri, membiarkan kedua jagoannya ikut mendekati Akbar.
"Kalian tampan sekali!" puji Akbar kepada kedua putra Anggara.
"Tentu saja." jawab Satria dengan wajah sombong.
"Kau tidak memujiku?" Akbar kesal sekali dengan sikap sombong Satria.
"Jika kau ingin di sebut tampan bersihkan dulu bulu-bulu di wajahmu." Satria menunjuk wajah Akbar, membuat pria itu memegang wajahnya dengan melirik semua orang yang ada di halaman, termasuk Jia yang pura-pura tak mendengar apapun.
"Itu benar." Zahira terkekeh geli.
"Kau tahu, ini ku sengaja karena aku sedang membunyikan ketampanan ku." jawabnya mencari alasan.
__ADS_1
"Aku tidak percaya." anak-anak tertawa juga yang lainnya.
"Sudah Sayang, Akbar sedang ada keperluan lainnya." ucap Zahira meminta kedua putranya berhenti mengatai Akbar.
Suasana menyenangkan, hangat dan semuanya tampak seperti keluarga. Tentu Jia betah di sana, berbeda jauh dengan saat dulu Anggara masih sendiri, semuanya kaku dan dingin, mengingat pria tampan itu jarang bicara.
"Ayo masuk!" Zahira meminta Akbar mengikutinya.
"Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Zahira ketika sudah di dalam rumahnya.
"Semuanya baik, hanya mereka masih di luar negeri." jawabnya duduk di sofa.
"Kapan kau melamar Jia?" tanya Zahira tanpa basa-basi. Dia tahu sekali jika kedatangan Akbar hanya untuk bodyguardnya.
"Ya, aku memang ingin melamarnya. Aku sudah tidak mungkin menunggunya terlalu lama." Akbar tersenyum sedikit.
"Aku harap kau dan Jia bisa bersama. Kau tahu bagiku dia sudah seperti saudara, dengan bersamamu aku tak akan kehilangan." Zahira berbicara serius kali ini.
"Ya." Akbar mengangguk. "Lalu kau sendiri?" tanya Akbar mengangkat alisnya.
"Aku?" Zahira menunjuk dirinya sendiri, lalu tertawa. "Aku sudah sangat bahagia memiliki kedua anakku." jawabnya kemudian.
"Mereka butuh sosok ayah Zahira?" ucap Akbar, malah semakin membuat Zahira tertawa.
"Ada banyak anak-anak di luar sana yang besar tanpa ayah, lagi pula mereka sudah paham ayah mereka sudah tak ada." Zahira lebih tenang.
"Aku hanya berpikir, suatu saat mereka butuh sosok ayah." jawab Akbar menahan ucapannya. Sepertinya belum ada celah untuk membujuk Zahira untuk berbaikan dengan Radit.
"Silahkan kau ajak Jia berbicara." Zahira menunjuk Jia yang sudah duduk istirahat, karena anak-anak sudah mandi bersama suster.
"Ya, terimakasih." ucapnya. Kemudian beranjak dari duduknya.
Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya mereka sedang berencana akan keluar, tampak dari gelagat keduanya melihat jam. Zahira pura-pura tidak tahu, membiarkan keduanya menyelesaikan urusan perasaan yang tak kunjung selesai setelah bertahun-tahun.
Hari-hari berlalu dengan cepat, tak terasa sudah lebih satu Minggu kepergian Reza Mahendra, namun belum ada kabar jika pria tersebut akan kembali.
"Nyonya!" suara salah satu bodyguard yang berjaga di depan menghampiri Zahira yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Ya?" Zahira menatapnya dengan heran.
"Ada yang datang nyonya, seorang gadis dan mengaku saudara anda."
__ADS_1