
Radit turun dari mobilnya, ia mendekat di gerbang rumah Anggara. "Pak tolong buka pintunya." Radit meminta seorang bodyguard yang berdiri tegak.
"Maaf Tuan Radit, kami tidak boleh membuka gerbang untuk Anda." jawabnya dengan wajah datar.
Radit menautkan alisnya, bagaimana mungkin mereka tak membukakan pintu padahal selama ini ia bebas keluar masuk rumah itu.
"Siapa yang melarangku masuk?" tanya Radit tak habis pikir.
Mereka saling memandang satu sama lainnya. "Hanya untuk sementara Tuan." ucap bodyguard itu lagi tak menegaskan siapa yang melarang.
Radit menarik nafas, ia berbalik masuk ke dalam mobilnya, dia tidak tahu apa penyebabnya sampai Zahira melarang Radit masuk ke dalam rumahnya, bahkan terakhir kali mereka bertemu semuanya baik-baik saja, lebih baik dari semua suasana yang pernah ada setelah mereka bercerai.
Radit tak mau membuat keributan di rumah itu, lagi pula banyak orang di sana, Zahira tidak sendiri, pikir Radit pada akhirnya ia memilih pulang ke rumah.
"Radit, kau dari mana saja?" Ayu melihat raut wajah kusut putranya.
"Aku dari rumah Zahira Mama, tapi tidak berhasil bertemu dengannya. Aku tidak bisa masuk." jawabnya kesal.
"Tidak bisa masuk bagaimana?" Ayu menatap heran.
"Aku tidak tahu, aku dilarang masuk. Sedangkan di dalam ada Reza Mahendra." jawab Radit menyandar.
"Kalian bertengkar lagi?" tanya Ayu menyelidik, putranya memang suka menggoda Zahira.
"Tidak Ma, bahkan kami sedang baik-baik saja." Radit meyakinkan Ayu.
"Sudahlah, besok Papa akan menjemputnya. Dia akan tinggal di sini beberapa hari bukan, lusa akhir pekan dan kita memiliki banyak waktu." David menyahut, sambil membersihkan sisa wudhu di sekitar dahinya.
"Ide bagus, pastikan dia tak mau pulang lagi." Radit tersenyum penuh arti.
"Jangan macam-macam, dia bisa merajuk." Ayu mendelik tajam Raditya.
"Tidak, aku hanya sedang membuatnya nyaman." Radit tersenyum lebar.
Meskipun Ayu juga memiliki keinginan yang sama, tapi perasaan Zahira tetap harus dijaga, mengingat semua yang sudah terlewati dia sedikit sensitif jika sudah bersinggungan dengan Radit.
...***...
__ADS_1
Seperti rencana, sore itu David menjemput Zahira di kantornya bersama anak-anak yang sudah ada di rumahnya terlebih dahulu sejak pulang sekolah. Tak boleh kalah cepat dengan Reza, David turun tangan untuk mempertahankan putrinya, tentu saja hati David ingin Zahira selalu bersamanya, mungkin masih ada jodoh diantara keduanya, Radit dan Zahira.
"Papa!" Zahira sedikit terkejut dengan kehadiran David di kantornya, bahkan sudah ada di ruangannya bersama anak-anak.
"Kami sengaja datang untuk menjemputmu, kau sudah berjanji akan menginap di rumah Papa jika akhir pekan." David masuk, sekaligus melihat-lihat semua sisi ruangan Zahira, dulu dia sering datang saat Anggara masih hidup.
"Tentu saja aku tidak lupa Papa." Zahira memeluk kedua putranya.
"Apa itu Sayang?" David menunjuk berkas bertuliskan nama Radit putranya.
"Oh, ini tersimpan di dalam, tapi lupa mengembalikan. Aku tidak tahu apa isinya, hanya berdekatan dengan akta ceraiku saat itu." ucap Zahira sedikit sungkan menyebutkan akta cerai.
"Ya, mungkin berisikan bukti atau apa semacamnya. Suamimu akan mudah mendapat apapun yang dia mau. Termasuk menemukan putri Papa, tanpa dirinya mungkin Papa akan benar-benar kehilangan dirimu Nak." David mengenang masa sedih itu.
Mata bening Zahira kembali berkaca-kaca, mengigat betapa sedihnya saat itu.
"Kau tahu, Papa terkena serangan jantung, Radit depresi dan di rawat di Malaysia saat itu, dia tidak sanggup menanggung beban atas kehilangan dirimu, sama seperti Papa. Papa juga ikut di rawat sebentar di rumah sakit Penang." cerita David mengenang masa menyedihkan.
"Radit?" tanya Zahira. Dia sama sekali tidak tahu jika Radit pernah mengalami depresi.
"Ya." David menatap heran.
"Oh, Papa pikir kau sudah tahu Nak." David merasa sedikit bersalah.
"Aku tidak tahu." jawabnya dengan wajah sedih.
"Ah, sudahlah. Ayo kita pulang." David tak mau bercerita tentang kesedihan yang sudah berlalu, baginya yang terpenting sekarang mereka sudah bersama.
Zahira mengikuti ketiga orang pria tersayangnya memasuki lift.
Hingga masuk ke dalam mobil ia masih memikirkan semua yang baru saja di dengarnya. Mendadak ia ingin tahu banyak tentang Radit, ternyata kehidupan pria itupun tak semudah yang di lihat. Zahira selalu berpikir jika Radit lebih beruntung darinya.
"Sayang!" panggil David melihat Zahira melamun duduk di belakangnya.
"Iya." Zahira terkejut dengan panggilan David, tak cuma David tapi kedua anaknya juga sedang menatapnya.
"Ibu melamun?" tanya Satria yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Ah, Ibu,, cuma lelah Sayang." jawab Zahira sedikit salah tingkah.
Hingga kemudian tiba di rumah David, ia turun dengan masih banyak berpikir. Masuk rumah itu tanpa bicara, membiarkan Satria dan Sadewa bermain bersama asisten rumah tangga Ayu. Dia menuju lantai dua sengaja ingin ke kamarnya terlebih dahulu.
Sedikit melirik kamar yang ia lewati masih tertutup rapat, sepertinya Radit belum pulang. Ia masuk ke kamarnya, mandi dan sholat seperti biasa, dulu saat masih belum menikah pun sama seperti itu, tak ada yang berubah termasuk suasana rumah itu. Yang berubah hanyalah kamar Radit, dulu ada di bawah dan sekarang di atas tak jauh dari kamarnya.
Sholat yang hampir tak berjarak, selepas Maghrib Zahira baru keluar dari kamarnya. Melihat anak-anak dan makan bersama, di lantai bawah sudah ramai suara kedua putranya.
"Sayang kecilkan suaramu." teriak Zahira ketika menuruni anak tangga, menegur kedua putranya yang terlalu heboh bermain.
"Biarkan saja, Mama suka mendengarnya." Ayu mendekati Zahira duduk di ruang keluarga.
"Apakah Radit belum pulang Mama?" tanya Zahira menoleh Ayu.
Ayu tersenyum senang mendengarnya. "Belum Sayang, Mama tidak tahu dia lembur di akhir pekan seperti ini, mungkin pekerjaannya sedikit menumpuk karena kemarin ia ada urusan lain, tidak bekerja." jelas Ayu.
"Oh." Zahira kembali fokus melihat anak-anaknya. Ia tidak menyadari jika Ayu sedang menatapnya penuh harapan.
Mungkin terlihat aneh bagi Ayu malam itu, Zahira tampak beberapa kali melihat pintu masuk, mungkin dia benar-benar menunggu Radit.
Setelah pukul Delapan barulah deru mobil berhenti di depan rumah itu, sepertinya Radit baru saja tiba.
Pria itu masuk dengan senyum mengembang, wajahnya semakin tampan dengan mendengar teriakan anak-anak, yakin pasti ada ibunya.
"Hai Sayang." Radit menyapa kedua jagoannya.
"Paman." mereka mendekat dan mengajak tos bergantian.
"Apakah kalian sudah makan?" tanya Radit hanya memulai obrolan.
"Sudah." mereka kembali sibuk dengan mainan mereka.
Radit menatap seluruh ruangan lantai dasar tapi tak menemukan Zahira. Dia langsung menuju lantai dua menuju kamarnya, berharap Zahira juga ada di sana.
Benar saja, Zahira sedang berdiri di balkon tempat biasa. Radit tersenyum senang, perlahan mendekati Zahira.
"Radit." Zahira menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat.
__ADS_1
"Mengapa sendiri di sini?" tanya Radit meletakkan tasnya di lantai dinding kamarnya.
"Aku sengaja menunggumu."