Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
145. Artinya aku


__ADS_3

"Kau menyesal." tanya Merry pelan.


"Tentu saja!" jawab Vino menatap kecewa, wajah cantik yang terluka tak lagi membuatnya iba.


"Harusnya kau mendukungku. Aku kehilangan Laura, dan sekarang aku kehilangan Radit."


"Apa hanya Radit saja yang berharga di dalam hidupmu? Dan apa artinya aku?" Vino menatapnya. "Aku bahkan kehilangan semuanya gara-gara dirimu, hanya karena harapan palsu aku menjadi orang paling jahat, paling bodoh di dunia." Vino menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak bersungguh-sungguh mencintaiku Vino." Merry menangis, ia sedang meminta perhatian.


"Jika yang kau sebut cinta adalah membuatku jadi budakmu, maka harusnya aku menjauhimu sejak awal. Kau tidak akan pernah mengerti apa artinya cinta, yang kau rasa itu hanyalah obsesi. Kau tahu, obsesi itu bedanya tipis sekali dengan sakit jiwa." ucap Vino datar.


"Kau mengatai aku gila? Kau bahkan sudah membunuh seseorang!" Merry tidak terima.


"Kau juga terlibat Sayang." Vino beranjak.


"Kau lupa bahwa kita sangat dekat!" Merry takut Vino pergi dan tidak lagi peduli.


"Aku tidak lupa Merry, tapi aku kecewa dengan pengorbananku yang pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa, Laura sudah tak ada." jawab Vino lemas.


"Aku juga menderita, aku juga kehilangan Laura. Kau tidak tahu bagaimana aku mengandung dan melahirkan Laura, itu sangat sulit dan mempertaruhkan nyawa. Aku juga kehilangan Vino!" Merry benar-benar menangis.


"Sudahlah, tak ada gunanya kita saling menyalahkan. Aku tak akan bisa bebas dari tuntutan, kau-pun juga sama, tak mungkin dapat berlari dari hukuman. Aku sudah tidak bisa lagi membantu dan melindungi mu, begitu juga kau dan ayahmu. Suami Zahira tidak akan melepaskan kita semua." Vino menuju pintu, yang sudah jelas di luar anak buah Anggara dan juga Polisi sudah menunggu.


"Papa?" tiba-tiba Merry merasa khawatir. Ia ingin sekali menghubungi ayahnya, tapi ia tidak tahu dimana ponselnya berada. Sepertinya hanya ketika suster memeriksa baru bisa meminjam ponsel untuk menghubungi ayahnya.


Di kediaman Anwar.


"Mengapa dia belum datang juga?" pria tua itu bergumam sendiri, berjalan kesana-kemari gelisah dengan pikiran kacau.


"Tuan, sepertinya mereka tidak akan datang." ucap seseorang yang berpakaian preman.


"Apa yang terjadi?" Anwar mulai merasakan akan ada hak buruk terjadi.


"Bodyguard wanita dan Nona muda itu ada di rumah sakit, sudah pasti Kay tertangkap." jelasnya.

__ADS_1


"Bukankah dia adalah orang yang hebat, salah satu andalan Tuan Ricky. Apakah dia berkhianat?" tanya Anwar pada pria itu.


"Tidak, tapi sepertinya rencana kita sudah tercium oleh Anggara." jelasnya lagi.


"Bawa wanita tua itu, jadikan umpan!" perintah Anwar, diangguki laki-laki sangar anak buahnya.


"Kami sudah ada disini, tidak usah kau gunakan umpan." seseorang datang dengan santainya, melangkah masuk dengan senyum lebar kepada Anwar.


"Ka-kau!"


"Ya!" Ricko tersenyum, melepas kacamata hitamnya.


"Anak buahmu yang hanya bisa menari itu tidak akan bisa mengalahkan aku." Ricko mengibaskan tangannya seperti mengusir debu.


Anwar masih terkejut, tapi sejenak kemudian ia berpikir jika tak mungkin Ricko datang sendirian.


"Benar sekali, aku tidak datang sendiri." ucap Ricko seakan sedang membaca pikiran Anwar, itu sukses membuat laki-laki tua itu semakin ketakutan.


"Tuan Anwar, ibunya Kay tidak ada di belakang." ucap laki-laki preman anak buah Anwar.


Sedangkan Anwar sendiri sudah tak bisa mengatakan apa-apa, berkali-kali di buat terkejut dengan kegagalan yang fatal. ia berusaha mengatur jantungnya yang sedang berdetak seperti berlari.


"Kalian tidak mengerti Rasanya menjadi seorang ayah." ucap Anwar pasrah.


"Aku mengerti, justru aku tidak mengerti mengapa anakmu menjadi penjahat wanita. Tapi sepertinya itu adalah sebutan yang keren." Ricko menyukai sebutan penjahat wanita.


"Jika kau ada di posisiku!


"Aku tidak suka berada di posisimu, cukup kau saja yang merasakannya, aku yakin rasanya tidak enak." Ricko menatapnya tak suka.


"Kau akan merasakannya suatu saat nanti!" geram Anwar.


"Tidak." Ricko mendebatnya.


"Aku bersumpah kau akan merasakannya, kalian akan merasakannya!" marah Anwar.

__ADS_1


"Hey! Kau menyumpahiku? Yakin kau mengatakan hal itu? Sumpah orang munafik sepertimu tidak akan di dengar Yang Maha Kuasa. Yang ada kau mendapat azab karena sumpahmu penuh dengan kebencian dan dosa." Ricko menunjuk wajah Anwar.


"Kau!" Anwar balas menunjuk wajah Ricko.


"Bawa dia! Menyebalkan sekali." gerutu Ricko sambil memakai kembali kaca matanya.


"Kau tidak berhak menghakimi aku!" Anwar menyingkirkan tangan dua orang yang sudah siap membawa Anwar.


"Bukan aku, tapi Polisi." Ricko berlalu lebih dulu. Ia tak peduli rengekan Anwar, sejelek apapun wajah orang tua itu ia tidak mau menjadi kasihan, Ricko tidak menyukai wajah menyedihkan.


Begitu juga Merry yang masih bingung harus meminjam ponsel pada siapa, dia tidur dengan gelisah, hanya berbaring tanpa memejamkan mata.


Berbeda jauh dengan dua orang di kamar sebelahnya. Wanita bertubuh kurus itu masih berbaring lemah, perlahan matanya mulai bergerak dan terbuka. Nafas yang teratur itu terdengar merdu oleh seseorang yang selalu setia menjaga di sampingnya. Siang hari ini bahkan belum makan demi untuk selalu menjaga Jia.


"Mengapa dia ada di sini, atau dia memang tidak pulang?" batin Jia.


Tubuh yang pegal dan perut terasa nyeri, ia baru ingat jika ia sedang terluka parah. Ingin sekali menyentuh dan memeriksa luka itu sendiri, tapi berat sekali. Tentu saja karena tangannya sedang di pegang Akbar, pria berbulu itu menggenggam jemarinya hingga terasa berkeringat, parahnya lagi dia tidur nyenyak.


Jia menarik tangannya, andai tidak sedang sakit sudah pasti Jia akan pergi secepat kilat.


"Kau sudah sadar?" ternyata Akbar terbangun hanya dengan pergerakan sedikit saja dari Jia.


Jia tak bisa menjawab, hanya menatap Akbar dengan cara yang sulit di artikan.


"Apa kau haus? Ah, tidak-tidak. Dokter mengatakan jika kau harus makan setelah sadar." Akbar segera beranjak meraih mangkuk di atas nakas.


"Aku bisa sendiri." ucap Jia lemah.


"Kau masih lemah, nanti jika sudah sembuh kau akan makan sendiri." Akbar membuka makanannya, juga air hangat yang sengaja di minta Akbar dari anak buah Anggara.


"Aku berhutang padamu." jawab Jia menghindari tatapan Akbar.


"Apa harus di sebut hutang? Aku rasa ini bukan untuk di hitung tapi untuk di syukuri. Kau selamat dan Zahira baik-baik saja." Akbar tersenyum manis.


Jia balas tersenyum, meski sedikit tapi terlihat manis sekali. "Nona memang harus baik-baik saja." ucapnya pelan.

__ADS_1


"Dia juga menjagamu, baru saja dia pulang untuk mengganti pakaian bersama Om Anggara." Akbar menyuapkan satu sendok makanan ke mulut Jia.


Rasa buburnya aneh jika disuapi seorang lelaki.


__ADS_2