Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
52. Putra yang bodoh


__ADS_3

Pukul 6:00 pagi, Zahira sudah bersiap dengan pakaian rapi juga tas miliknya, ia menarik nafas sangat dalam dan perlahan menghembuskan, ia mengulang hingga berkali-kali, dan siap keluar dari kamar itu dengan suasana hati sedikit lebih baik.


Tangan kecil itu perlahan membuka pintu, ia sempat terkejut melihat Radit suaminya masih menyandar didinding, sepertinya pria itu baru saja tertidur. Ada rasa kasihan melihat wajah tampan itu tampak biru dengan bibir yang pecah, wajah yang selalu menemani di setiap malamnya, bibir yang pecah itu selalu menyebut dan memanggil namanya penuh damba, tapi tidak mulai saat ini.


Zahira berlalu melangkah pelan meninggalkan pria itu tanpa menyentuh bahkan melangkahi kaki yang menghalang di pintu itu dengan sengaja.


"Kau mau kemana sayang?" Ayu melihat Zahira menuruni tangga dengan pakaian rapi.


"Aku harus ke kampus Mama, aku ingin melihat nilai ujian ku awal Minggu kemarin, temanku mengatakan nilainya keluar hari ini." Zahira mendekati Ayu, memeluk dan mencium kedua belah pipinya.


"Kau yakin akan ke kampus?" Ayu melihat wajah Zahira masih terlihat sangat sedih.


"Iya Mama, mungkin bertemu teman-teman akan mengurangi rasa kecewaku ini." jawabnya lembut


Ayu meraih dan memeluknya erat, wanita itu kembali menangis.


"Mama tak usah menangis, Allah sudah mengatur semuanya dengan baik sekali." Zahira berusaha menghiburnya, lebih tepatnya menghibur diri sendiri.


"Mama akan mengantarmu." Ayu melepas pelukannya akan meraih kunci mobil.


"Tidak usah Mama, biar Zahira pergi sendiri saja."


"Tapi_"


"Biar Zahira pergi dengan sopir, nanti Zahira akan pulang bersama kak Tina." tolaknya dengan sedikit tersenyum.


Ayu diam menatap wajah Zahira, sungguh rapi rasa kecewa itu bersembunyi hingga suara lembut itu tak pernah tinggi. Mungkin saja dia sedang tak ingin di ganggu, atau juga sedang kecewa dengan dirinya? Ayu sadar jika dirinya adalah ibu yang sudah gagal membuat kedua anaknya bahagia.


"Assalamualaikum Mama." ucapnya berlalu menuju pintu depan menghampiri sopir yang selalu standby setiap pagi.


"Wa'alaikum salam sayang." Ayu menjawab pelan dan mungkin sudah tidak di dengarnya lagi.


"Ada apa sayang?" David menyapa dan mendekatinya.


"Zahira pergi ke kampus." jawabnya masih melihat pintu depan yang sudah tak ada siapa-siapa.


"Mungkin dia ingin mencari udara segar, bertemu teman dan mencoba melupakan semuanya. Dia butuh waktu." David menghibur Ayu.

__ADS_1


"Ini yang aku takutkan saat itu, aku takut cinta yang begitu besar akan mendapat ujian yang juga begitu besar. Dan anak kita tidak sekuat itu, dia masih terlalu muda dan akhirnya dia mengambil keputusan yang salah."


"Semua sudah terjadi, menikah adalah keinginan mereka, walaupun iya, harusnya kita mewanti-wanti kesalahan seperti ini. Tapi kembali lagi pada pengaturan yang maha kuasa, jika Dia sudah berkehendak kita bisa apa." David juga tak kalah bersedih, hatinya merasa sakit.


"Apa kita akan menyerah?" Ayu menatap wajah suaminya.


"Aku tidak mau kehilangan putriku." jawab David, raut wajahnya mengatakan tidak akan menyerah.


Ayu tersenyum, mungkin masih ada jalan untuk mempertahankan semuanya.


Radit turun dengan wajah tegangnya, melihat ke sana-kemari tak menemukan Zahira. Pria itu tampak bingung namun tak berani bertanya, hingga sudah beberapa saat ia sudah tidak tahan ingin mengetahui dimana Zahira.


"Dimana Zahira Papa?" tanya Radit, ia masih terlihat takut, takut mendapat pukulan bonus dari ayahnya.


"Untuk apa kau tahu dia dimana?" David masih marah, bahkan menjawab tapi tak melihat wajahnya.


"Dia istriku, tentu aku ingin tahu dimana dia berada." jawab Radit dengan wajah sedih.


"Oh, lalu bagaimana dengan istrimu yang lain?" David menatap tajam.


"Maaf Papa, aku tahu Papa masih marah padaku. Tapi aku benar-benar ingin tahu dimana istriku." Radit berusaha tenang.


"Tentu saja aku masih marah, kau tidak berpikir bahwa kelakuanmu itu merusak semua hubungan antara kita."


"Aku tau Papa, Bahkan Papa sangat menyayangi Zahira dari pada aku, tapi Papa juga harus ingat aku juga anakmu dan cobalah untuk mengerti keadaanku." jawab Radit memohon, juga menahan emosi.


"Justru karena aku masih ingat bahwa kau juga anakku, jika saja kau adalah orang lain aku sudah menghabisi mu." David malas kembali ribut dengan putranya, ia memilih pergi meninggalkan Radit sendiri.


"Arrrgggghh."


Radit berteriak mengacak-acak rambutnya dengan kasar, dia sungguh kesal atas dirinya sendiri.


*


"David apa Zahira ada di kantor?" Ayu sedang menghubungi David hari ini, dia sudah pulang lebih awal tapi tak menemukan Zahira di rumah.


"Tidak, Zahira tidak ke kantor sayang." jawab David di seberang telepon.

__ADS_1


"Tapi tidak mungkin ke kampus hingga sore hari, dia hanya melihat hasil ujian saja." Ayu mulai cemas.


"Tapi benar dia tidak ada di kantor, bahkan Tina sedang mengikuti rapat bersama klien untuk penyelesaian proyek." David juga terdengar cemas.


"Lalu dia kemana David!" Ayu memekik dan sungguh ia sangat khawatir.


"Aku akan menyusulnya ke kampus." David menutup teleponnya.


"Ya Tuhan." ucapnya duduk lemas di sofa ruang tamu.


David segera meluncur menuju kampus Zahira dengan kecepatan tinggi, tak berapa lama ia sudah tiba. Pria itu turun dengan tergesa-gesa segera masuk dan menanyakan keberadaan putrinya.


"Tidak ada pak." jawab seorang mahasiswa, benar saja ruangan itu tertutup dan dapat di pastikan tak ada siapa-siapa di dalamnya.


"Apa kau melihatnya?" David memperlihatkan foto gadis cantik itu.


"Tidak pak." lagi-lagi jawaban yang sama.


Kali ini David menghampiri satpam yang berjaga di depan, ia yakin jika Zahira datang ke kampus maka ia pasti melihatnya.


"Pak, mau tanya dan maaf putriku belum pulang padahal dia berangkat tadi pagi akan ke kampus, apa bapak melihatnya?" kembali David memperlihatkan foto Zahira.


Lama dua pria itu tampak berpikir. "Tadi dia memang datang ke kampus ini pak, tapi tidak lama dia keluar lagi." jawab salah satu satpam itu.


"Apa dia bersama seseorang?" tanya David lagi.


"Sendirian pak." jawabnya yakin.


David mencoba berpikir, mungkin dia di rumahnya!


"Kalau begitu terimakasih banyak pak."


David kembali ke mobilnya, segera melaju menuju rumah kediaman Zahira, mungkin dia sedang ada di sana untuk menghindari putranya yang bodoh itu. Iya benar, putranya sungguh bodoh jika sampai kehilangan Zahira, seandainya Radit jujur sejak awal atas jebakan wanita itu, mungkin Zahira dapat mengerti dan tidak akan marah seperti ini.


David berhenti di depan rumah dua lantai milik Zahira, pria berjas itu turun dan langsung menemui satpam senior yang masih berjaga.


"Apa Zahira ada di dalam pak?"

__ADS_1


__ADS_2