Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
89. Memotong


__ADS_3

"Bukankah tadi kau sangat sombong?" Zahira masih kesal sekali, ingin mendekat namun Jia tak mengizinkannya.


"Urusan kita belum selesai, kau hanya akan menjadi wanita malang yang sebentar lagi juga akan di buang suamimu." ucap Merry segera pergi.


"Jia!" panggil Zahira.


"Iya Nona." jawab wanita itu masih tak menyingkir dari nona majikannya.


"Apa Mas Anggara pernah menikah?" tanya Zahira dengan wajah kesal juga bingung.


"Tidak pernah, hanya denganmu saja Nona." jawab Jia menghadap Zahira.


"Apa wanita itu simpanan suamiku?" tanya Zahira lagi.


"Bukan Nona, Tuan Anggara tak pernah seperti itu." Jia berkat jujur.


"Tapi dia sedang memamerkan perutnya padaku, seakan aku ini tak mampu memberi suamiku anak." Zahira masih di selimuti tanda tanya.


Jia tak menjawab, ia juga bingung dengan wanita yang tiba-tiba membuat Zahira marah.


"Kita ke kantor saja, aku mau bertemu suamiku sekarang juga." Zahira meraih tasnya.


"Tapi Nona, wajahmu belum_" pegawai salon itu menatap Zahira yang akan segera pergi.


"Lain kali saja." jawab Zahira berlalu di ikuti Jia setelah membayar tagihan salon majikannya.


"Aku belum membayar!" Zahira akan kembali masuk.


"Sudah Nona." jawab Jia memintanya segera masuk.


"Kalian benar-benar mengurus semua kebutuhanku, artinya uang yang di berikan suamiku sama sekali tak berguna." dia duduk menyandar, ocehannya tak butuh di jawab.


Tak berapa lama mereka sudah tiba di kantor Anggara, kantor besar dan mewah itu terlihat ramai dengan banyak sekali karyawan yang berlalu lalang di bagian depan, mereka tampak sibuk dengan tugas masing-masing.


Zahira masuk di iringi Jia di belakangnya, sebagian dari mereka menunduk hormat karena sudah tahu Zahira adalah istri Direktur utama, namun sebagian belum mengetahui siapa dirinya.


"Ayo Nona kita naik lift saja." Jia mengajak Zahira segera masuk.


Lantai paling atas, naik lift saja Zahira merasa sangat lama, apalagi naik tangga? Tapi sejenak kemudian dia seakan pernah merasakan hal ini, tapi kapan? Gadis itu terlihat sedang berpikir.


"Mengapa menyusul hemm?" suara pria tampan itu langsung terdengar ketika pintu lift terbuka.


Zahira keluar dengan wajah tak terlihat senang, ia juga tidak mau memeluk Anggara seperti biasa.

__ADS_1


"Ada apa?" Anggara meraih tubuh kecilnya tapi Zahira tak mau, ia berlalu melewati Anggara.


Jia menunduk tak berani melihat wajah majikannya, membiarkan mereka membahas masalah pribadinya sendiri.


"Sayang!" Anggara menyusul dan meraih tangan kecil itu.


"Siapa wanita itu?" tanya Zahira dengan wajah menahan amarah.


"Siapa?" Anggara balik bertanya, wajah tampannya terlihat bodoh.


"Kau pura-pura tidak tahu, atau jangan-jangan nanti kau akan pura-pura tidak kenal padahal kau sudah menidurinya berulangkali!" Zahira sungguh emosi.


"Wanita mana? Aku benar-benar tidak tahu?" Anggara menatap wajah cantik yang sedang merajuk.


"Dia mengusikku, pamer perut buncitnya dan mengatakan aku hanya mengganggu kau dan dia, dia berkata seakan aku tak berguna dan sebentar lagi kau akan membuangku!" Zahira berteriak kesal.


"Sayang aku tidak mengerti, aku tidak punya wanita lain apalagi tidur dengannya." Anggara semakin bingung di buatnya.


"Dasar pembohong." Zahira terus berteriak kali ini ia menangis, membuat Anggara semakin tak berdaya.


"Sumpah demi Allah aku tidak pernah melakukan itu, aku hanya menikah dan tidur denganmu." Anggara meyakinkan Zahira, pria itu sesekali mengusap tengkuknya karena beberapa karyawan melewati mereka.


"Tapi dia bilang kau akan segera membuangku setelah anaknya lahir dan memperlihatkan wajahnya." Zahira terus menangis.


Zahira terdiam, mengurangi tangisnya.


"Aku bahkan tergila-gila padamu." Anggara merayunya lagi.


Bagaimana jika kau bohong?" tanya Zahira masih dengan tatapan tak percaya.


"Hartaku semuanya sedang di alihkan atas namamu, Jika aku selingkuh artinya aku yang akan kau buang." Anggara meyakinkannya lagi.


"Jika kau macam-macam, aku akan memotong milikmu." Zahira menatap wajah Anggara dengan mengancam.


"Jangan, kau akan kehilangan mainanmu." Anggara sedang menahan tawanya, dia bahkan tak pernah menyangka Zahira akan seberani itu.


"Aku tak peduli." jawabnya dengan bibir yang masih mengerucut.


"Baiklah, kau boleh melakukannya, ayo masuk!" Anggara mengajaknya masuk ke ruangan pribadi, akhirnya gadis yang marah-marah itu dapat di peluknya juga.


"Jangan marah-marah lagi." Anggara memeluk dan mengecup pipi halus Zahira, dia selalu melakukan itu di setiap mereka berdua.


"Tentu saja aku marah, dia sengaja memperlihatkan perutnya." Zahira masih kesal.

__ADS_1


"Kau juga akan segera hamil sayang, anggap saja dia orang yang tidak waras." Anggara terus memeluk dan memberikan ciuman hangat untuk istrinya.


"Aku ingin segera." ucapnya sendu.


"Tentu saja, nanti kita beli alat tes kehamilan. Mungkin saja sudah dapat di lihat." ucap Anggara terlihat bersemangat.


"Jika aku belum hamil, kau tidak boleh bekerja, kita akan membuatnya sepanjang hari dan sepanjang malam." Zahira masih saja merasa kesal, sehingga Anggara yang harus menjadi sasarannya.


"Iya, kita akan membuatnya sampai berhasil, sekarang juga aku sedang ingin membuatnya." Anggara tersenyum penuh arti, istrinya sudah pasti tidak akan merajuk lagi.


Satu jam kemudian.


"Siapa wanita itu?" tanya Anggara pada Jia.


"Aku tidak tahu, rekaman CCTV-nya sedang di kirim ke ponsel anda." Jia menunjuk saku Anggara yang berbunyi.


Anggara meraih saku jas di dadanya, pria itu menoleh, sedikit mengintip memastikan Zahira masih tidur. Sejenak ia terdiam dan setelahnya ia menutup lagi ponselnya, ia menatap Jia.


"Dia orang yang harus di waspadai." ucap Anggara.


"Nona tidak tinggal diam, dia terlihat mengerikan jika sedang marah." jawab Jia sedikit menatap wajah Tuannya.


"Biarkan saja, dia istriku dan sudah tentu harus berani. Sudah waktunya dia menjadi dirinya sendiri." ucap Anggara tersenyum bangga.


Jia menunduk dan pergi, Anggara kembali masuk, membawa dua alat tes yang dibelikan Jia baru saja.


*


"Apa Merry sudah melahirkan Mama?" Radit menatap wajah Ayu, pria itu belum berniat menemuinya tapi ia juga memikirkan anak di dalam perut wanita itu.


"Bulan depan sayang, sekarang baru delapan bulan." Ayu sedang menyiapkan makanan untuk Radit.


"Nanti aku akan ke sana." ucap Radit meraih piring dan mulai makan.


"Atau jika kau ingin, biar dia saja yang datang kemari." Ayu ikut makan bersamanya.


"Baiklah, lagi pula dia akan melahirkan anakku." ia sedang berpikir.


"Tapi Papamu tidak akan suka." Ayu menyambung ucapannya.


"Tentu saja Mama, tapi kita tak bisa menyalahkan Merry sepenuhnya. Dia tidak tahu aku sudah beristri saat itu." Radit menunduk sedih menatap makanan di piringnya.


"Kita jalani saja, nanti akan ada masanya semua kesedihan ini berakhir, dan Mama berharap kau akan bahagia di akhirnya."

__ADS_1


__ADS_2