
"Aku sedang mengobrol dengan rekan bisnis kita. Aku rasa Zahira selalu di sampingku, ternyata malah anak pengusaha itu yang di sampingku." kesal Reza merasa dikelabui Zahira.
Radit tak mau ikut dalam perdebatan dan kemarahan Ricky, matanya sibuk memandangi wajah Zahira. Memikirkan banyak hal setelah ini, mungkinkah wanita cantik di hadapannya mau memaafkan?
"Minta semua yang sudah terlibat untuk pergi menghindar dari kota ini, aku tidak ingin mereka terkena masalah." perintah Zahira masih memikirkan sesuatu.
"Kaulah yang sedang kami khawatirkan Zahira." jawab Ricky halus.
"Aku akan melakukan apa saja asal kematian suamiku terbalas." ucapnya pelan, air matanya kembali jatuh. "Seperti Mas Anggara rela melakukan apa saja untukku, bahkan nyawanya dia berikan dengan percuma, dan kau saksinya." Zahira menatap Ricky.
Ricky menekan paksa ludahnya sendiri. Mana mungkin dia lupa dengan perjuangan Anggara untuk mendapatkan Zahira. Semuanya dia lakukan, segalanya bahkan hal yang dianggap tidak mungkin. "Ya." jawab Ricky singkat, atau mungkin tak bisa berkata apa-apa.
"Aku rela melakukan apa saja." tangisannya begitu pedih. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Jika Paman Daniel datang dengan uang, dan bisa membebaskan Merry dari setengah hukumannya, maka gunakan kuasa dan uang kita pula. Kita punya keduanya Om, sekaranglah saatnya kita memperlihatkan jika kita juga punya kuasa, uang bukan masalah. Pastikan semua orang-orang kita aman dan bebas." Zahira menatap Ricky dengan serius, sorot mata beningnya tak lagi hanya mencerminkan kesedihan, melainkan tanggung jawab penuh seperti sosok Anggara.
"Ya, aku akan melakukan apa yang kau mau." Ricky tak lagi mendebat. Membuat lega Jia dan juga Reza. "Pulanglah, aku akan menunggu yang lainnya, mereka akan berkumpul di sini setelah selesai dengan tugas mereka."
"Ya." Zahira masih di posisinya, sepertinya malas untuk beranjak.
"Kita pulang Nyonya." Jia mengajaknya dengan lembut sekali. Tangannya terulur dengan punggung tangan memar karena terlalu banyak memukul.
"Aku akan mengantarmu." Radit beranjak keluar lebih dulu mengambil laptop dan kunci mobil di ruangan lainnya.
"Jangan memikirkan apapun, ada banyak orang yang siap menjadi tameng untuk menjaga dan melindungimu." Reza mencoba menghiburnya.
Zahira mengangguk, "Terimakasih." ucapnya berlalu dari ruangan itu.
"Aku akan mengantarmu, kau pergi bersamaku dan pulang juga bersamaku." ucap Reza menunjukan sikap bertanggung jawab penuh, dan kedewasaan yang mungkin bisa membuat Zahira nyaman, pria itu mengikuti Zahira.
Berada dalam satu lift membuat Zahira tak bisa jauh dari Reza Mahendra, berdiri di depan pria itu dengan banyak pikiran. Berbeda dengan Reza sangat menikmati aroma vanila dan mawar menguar menghangatkan jiwa lelakinya.
Bagaimanapun juga dia laki-laki normal dan sudah sangat ingin menikah, ingin segera memiliki walaupun tidak tahu pasti. Seorang Reza akan berusaha apapun caranya.
Lift terbuka, wajah tampan lainnya sudah menunggu dengan tak sabar untuk pulang bersama Zahira.
__ADS_1
"Dia pergi bersamaku, pulang juga bersamaku. Aku harapkan kau mengerti." ucap Reza kepada Radit.
"Begini, selain hanya masalah perasaan kami juga memiliki hubungan yang sulit di jelaskan, dia juga saudariku. Ku harap kau mengalah untuk kali ini." tegas Radit dengan wajah serius, tidak seperti biasanya dia masih bisa menahan.
"Tapi aku yang menjemputnya!" Reza tidak ingin jauh dari Zahira, terlebih lagi harapan untuk hidup bersama baru saja menjadi khayalan.
"Aku lebih bertanggung jawab terhadap Zahira daripada dirimu. Ku tegaskan sekali lagi aku yang akan mengantarnya pulang." Radit menjawab dengan tatapan menantang.
Reza mulai kesal, membuang pandangannya dan wajah tak suka. "Jangan membuat alasan." Reza membuka mobilnya meminta Zahira masuk.
Radit menutup kembali mobil Reza dan menepis tangan Reza Mahendra. "Aku tidak sedang bercanda." geramnya.
"Kami akan pulang dengan mobil sendiri." Jia menyahut, dia tidak ingin kedua laki-laki tampan itu berkelahi.
"Aku akan ikut di mobil kalian." Radit membuka mobil Zahira dan menyuruhnya masuk.
"Aku pulang sendiri saja." ucap Zahira pelan.
"Berbicara yang benar, kau tidak berhak mengaturnya." Reza mendekati Radit dengan rasa tidak terima.
"Kau juga tidak berhak apapun. Bahkan menjaganya sebentar kau tidak bisa." kesal Radit segera berbalik arah masuk ke mobil Zahira.
"Sial!" Reza mengepalkan tangannya dan meninju udara kosong. Baru saja Reza berpikir bahwa ada peluang untuk mendekati Zahira setelah malam ini hampir berlalu. Malah Radit menghalanginya, bahkan menutup celah untuk semakin dekat.
"Nyonya!" Jia menatap wajah Zahira yang menyandar menutup mata.
"Biarkan saja, aku lelah." Zahira enggan berkomentar tentang Dua laki-laki yang sedang berebutan menghantar dirinya.
Radit yang baru masuk menoleh Zahira, wajah tampannya tampak khawatir. "Kau terluka?" tanya Radit masih menoleh Zahira.
Menggeleng sedikit, Zahira tampak ingin istirahat.
"Aku yakin ada yang sakit, setelah sampai kau periksa dia." pinta Radit pada Jia.
__ADS_1
"Aku tahu." jawab Jia kembali menatap wajah Zahira yang kini memejamkan mata. Jia lebih mendekat agar Zahira memiliki tempat bersandar.
"Anwar meninggal!" Radit melihat ponselnya, sepertinya dia baru saja menerima informasi.
Jia tak menjawab, hanya tatapan matanya yang melirik Radit, kemudian membuang pandangannya ke luar sana.
"Buktinya belum juga di temukan." ucap Radit lagi meminta pendapat Jia.
"Dia menyembunyikannya terlalu rapi. Sepertinya hanya dia yang tahu tempatnya." jawab Jia pada akhirnya.
"Aku sudah tidak sanggup berpura-pura manjadi kekasihnya lagi." Radit menyandar, matanya menatap jalanan di depan.
"Lihat saja keadaan selanjutnya." Jia benar-benar sudah tidak memiliki ide, mungkin juga lelah.
Lumayan lama di perjalanan, hingga sudah tiba di rumah besar Anggara, Jia membuka mata menoleh Zahira.
"Tidak usah di bangunkan. Aku akan membawanya masuk." Radit keluar lebih dulu.
"Dia tidak akan mau, dapat dipastikan dia akan marah." Jia tak ingin Zahira marah lagi.
"Aku yang tanggung jawab." Radit membuka pintu dan meraih tubuh Zahira, menggendongnya dengan gerakan yang sangat pas sekali, seperti dulu ketika mereka masih tinggal bersama.
Wajahnya cantik sekali ketika tertidur seperti itu, membuat Radit tersenyum sedikit. Hatinya yang dingin kembali hangat ketika berdekatan dengan Zahira. Ya, hanya Zahira yang bisa menghangatkan hatinya.
"Radit!"
Ternyata Ayu ada di rumah Zahira, sengaja datang menjaga kedua anak-anaknya. Tidak ingin sesuatu terjadi kepada mereka. Namun sangat heran dengan kedatangan Radit dan menggendong Zahira.
"Dia tidur!" Radit menuju kamar di lantai dasar yang sudah di bukakan pintunya oleh Jia.
Ayu hanya menikmati pemandangan yang sudah lama menghilang itu, berharap itu tak hanya kebetulan, tapi awal dari kebahagiaan.
Tak lama kemudian Radit sudah keluar, duduk menyandar di sofa ruang tamu. "Anwar sudah meninggal Mama." ucapnya memberitahukan kepada Ayu.
__ADS_1