Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
122. Ke rumah Papa


__ADS_3

"Menghapus berita adalah hal yang mudah, tapi bagaimana dengan pembaca yang sudah terlanjur melihat dan sudah pasti akan menjadi gosip hangat yang berkelanjutan, bagi kaum ibu-ibu itu adalah hal mengasyikan untuk di jadikan obrolan. Jadi, kami harus tahu berita sebenarnya dari Anda langsung, paling tidak ada klarifikasi bahwa itu tidak benar, sehingga kami dapat membuat berita yang bagus, terutama untuk kembali membersihkan nama Anda." seorang pengusaha muda di dalam ruang rapat itu berbicara perihal berita pernikahan Anggara.


"Kau benar, aku akan menjelaskan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi. Aku menikah dengan istriku atas keinginan kami berdua, dan perlu di tekankan bahwa statusnya saat itu bukan istri dari seseorang, melainkan sudah bercerai. Istriku menggugat cerai mantan suaminya, dan beberapa bulan setelahnya dia bersedia menikah denganku." jelas Anggara dengan tenang.


"Bisa anda jelaskan juga alasan perceraian mereka?" tanya seseorang lagi.


"Aku rasa itu urusan pribadi mereka." jawab Anggara tak ingin mengatakan alasannya.


"Tapi ini penting!" jawab pemilik Media Televisi swasta.


"Maaf tidak bisa, tapi untuk status istriku saat itu, dia memang benar sudah bercerai dan itu bisa dibuktikan." jawab Anggara menganggap semua sudah sangat jelas.


"Baiklah, kita akan membuat semuanya baik-baik saja." Mereka semua terlihat kompak.


"Tuan Anggara, terimakasih sudah mengembalikan saham untuk perusahaan kami." pria tua bernama Santoso itu berkata dengan wajah lugunya.


"Sudah ku katakan hanya sementara." Ricky menyahut.


"Kami tidak mungkin berkhianat." jawabnya lagi dengan yakin.


"Kami percaya." Anggara tersenyum kali ini.


Ponselnya bergetar tak hanya sekali, sepertinya ada yang penting dan Anggara melihat layar yang berkedip itu.


"Ada apa Jia?" tanya Anggara menjawab panggilan teleponnya.


Tapi kemudian wajah pria itu menjadi sangat khawatir.


"Maaf aku harus pulang! Selamat siang." Anggara beranjak tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi menuju rumahnya.


*


"Zahira!" panggil Anggara menggoyang tubuh Zahira, pria bermata coklat itu sangat khawatir.


"Mengapa istriku bisa pingsan?" tanya Anggara pada Jia juga dua asisten rumah tangga yang setia mengikuti Zahira kemanapun.


"Tadi Nona bermain piano, awalnya Nona senang dan nyaman saat memainkan nadanya, tapi beberapa saat setelahnya malah ia terlihat tegang dan akhirnya pingsan." jelas salah seorang asisten rumah tangga itu.

__ADS_1


Anggara beralih menatap Jia.


"Benar Tuan, aku selalu bersama dengan Nona Zahira." jawabnya menunduk, ia takut sekali jika Bosnya itu mengamuk.


"Sayang, bangunlah." ucap Anggara lagi, mengelus kepala juga meremas ujung kakinya bergantian kanan dan kiri.


"Biar Bibi saja yang memijat kaki Non Zahira." Bibi juga mengisyaratkan dua asisten rumah tangga itu untuk keluar meninggalkan mereka.


Wanita yang sudah berumur itu mulai memijat dan memberikan minyak angin pada sela jari kaki Zahira, ia melihat wajah Zahira dengan iba.


"Bi!" panggil Anggara bergetar, ia benar-benar tidak sanggup melihat Zahira terus sakit dan sering pingsan seperti itu.


"Ya?" Bibi melihat wajah tampan yang sudah seperti anaknya sendiri itu sangat bersedih.


"Aku takut kehilangan dia, aku benar-benar takut Bibi." ungkapnya membuat Bibi ingin menangis.


"Kita berdoa saja, semoga dia baik-baik saja." jawab Bibi juga ikut merasa takut.


"Itu sudah pasti Bibi, aku lebih baik melihatnya marah daripada harus kehilangan. Aku tidak sanggup Bibi, aku benar-benar tidak sanggup." mata coklatnya tak berhenti menatap wajah yang sedang tertidur, kali ini mata itu basah karena air mata.


Anggara memeluknya, mengecup pipi juga keningnya.


"Sepertinya begitu." Anggara melepaskan pelukannya, perlahan ia harus segera bersiap untuk membawa Zahira ke rumah sakit.


Namun ia urung pergi saat melihat jari tangan itu bergerak pelan, bulu mata indahnya bergerak-gerak seakan membelah aliran sungai. Nafas teratur itu berubah lebih dalam, ia membuka mata dan melihat wajah Anggara tak berkedip.


"Sayang kau sudah bangun?" tanya Anggara mendekati wajah ayu itu.


Tak juga ada jawaban, masih dalam posisi yang sama ia memandangi wajah Anggara.


"Sayang?" Anggara menjadi khawatir, ia mendekatkan wajahnya dan menatap ke dalam bola mata bening itu.


"Om!" ucapnya pelan.


Dua huruf yang sangat mengejutkan Anggara, hatinya seakan tertusuk melemahkan seluruh tubuhnya. Namun tidak, seorang Anggara akan tetap bisa menguasai suasana.


"Ya?" jawabnya sedikit tersenyum.

__ADS_1


Zahira menangis, entah apa yang membuatnya bersedih, tapi ia benar-benar bersedih, air matanya tumpah begitu deras, dadanya naik turun dengan nafas tak beraturan sesak dan kasar.


"Jangan menangis, aku tidak suka." ucap Anggara masih tersenyum.


"Papa!" ucap Zahira lagi, ia sangat bersedih.


"Papamu ada di rumahnya Sayang." jawab Anggara menenangkan Zahira.


"Radit!" ucap Zahira lebih membuat terkejut.


Ucapan yang terakhir membuat dada Anggara nyeri, lagi-lagi dia harus menahan rasa tak karuan itu.


"Kita akan ke sana jika kau mau." Anggara memperlakukannya dengan sabar, tak sedikitpun ia marah walau hatinya sedang ketakutan akan kehilangan Zahira.


Zahira tak menjawab, mata beningnya juga sudah berhenti menangis. Ia kembali tertidur, tapi kali ini ia benar-benar tidur dan bukan pingsan.


"Sayang." panggil Anggara pelan, kembali mendekati wajah cantik itu, mengelus dan mengecup pipinya, sehingga membuatnya sedikit menggeliat.


Zahira membuka mata sedikit, sungguh berat kelopak matanya itu untuk di buka. Namun sekilas kornea matanya masih sempat menangkap bayangan Anggara begitu khawatir, dan mengecup pipinya sangat mesra. Rasanya nyaman sekali, ingin mengulanginya lagi.


"Tidurlah jika mengantuk, aku akan selalu di sini menungguimu." Anggara duduk di kursi dengan posisi memeluk pinggang Zahira, membiarkan wanitanya merasa nyaman.


Zahira tertidur hingga jam-jam berikutnya, namun setelah ia bangun malah mendapati Anggara tertidur disampingnya, memeluk erat tubuh Zahira dengan perutnya yang besar, pria itu selalu saja setia menjaga dan mengurusnya.


Zahira beranjak dari tidurnya tanpa membangunkan Anggara, ia keluar dari kamar mereka sambil memakai hijab yang ia gantung di samping pintu.


"Nona mau kemana?" tanya Jia dengan sopan.


"Antar aku ke rumah Papa." ucapnya pada Jia.


"Tapi Nona baru saja-"


"Aku benar-benar ingin ke sana." ucap Zahira lagi, itu terdengar seperti perintah.


"Baiklah, kita berangkat Nona." Jia menemani Zahira turun ke lantai dasar, mereka menuju mobil dan meluncur ke rumah David.


Sore yang cerah itu membuat Zahira merindukan rumah David, ada kasih sayang yang tulus di sana seakan memanggilnya untuk segera pulang.

__ADS_1


"Nona baik-baik saja?" tanya Jia melirik wajah Zahira dari kaca depan.


"Aku tidak apa-apa." jawabnya, kemudian kembali melamun menatap lurus ke depan.


__ADS_2