Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
179. Mencari Satria dan Sadewa


__ADS_3

"Kau ini? Cepat atau lambat Zahira akan tahu!" Ayu kesal melihat Anggara hanya menyandar dan memijat kepala.


"Tapi tidak sekarang, Aku bersumpah akan mencari dan menemukan putraku." Anggara berbalik, masuk ke dalam mobil.


"Kau mau kemana?" Ayu panik dan sungguh ia ingin ikut kemana Anggara pergi, ingin menemukan kedua anaknya.


"Ke rumah Daniel!" ucapnya marah.


"Aku ikut!" Ayu masuk ke mobil Anggara tanpa peduli David di belakangnya. Tapi kemudian pria tinggi gagah itu segera masuk mobil dan mengikuti mobil Anggara.


Di dalam mobil yang melaju cepat, ponsel Anggara berbunyi berkali-kali. Pria itu tampak tegang, ia melihat nama yang tertulis adalah Zahira.


"Kau angkat saja." Ayu juga bingung harus mengatakan apa jika Zahira bertanya, ia tak akan menyentuh ponsel yang berdering itu.


"Aku harus mengatakan apa?" Anggara semakin gugup.


"Apa saja. Kau bisa berbohong!" Ayu juga gugup dibuatnya.


"Aku tidak pandai berbohong!" Anggara menepikan mobilnya, ia masih memandangi ponsel yang belum berubah posisinya di depan mereka.


"Dia akan curiga jika kau tidak menjawab panggilan ini." Ayu menunjuk ponsel Anggara.


Anggara mengusap wajahnya, ia benar-benar bingung harus bicara seperti apa agar Zahira tidak tahu jika dia sedang mencari anak-anak mereka.


"Baiklah." Anggara meraih ponsel dan menerima panggilan telepon Zahira.


"Mas, mengapa lama sekali mengangkat telepon dariku!" suara merdunya sedikit meninggi.


"Oh, maaf Sayang, aku meninggalkan ponselku di mobil." Anggara menggerak-gerakkan jarinya, ia gugup tapi juga harus bicara.


"Sadewa dan Satria belum pulang, aku khawatir terjadi sesuatu." ucapnya terdengar khawatir.


"Belum pulang?" tanya Anggara, menoleh Ayu dengan tak yakin.


"Ya!"


"Aku akan ke sekolah mereka, mungkin sedang ada kegiatan atau Kuis, bisa jadi." Anggara mencari alasan, ia ragu jika Zahira akan percaya.


"Tidak mungkin Mas!" ucapnya kesal.


"Baiklah, aku akan ke sekolah mereka." Anggara segera mengakhiri panggilan ponselnya, ia sudah tidak tahan harus berbohong lebih banyak.


"Ternyata nyalimu menciut hanya sekedar berbohong." Ayu tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Aku tidak biasa." jawabnya tak suka dengan tatapan Ayu.


"Apa rumah Daniel masih jauh?" Ayu kembali bertanya.


"Menurut anak buahku lumayan jauh." Anggara kembali melaju, kali ini lebih kencang. Ia harus menemukan anak-anak, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka, terlebih lagi dia tidak ingin Zahira sampai khawatir.


"Hiko!" ucapnya tak sengaja, dia sedang berpikir jika laki-laki itu berkhianat.


"Dimana kau mendapatkan bodyguard itu?" Ayu penasaran dengan bodyguard Anggara yang sangat pandai berkelahi.


"Di Jepang."


"Jauh sekali kau membawa penghianat!" Ayu kembali mengejek. Tentu Anggara sedang menahan kesal berkali-kali dengan mertua angkatnya itu. Dia memang seperti itu, dulu masih muda saja mereka jarang bicara, Ayu gadis yang jutek dan bengis, Anggara pria yang sopan dan tidak banyak bicara. Hanya banyak bicara ketika dengan Reva saja. Lagi-lagi bayangan masa lalu itu terlintas di benak Anggara, seakan baru kemarin, kenangan masa lalu itu akhir-akhir ini begitu nyata.


Kali ini ponsel Ayu berdering.


"Ya Radit."


"Mama ada dimana?" suara Radit, sepertinya ia sudah pulang ke rumah.


"Mama sedang mencari Satria dan Sadewa, mereka hilang!" Ayu berkata dengan sangat khawatir.


"Hilang bagaimana, dia-"


"Mama! Satria dan Sadewa ada bersamaku!" Radit berbicara dengan cepat, ia memberitahu Ayu agar tidak khawatir.


"Hah!" Ayu terkejut, dengan Satu tangannya terangkat, meminta Anggara berhenti.


"Ada apa?" Anggara menoleh, menatap heran.


"Satria dan Sadewa ada di rumah, aku yang membawanya." sambung Radit lagi, sudah tentu ia juga mendengar suara Anggara berbicara.


"Kami akan pulang." Ayu mengakhiri panggilan ponselnya. "Kita pulang, anak-anak ada di rumah." Ayu sangat lega.


"Di rumahmu?" Anggara berhenti mendadak, ia menoleh Ayu, sejenak kemudian wanita itu mengangguk.


Tanpa bicara kedua orang itu berbalik arah dan segera melaju menuju rumah David, ingin segera cepat sampai.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di halaman rumah Dua lantai itu, juga diiringi David dan mobil bodyguard Anggara.


"Satria! Sadewa!" teriak Anggara dengan langkah tergesa-gesa masuk ke rumah itu.


Dua orang anak laki-laki itu keluar dari kamar Radit, mereka berlari mendekati Anggara. "Ayaaah!"

__ADS_1


"Sayang!" Anggara membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Satria dan Sadewa.


"Ayah, tadi paman Hiko berkelahi." Satria mengadu, juga Sadewa mengangguk di pangkuan Anggara.


"Berkelahi dengan siapa Sayang?" Anggara bertanya, tapi mata cokelatnya melirik Radit juga Hiko.


"Penjahat Ayah, mereka ingin menculik kami." Satria menjelaskan.


"Iya, mereka besar dan tinggi." Sadewa ikut menjelaskan.


"Syukurlah kalian tak apa-apa Nak, Ayah sungguh khawatir, Ayah takut." Anggara memeluk dan mengecup kening keduanya bergantian. "Kalau begitu lain kali jangan keluar dari gerbang sekolah sebelum ada yang menjemput, Ayah tidak mau ini terulang lagi." Anggara mengusap kepala keduanya.


"Iya Ayah." jawab mereka bersamaan.


"Ayah butuh bicara dengan pamanmu." Anggara melepas pelukannya, membiarkan keduanya mendekat dan memeluk Ayu yang juga khawatir.


"Maaf Tuan, ponselku mati karena terjatuh saat berkelahi." Hiko menunduk takut.


"Aku hanya khawatir, ku pikir kau sudah berkhianat." ucap Anggara mendekati Hiko yang masih takut.


"Tidak, aku tidak mungkin seperti itu." jawabnya meyakinkan Anggara.


"Terimakasih, kau menjaga anak-anakku dengan baik." Anggara menepuk pundak Hiko.


"Itu tugasku." jawabnya sedikit lega.


"Dan kau?" Anggara menatap Radit, ia benar-benar kesal dengan pria muda itu.


"Maaf, tadi aku lupa memberitahumu. Kami begitu tegang saat Sadewa dan Satria di tarik-tarik orang dewasa. Beruntung aku juga ada di sana bersamaan dengan Hiko." jelas Radit, ia berusaha tak peduli dengan raut wajah khawatir dan kesal itu.


"Harusnya hal itu kau sampaikan segera padaku. Gara-gara ulahmu aku harus berbohong dengan Zahira. Bayangkan jika aku memberitahunya, sudah pasti dia mengamuk dan menangis." gumam Anggara kesal. Ia memilih meninggalkan Radit menghindari perdebatan tak berguna.


"Tidak salah dia curhat padaku?" Radit juga memilih pergi, malas harus beradu mulut dengan laki-laki yang hampir seumuran ayahnya itu.


"Tuan!" Hiko memanggil.


"Ada apa Hiko?" Anggara mengurungkan langkahnya menuju pintu.


"Aku rasa, kita sedang diincar. Apa sebaiknya Sadewa dan Satria tidak sekolah dulu untuk sementara." usulnya sedikit ragu, khawatir Anggara tak suka.


"Aku juga merasa seperti itu. Kita tingkatkan penjagaan, jangan sampai lengah dan berakibat fatal. Jangan tinggalkan anak-anakku, jaga mereka dengan baik, jangan perduli apapun karena kalian sudah punya tugas masing-masing." Anggara menjelaskan.


"Aku tahu." jawabnya menunduk.

__ADS_1


"Anggara, coba kau pikirkan lagi untuk pergi ke London, demi anak-anak." ucap Ayu benar-benar serius.


__ADS_2