Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
101. Mulai ingat


__ADS_3

"Mengapa Anggara menikahinya, bukankah Zahira dalam keadaan tidak ingat? Itu sama saja dengan menipu putriku." David masih belum mengerti.


"Bagaimana jika sebenarnya putrimu menginginkannya?" tanya Ricky membuat David semakin bingung.


"Apa maksudmu?" tanya David.


"Aku tidak tahu pasti yang terjadi, tapi aku bisa jamin jika Zahira menyetujui untuk menikah dengan Anggara sebelum ia operasi di Singapura." Ricky sangat yakin.


"Itu tidak mungkin, Radit dan Zahira belum bercerai!" David menjadi emosi, ia merasa Anggara menipu Zahira.


"Aku yang mengurus perceraiannya!"


"Kau tidak berhak!" David sedikit meninggikan suara.


"Zahira memberiku kuasa, apa yang tidak bisa ku lakukan? Bahkan menuntut harta dan penghianatan anakmu aku juga bisa lakukan!" Ricky tidak suka di bentak David.


David terdiam, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. "Dimana Zahira sekarang?" tanya David kemudian.


"Anggara mengajaknya liburan ke puncak, di tempat bersih dan tenang, Zahira butuh itu dalam waktu beberapa bulan pasca operasi. Setelah ini ia akan mengingat semuanya perlahan. Ku harap kau tidak mengganggu proses pemulihan ini, biarkan dia menikmati hidupnya dengan alur yang sudah di tentukan Tuhan, jangan memaksa untuk mengambilnya. Kau tidak tahu betapa panjang dan sulitnya perjuangan Anggara untuk membuat Zahira kembali seperti ini, bukankah seharusnya kau yang melakukan semua itu? Tapi sayangnya kalian malah sudah menganggapnya mati. Apalagi saat ini, dia sudah menjadi istri Anggara, jangan mengusik atau menganggu ketenangannya."


"Kau lupa dia anakku juga, tidak mungkin aku melepas seperti tak pernah mengenal dirinya."


"Aku tahu, tapi tidak sekarang. Aku minta padamu untuk bersabar menunggu ia pulih dan mengingatmu dengan sendirinya, dan tolong kau kendalikan putramu."


"Akan ku coba semampuku, tapi aku tidak yakin dia bisa menerima." ucap David lagi.


"Kau harus bisa, jangan sampai itu membuat Zahira kembali sakit. Kau akan berhadapan langsung dengan Anggara jika itu terjadi, dia akan sangat marah karena saat ini putrimu itu sedang mengandung anaknya."


David seakan mendapat serangan di dadanya, ternyata benar yang ia dengar bahwa Zahira sedang mengandung. Pria itu memejamkan mata begitu lama. Kepalanya di penuhi semua yang membingungkan, cepat atau lambat Radit akan mengetahuinya, atau bagaimana memberitahu Radit? Pria itu sedang di landa kerumitan di dalam hidupnya.


"Ku rasa sudah cukup, aku harus pergi." Ricky meraih minuman hangat itu meneguk sebagian dan beranjak dari duduknya.


"Kapan mereka akan kembali?" tanya David sudah tidak mampu menahan rasa ingin bertemu.

__ADS_1


"Lusa mereka sudah ada di sini, besok aku akan menjemputnya." Ricky tidak menutupi dari David, sudah tentu tak ada gunanya menyembunyikan apapun, Anggara lebih suka menghadapi semuanya dengan berani.


"Terimakasih, katakan pada Anggara aku tetap ingin bertemu dengan anakku. Aku ayahnya, aku juga ingin putriku baik-baik saja." ucap David sungguh berharap.


"Akan ku sampaikan." Ricky berlalu segera menuju mobilnya, meninggalkan pria itu masih termenung di meja sendirian.


*


Pagi yang cerah di puncak kota B, di ketinggian Vila tempat Zahira dan Anggara tinggal tampak mereka berdua sedang melihat pemandangan indah di sekitar perbukitan yang masih sangat alami. Kemesraan yang tak pernah putus itu selalu terpancar di wajah keduanya.


"Itu Vila milikmu Sayang, kita akan ke sana hari ini." Anggara menunjuk sebelah Utara dari tempat mereka berdiri.


"Apa ayahku membelinya?" tanya Zahira menoleh wajah tampan Anggara.


"Aku membelikannya untukmu saat kau baru lahir, kau melupakannya Sayang." peluknya begitu mesra.


"Kau sangat menyayangiku?" tanya Zahira lagi.


"Iya, sangat menyayangimu, juga mencintaimu."


"Kita ke sana sekarang, kau bisa memetik jeruk dan apel yang banyak, kali ini aku akan membawakan keranjang untuk tempat buah-buahanmu." ucap Anggara memancing ingatan istrinya.


"Apa kita pernah ke sana?" tanyanya lagi.


"Hem, kau memasukkan buah di kantong jas ku." Anggara mengecup bibir merah itu lagi.


"Sebaiknya kita ke sana." Zahira melepaskan pelukan suaminya.


"Kenapa?" Anggara menahannya sedikit.


"Tanganmu itu sudah merayap kemana-mana." Zahira berlalu masuk mengambil hijab langsung memakainya.


Anggara tersenyum pasrah, berjalan mengikuti Zahira turun ke bawah dan melaju ke Vila yang berada di seberang tempat mereka tinggal.

__ADS_1


Sedangkan di jalan menuju puncak tersebut, dua mobil mewah melaju dengan sedikit kencang. Mereka adalah Radit dan Akbar, beserta beberapa rekan kerja yang menjadi tim mereka dalam proyek baru, di puncak kota B.


"Disini indah sekali, jika Zahira masih ada pasti dia akan senang sekali." Radit sedang membayangkan kebersamaannya dengan Zahira.


Akbar tersenyum sambil menyetir, pria itu tak menjawab hanya ia cukup mengerti bahwa sepupunya masih belum bisa melupakan Zahira yang sangat cantik.


"Kau tahu, bahkan Laura tidak bisa menggeser posisi istriku itu dari hati ini." Radit menunjuk dadanya sendiri.


"Tentu saja, kalian tumbuh bersama. Dia cinta pertamamu juga istrimu, pernikahan yang belum sampai satu tahun kalau berpisah rasanya akan sangat menyiksa, dan tidak akan pernah bisa dilupakan. Itu kata orang!" Akbar tersenyum sedikit.


"Itu bukan kata orang, tapi katamu." Radit tertawa, namun tak menghapus kegetiran diraut wajahnya.


"Kita sudah sampai." Akbar keluar menghentikan mobil mereka di halaman Vila.


Mereka semua turun dengan lega menikmati udara segar yang ketika di hirup langsung terasa sejuk hingga ke dalam dada, rongga yang penuh itu terasa kosong seketika.


Radit mengeluarkan alat teropong jarak jauh yang ia bawa untuk kepentingan pekerjaan mereka, melihat kesana-kemari dengan kedua sudut bibirnya tertarik menikmati pemandangan sekitar yang begitu indah.


"Ayo masuk, nanti saja mulai bekerjanya." Akbar menepuk pundak Radit untuk segera masuk dan beristirahat, juga lapar tentunya.


Hingga menjelang sore, di sebelah Utara putaran puncak yang indah. Anggara sedang memandangi istrinya yang sedang sibuk memetik buah jeruk di perkebunan miliknya, wajahnya begitu bahagia memetik banyak buah-buahan yang hampir semuanya berwarna oranye itu.


"Sayang apa belum cukup?" Anggara mendekatinya.


"Kali ini aku akan memetik yang banyak, karena sudah tidak mencuri, ini milikku." sambil tangannya begitu lincah mencari buah yang sudah matang.


Anggara memandanginya dengan mulut terbuka, ia sedang memastikan apa yang baru saja di ucapkan istrinya.


"Sayang jas ku yang mahal itu sempat kotor karena jerukmu ada yang pecah di dalam kantong ku." Anggara memancingnya lagi.


"Kau perhitungan sekali, bukankah aku kesayanganmu." ucapnya tak menyadari jika yang mereka bicarakan adalah masa lalu.


"Tentu saja, kau kesayanganku, kau dan anak kita." Anggara meraihnya dan memeluk erat.

__ADS_1


"Aku belum selesai." ucapnya dalam perlukan Anggara.


"Sudah sayang, kau tidak boleh lelah." Anggara menggenggam tangan lentiknya, mengecupnya begitu lama.


__ADS_2