
"Zahira!" Radit juga meninggalkan persidangan, mereka keluar meninggalkan pengacara masing-masing.
Ricky ingin menyusul namun ia jadi dilema, jika ia keluar menyusul Zahira berarti perceraian akan di tunda atau bahkan di batalkan, dan Ricky tetap melanjutkan persidangan seorang diri.
"Zahira tolong dengarkan aku!" Radit berhasil menghadang Zahira, ia memandang wajah cantik itu tampak sendu dengan kelembutan yang tak pernah luntur meskipun sedang marah.
"Ingin sekali aku memukulmu Radit." ucapnya dalam isak tangis yang menyedihkan.
"Pukul saja sayang, aku akan siap menerima apapun darimu asal tidak berpisah." Radit memegang kedua tangan Zahira, sungguh ia tak berdaya dengan sejuta cinta yang masih tersimpan di dalam hatinya.
"Kau pembohong, kau menyakitiku!" tangisnya semakin menjadi.
"Aku tidak bermaksud begitu Zahira, aku bisa buktikan aku tidak seperti itu! jika tidak percaya kita datangi dia." Radit mencoba meyakinkan Zahira.
"Kau berani?" tanya Zahira tidak yakin.
"Tentu saja aku berani, aku berkata yang sebenarnya, aku hanya mencintaimu Zahira sayang." ucapnya merayu.
Zahira tampak berpikir, dari Minggu lalu ia memang berkeinginan bertemu wanita itu, tapi hingga saat ini belum ia lakukan. Dan jujur saja rayuan Radit membuat seorang Zahira melunak, tapi tidak!
"Tidak perlu, aku sudah cukup sakit." jawabnya pelan, Zahira menuju mobilnya.
"Zahira aku mohon, aku tidak ingin bercerai, aku ingin kita tetap bersama, mintalah apapun aku akan melakukannya untukmu Zahira." pinta Radit berusaha mencegahnya.
Zahira tidak mau mendengar, ia masuk dan segera melajukan mobilnya menuju apartemen baru.
Satu jam kemudian persidangan usai dan Ricky segera menyusul Zahira ke apartemen, pria itu merasa khawatir dengan Zahira, ia tak yakin gadis itu baik-baik saja.
"Halo!" ucapnya menerima panggilan ponsel.
"Aku menuju apartemenmu, aku tidak yakin dia baik-baik saja, kasihan dia sendirian." jawab Ricky.
"Baiklah, langsung menuju ke sana." ucapnya lagi dan menutup panggilan telepon.
Tiba di apartemen pria itu langsung menuju lantai Lima belas, pria itu tak menoleh apapun, wajah tampannya terlihat sangat khawatir.
"Ricky!" panggilan Anggara menghentikan pintu lift yang segera tertutup.
"Masuklah, dia sendirian terlalu lama." ucapnya dengan nada khawatir.
"Mengapa tak menghubungiku?" kesal Anggara.
__ADS_1
"Aku tetap meneruskan persidangan jika tidak perceraiannya akan di batalkan, tadi saja hasilnya di undur Minggu depan walau kemungkinan besar dikabulkan." ucapnya meyakinkan Anggara.
Hingga lift berhenti mereka keluar terburu-buru dan mengetuk pintu apartemen Zahira. Tak ada jawaban, berkali-kali tetap tak ada jawaban.
"Minta akses pada keamanan." perintah Anggara.
Ricky menghubungi seseorang, hingga beberapa saat setelahnya seorang pria datang memberikan card cadangan untuk membuka pintu.
"Zahira!" panggil Anggara masuk ke dalam dan melihat sekeliling ruang tamu tak menemukan gadis itu, Anggara menuju kamarnya. Dan!
"Zahira!" ucapnya bergetar, Anggara sungguh khawatir melihat gadis itu berguling-guling di lantai dengan memegangi dadanya. Anggara segera mendekati dan meraih tubuh kecil itu kedalam pangkuannya.
"Ada apa denganmu Zahira?" ucapnya khawatir.
"Dia tak bisa bernafas!" Ricky juga terlihat khawatir.
"Minta dokter datang kemari!" Anggara menatap wajah cantik itu pucat dengan mulut terbuka dan tangan memegangi dada, air mata membasahi pipinya.
"Sudah, tapi dia tidak bisa bernafas." ucap Ricky lagi.
"Aku harus bagaimana?" tanya Anggara.
"Nafas buatan." ucap Ricky.
"Ish, kau menunggu dia benar-benar tidak bernafas?" Ricky menunjuk Zahira yang sedang dipangku Anggara.
"Aku tidak mungkin menciumnya." jawab Anggara bingung.
"Kalau tidak mau biar aku saja." Ricky mendekati Zahira.
"Tidak!" Anggara mendorong Ricky.
Pria tampan itu segera menggendong Zahira naik ke tempat tidurnya, mengatur bantal dan mencoba menenangkannya.
"Baby, dengarkan aku." ucapnya lembut sekali. "Lupakan yang membuatmu lelah, ingat masih ada aku bersamamu, akan selalu bersamamu." Anggara menatap mata bening itu masih mengeluarkan air mata dengan dada sesaknya.
"Sayang, kau dengar! Setelah ini kau bisa melakukan apapun maumu, aku janji akan mengikuti semua keinginanmu. Lupakan rasa sakit itu dan kita akan bersenang-senang, kemanapun, kapanpun, dan apa saja yang kau suka." Anggara menggenggam tangan kecil yang terasa dingin.
Lama, dan sepertinya berhasil, Zahira mulai tenang dan rasa sesaknya terlihat berkurang, namun air matanya masih mengalir.
"Om." panggilnya pelan.
__ADS_1
"Iya, minumlah sedikit." Anggara memberikannya minum air hangat yang di bawakan Ricky, dan benar ia meminumnya sedikit.
"Aku lelah, rasanya aku ingin mati." ucapnya sedih.
"Kau tidak boleh mati tanpa memberiku seorang anak, mengerti!" Anggara sudah tidak menutupi perasaannya.
"Kau tidak mengerti." jawabnya masih bersedih, mata bening itu terlihat sembab. "Rasanya sakit sekali, aku tidak memiliki siapapun, bahkan seseorang untuk sekedar menyandarkan beban." tangisnya kembali.
"Kau lupa berkali-kali ku katakan kau masih punya aku." Anggara meyakinkannya. "Kau bisa menyandarkan beban padaku." ucapnya lagi.
"Aku_" isaknya hingga menggoyangkan bahu.
Anggara meraih tubuh kecil itu dan memeluknya erat sekali, dia sudah tidak tahan melihat air mata itu mengalir terus-menerus, sungguh ia lelah melihat penderitaan yang ia sendiri tidak tau bagaimana melewatinya. Untuk pertama kali Anggara memeluk seorang wanita begitu erat, hatinya menghangat disertai kebahagiaan yang membuncah, mengobati kerinduan yang berpuluh tahun ia pendam sendiri.
'Reva, aku sungguh mencintai putrimu. Berikan Restu kalian padaku, aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku." ucapnya di dalam hati, membiarkan tangis gadis itu semakin menjadi, membiarkan air mata itu membasahi hati.
Pintu apartemen terdengar di ketuk, Ricky yang ikut terlarut dalam haru segera sadar dan membuka pintu.
"Itu Dok, tadi dia sesak." Ricky menunjuk gadis dalam pelukan Anggara.
Anggara melonggarkan pelukannya, mengusap air mata Zahira dan kembali memintanya berbaring. Ia tak sadar dokter wanita itu tercengang memperhatikan keduanya.
"Kau periksa dia." pinta Anggara pada dokter muda itu.
"Iya." jawabnya tersenyum.
Dokter itu menatap wajah sembab Zahira, memeriksa semuanya hingga selesai.
"Bagai mana?" tanya Anggara sudah tak sabar.
"Dia baik-baik saja, hanya mungkin dia sedang mengalami tekanan batin yang cukup berat, itu juga bisa membuat sesak dan sulit bernafas. Panik, marah dan kecewa tapi tak punya tempat untuk meluapkan perasaan." ucapnya berhenti sejenak.
"Dia memang sedang tidak baik-baik saja." Anggara menjawab.
"Ajak refreshing mungkin, mengembalikan mood, itu juga perlu di lakukan." ucap Dokter muda itu sambil memberikan beberapa obat dan vitamin.
"Baiklah, kita akan jalan-jalan kemanapun kau mau." Anggara benar-benar lupa segalanya, ia hanya berpikir untuk menyenangkan Zahira saja.
"Dia kekasihmu?" tanya dokter muda itu.
"Itu, a_" Anggara salah tingkah menjawabnya.
__ADS_1
"Dia calon istrinya Dok." Ricky membantunya menjawab.
"Hah!" Zahira tak percaya mendengar itu.