Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
261. Belum sarapan


__ADS_3

Radit ingin mengejar, namun ia teringat ada anak-anak di rumahnya, niatnya singgah ke pusat perbelanjaan tersebut adalah membeli makanan ringan untuk mereka. Radit kembali masuk, dengan sedikit terburu-buru meraih banyak makanan karena sebentar lagi akan Maghrib.


Sementara Ayra duduk di dalam taksi dengan memejamkan mata. Ya, dia tidak ingin menangis, lagi pula tujuannya datang ke negara ini bukan untuk menangis, tapi untuk mencegah Reza Mahendra untuk menikahi Zahira adiknya. Itu tidak boleh terjadi, bagaimanapun caranya dia harus menyingkirkan Reza, apapun!


"Sudah sampai Nona." suara sopir taksi membuyarkan lamunan Ayra.


"Iya pak, terimakasih." Ayra meraih kantong besar yang penuh dengan belanjaan miliknya, lalu membayar dan keluar dengan segera.


Suara adzan terdengar jelas memanggil semua orang yang ada di komplek perumahan tersebut. Terdengar merdu dan mendayu-dayu di telinga Ayra, ia tertegun mendongak ke atas langit, terlihat ujung menara mesjid dari balik rumah warga. Entah mengapa hatinya semakin nyeri dengan apa yang sedang di alaminya. Merasa sangat tidak beruntung, hidup yang tadinya cerah kini terasa mengabur dengan satu malam yang buruk datang tiba-tiba merampas bahagia. Entahlah, semenjak kejadian itu, semua laki-laki baginya sama, wajah atau tubuh seseorang menjadi mirip Reza Mahendra. Ayra masuk dengan kantong belanjaan yang nyaris tak muat, walaupun ringan tapi lumayan besar.


"Dimana Zahira?" tanya laki-laki yang berdiri di gerbang, tadinya dia mirip pria brengsek Reza Mahendra, tapi setelah dekat ternyata memang dia.


Ayra tak menjawab diam menunggu gerbangnya di buka.


"Ternyata telingamu belum sembuh!" ucapnya sangat kesal.


Ayra mendelik tajam, tetap tak mau menjawab.


"Sini Mang Udin bawa." satpam rumah itu meminta belanjaan Ayra untuk di bawa.


Ayra memberikannya dan karena terlalu penuh hingga keluar beberapa kotak belanjaannya, termasuk susu hamil.


Tadinya tak mau memperhatikan, namun tulisan pada kotak tersebut membuat Reza menajamkan penglihatannya. Dia tahu persis itu susu hamil, dia pernah membeli itu untuk Zahira. Ya, Reza pernah menemani Zahira belanja!


"Hei!" Reza meraih bahu Ayra namun tak sempat, mengejarnya masuk tapi di halangi Satpam rumah tersebut.


"Maaf Pak, tidak bisa sembarangan masuk rumah ini." ucapnya menahan Reza dan menutup pintu.


"Tapi pak!" Reza mendorong gerbang sehingga terjadi dorong-dorongan.


"Pak, saya bisa bunyikan alarm tanda bahaya kalau terus memaksa!" ucap satpam tersebut, dan berhasil membuat Reza menyerah.


"Saya-" Reza ingin sekali menjelaskan siapa dirinya tapi rasanya percuma.

__ADS_1


Reza mengusap kasar wajahnya, memandangi rumah tersebut dengan hati tak karuan.


Tapi kemudian ia berbalik menuju mobil dan melaju meninggalkan rumah itu.


"Reza!"


Radit yang sengaja memastikan Ayra tiba di rumah terkejut ketika melihat mobil mewah milik Reza Mahendra baru saja meninggal rumah tempat tinggal Ayra tersebut.


"Untuk apa dia kesini?" Radit bergumam sendiri.


...***...


Pagi-pagi sekali Reza Mahendra sudah ada di rumah Zahira, wajah yang selalu taman dan segar hari Ini sedikit berbeda, mata hitam pekatnya terlihat memerah di di sekeliling kornea.


"Selamat pagi Pak, Zahira ada?" sapa Reza ketika mobilnya sudah memasuki rumah Zahira.


"Ada Tuan." jawab pak Teddy sopir Zahira.


Reza masuk dengan langkah lebih cepat, namun tak terlihat buru-buru, sehingga pas dengan tubuh tegapnya terlihat tampan dan sempurna sekali.


Dia menyapa Zahira yang sedang sarapan.


"Mas Reza." Zahira melirik jam, sepertinya Reza sengaja datang lebih pagi untuk menemuinya.


"Boleh aku sarapan bersamamu?" Reza memegang kursi Zahira dan sedikit menunduk.


"Hem." Zahira mengangguk, mempersilahkan Reza duduk di sebelahnya sedikit berjarak.


"Terimakasih." Reza tersenyum dan duduk manis. Mata hitamnya menatap wajah Zahira yang cantik. Dia benar-benar sedang kacau setelah semalam datang ke rumah Ayra. Bahkan semalaman ia tidak tidur karena memikirkan Zahira, takut kehilangannya.


"Ada apa?" Zahira menatap wajah pria yang sejak tadi bukannya makan malah memperhatikan dirinya.


"Tidak, hanya sedang membayangkan betapa bahagianya jika kita sarapan bersama setiap hari, pergi bekerja bersama setiap hari, menjemputmu dan tidur selalu memandang wajah cantik mu dari dekat. apakah kau tidak pernah merasakan keinginan yang sama sepertiku, walau sedikit saja?" tanya Reza dengan wajah sendu, entah mengapa rasanya sesak sekali membayangkan hal yang akan menghancurkan kedekatannya.

__ADS_1


Zahira melepaskan sendok di tangannya, menatap wajah pria yang sedang mencintai dan memohon untuk di balas perasaannya.


"Aku tak munafik jika aku nyaman bersamamu, alasan aku menerima perhatianmu karena hatiku juga memiliki keinginan untuk bersama walau tak sebanding dengan apa yang ada di hatimu, karena aku punya Mas Anggara sebelumnya. Tapi anak-anak juga prioritas utamaku Mas, dan aku tak mau kau membuat jarak dengan ibumu hanya karena cintaku yang tak akan sebanding dengan cinta ibumu. Bisakah kau merelakan saja kedekatan ini?" tanya Zahira pada akhirnya.


"Tidak bisa Zahira, aku sudah tidak bisa mundur mencintaimu, sekalinya ku lepas kau akan benar-benar hilang dari hidupku. Ada banyak laki-laki sempurna di luar sana, dan mereka menginginkanmu." ucap Reza terdengar sedih.


"Lalu aku harus apa?" tanya Zahira lembut sekali.


"Mari menikah. Abaikan semua orang yang akan memisahkan kita Zahira, aku tak peduli."


"Mas."


"Zahira, anak-anak akan besar seiring waktu, aku akan mengurus kalian dengan baik, aku berjanji! Setelahnya mereka akan menjadi penguasa atas semua yang di milikinya, dan kau milikku, aku akan memberikan apa yang kau mau, aku tidak menginginkan apapun kecuali kau membalas perasaanku dan menjadi istriku." Reza memohon.


Zahira menunduk bingung, dia tak tahu harus menjawab apa, jujur saja terkadang ia melihat Anggara di dalam diri Reza Mahendra, caranya, kedewasaannya, dan cintanya. walaupun iya, Anggara lebih sempurna segalanya. Mungkin hanya karena terlalu rindu, dan Reza memang menyukai gaya yang sama sehingga Zahira nyaman tanpa dia sadari, dan larut dalam perasaan yang dia sendiri belum yakin.


"Zahira, ayolah! Kau akan bisa menjalani hari-hari kita dengan bahagia, aku janji akan membuatmu selalu bahagia."


"Mas, beri aku waktu."


"Tidak ada waktu lagi, ayo berangkat! Anak-anak sudah menunggu."


Entah bagaimana Radit bisa masuk tanpa terdengar langkah kakinya, pria muda itu sudah berdiri dengan tampilan fresh, wangi dan tampan sekali.


Reza mengusap kasar wajahnya, bahkan dia belum sarapan.


"Bibi, siapkan bekal untuk Mas Reza." Zahira memanggil asisten rumah tangga yang biasa menyiapkan makanan.


"Iya Nyonya." asisten tersebut setengah berlari segera keluar dari dapur.


"Kau sudah makan?" tanya Zahira hanya berbasa-basi dengan Radit.


"Sudah, aku tak pernah kesiangan." jawabnya melirik Zahira dan bibir merahnya sedikit tersenyum, sambil meraih buah anggur di atas meja dan memakannya.

__ADS_1


"Kau menyindirku." gerutu Zahira, sedangkan Reza hanya membuang pandangannya kesana-kemari, kesal dengan kehadiran Radit.


__ADS_2