
"Perceraian itu tidak membutuhkan kehadiranmu."
"Kau benar-benar penipu ulung, kau menipuku, menipu istriku dan merebutnya." Radit kembali mendekati Anggara.
Anggara diam tak menjawab, menyaksikan amarah yang begitu besar di mata Radit.
"Aku minta sekali lagi, ceraikan Zahira! Dia masih istriku." ucap Radit pelan, namun di selimuti kemarahan.
"Aku tidak akan melepaskannya, kau sudah melewatkan kesempatan itu. Dan aku juga tidak akan melewatkan kesempatan ini, aku tidak mau menyesal seperti dirimu."
"Dia istriku!" Radit kembali mencengkeram baju Anggara, gigi pria itu merapat seakan ingin patah.
"Bukan!" jawab Anggara balas menatap tajam.
"Aku katakan sekali lagi, tinggalkan dia!"
"Tidak akan pernah!"
"Kau harus mengembalikan Zahira padaku, dia istriku, dia ISTRIKU!"
"Sekarang dia isriku!"
"Kalau begitu kau harus menceraikannya!"
"Itu tidak mungkin!"
"Mengapa tidak mungkin!"
"Dia sedang mengandung anakku!"
Deg
Seketika cengkeraman itu mengendur, tenaga dan amarah yang meletup-letup itu terhenti dengan sebuah kalimat yang baru saja di dengarnya.
"A-apa?" ucapnya terbata.
"Ya, Dia sedang hamil anakku!"
Mata sipitnya mengabur dengan hati semakin hancur, kepalanya terasa sakit, dia ingin bangun dari tidur yang aneh itu.
Namun tidak!
Anggara di hadapannya, dia sedang bertengkar dengan pria tua itu, dia tidak bermimpi.
__ADS_1
"Kau menyentuhnya! Kau membuatnya mengandung anakmu. Brengsek, kurang ajar, tidak tahu malu. Dia istriku!" Radit mendorong Anggara hingga jatuh di kursi dengan posisi menyandar, Radit memukulnya dengan membabi-buta, pria itu seperti sedang kesetanan tak peduli pukulannya mengenai Anggara atau juga meleset.
"Aku akan membunuhmu! Kau akan mati pria sialan, kau benar-benar brengsek!" Radit berteriak-teriak dengan terus memukul, ia bahkan sudah menduduki perut bagian bawah Anggara.
"Hentikan Radit!" Ricky yang mendengar suara menjerit-jerit di ruangan rapat itu berlari dan menarik tubuh Radit agar menjauh dari Anggara, ia tampak kesusahan dengan perlawanan masih di lakukan Radit.
Dan di belakang mereka David dan Ayu juga sedang berlari segera mendekat dan meraih Radit yang masih meronta-ronta ingin kembali menyerang Anggara.
"Dia membuat istriku hamil, dia mencuri dan menyembunyikannya." teriak Radit masih sangat marah.
"Radit, tenangkan dirimu Nak." Ayu menghadap Radit, membingkai wajah pria itu mencoba menenangkannya.
"Dia mengambil Zahira, menipunya dan menghamilinya." kali ini suara itu terdengar lirih, kemarahan itu berubah menjadi air mata yang jatuh mengalir deras.
"Kendalikan dirimu Sayang!" ucap Ayu lagi, ia begitu sedih melihat putranya menangis dan mengamuk sehingga harus di pegang bahu kiri dan kanannya oleh David juga Ricky.
"Harusnya dia mengandung anakku." ucapnya masih dengan air mata jatuh menghangatkan pipinya.
"Kita pulang." David angkat bicara memaksa Radit berbalik ikut dengannya.
"Aku tidak ingin pulang, aku ingin membunuhnya." dia kembali berteriak.
"Radit, kau tidak bisa membunuh seseorang dengan keadaan menyedihkan." Ricky setengah membentak Radit dan ikut membantu David membawanya keluar.
Ayu yang masih berdiri berbalik melihat Anggara, sejenak ia terdiam memandangi wajah itu biru dan berdarah.
"Aku minta maaf." ucapnya pelan.
Anggara tak menjawab melainkan ia sedang menahan amarah juga di dalam hatinya.
"Terimakasih kau masih menghargai hubungan baik kita. Aku tahu jika kau mau kau bisa saja menghabisi putraku dalam waktu sekejap saja. Aku yakin kau masih Anggara yang baik seperti saat kau mencintai Kakakku, dan aku yakin jika Zahira akan baik-baik saja bersamamu."
Ayu meninggalkan ruangan itu, ia bersedih, sangat bersedih melihat putranya mengamuk dan menangis, tapi ia juga tenang karena Anggara tak membalas Radit, pria itu cukup paham dengan keadaan dan dapat di pastikan jika ia tak ingin ada kesalahpahaman, yang artinya tak ada yang perlu diributkan saat ini. Biar waktu yang akan menjawab semuanya, juga hanya waktu yang akan menyembuhkan semua luka, luka hati seorang mantan suami, Raditya.
"Terimakasih sudah menghubungiku." ucap David pada Ricky yang selalu santai.
"Aku hanya berharap semua ini cepat berlalu, dan-"
"Dan apa?" tanya David.
"Menantumu adalah orang yang pintar." Ricky tersenyum.
"Aku tahu." David juga tersenyum.
__ADS_1
David melajukan setelah Ayu masuk dan menemani Radit di dalam mobilnya.
Sedangkan Ricky kembali masuk menemui Anggara yang ketampanannya sudah berkurang akibat pukulan Radit.
"Mau ku antar ke rumah sakit?" ucap Ricky melihat wajah Anggara dari dekat.
"Tidak, aku hanya butuh air hangat dan setelahnya aku akan pulang." jawab Anggara masih memegang pipi yang memerah.
"Tunggu sebentar." Ricky keluar meminta seseorang mengantarkan air hangat untuk mengompres pipi Anggara.
"Pastikan semua saham sudah di tarik hari ini." ucapnya menyandar lelah.
"Kau tenang saja, tidak akan ada yang bisa lolos dari jebakan Batman." jawabnya bercanda.
"Enak sekali dia menggunakan uangku untuk menghabisi nyawa anak buahku juga istriku, dan sekarang juga dia memakainya untuk memata-matai aku, dan membahayakan istri dan anakku." Anggara berkata sambil masih meringis, pria itu tak pernah mengomel, tapi kali ini ia benar-benar sedang kesal.
Ricky mengambil mangkuk dengan sebuah kain yang diantar seorang OB.
"Aku bisa sendiri." Anggra meraih dan mengompres pipinya.
"Mengapa tidak melawan, paling tidak kau menghindar." ucap Ricky hanya melihat tangan Anggara menekan kain hangat itu ke sudut bibirnya.
"Biarkan saja, agar dia puas." jawabnya sedikit meringis.
"Kau terlihat bersalah jika seperti ini." ucap Ricky, mengasihani atasannya.
"Aku seperti pencuri yang sedang tertangkap oleh pemiliknya?" tanya Anggara sedikit tersenyum.
"Kau mencuri istrinya." canda Ricky lagi.
"Entahlah. Sebaiknya aku pulang menemui istri dan anak-anakku." Anggara melepaskan kain itu dan meraih ponselnya.
"Tunggu! Kau bilang anak-anak?" Ricky mengangkat satu tangan dan menunjuk Anggara.
"Calon anakku kembar." jawab Anggara tersenyum bahagia.
"Wah!" Ricky melebarkan matanya, dia hanya menatap Anggara berlalu dengan wajah yang berbinar, seakan pukulan Radit yang sekian banyak itu tidak ada artinya.
"Dia rela di pukul karena itu." Ricky berbicara sendiri.
"Aku bahkan rela mati demi mereka bertiga." jawabnya di ambang pintu, pendengaran pria itu cukup baik ternyata.
Ricky tertawa sambil ikut menyusul keluar, pria itu kembali keruangan dengan wajah selalu ceria. Lagi, dia sedang bahagia akan mempermainkan nasib beberapa perusahaan, ia akan senang melihat pria tua merengek dan memohon padanya. Sungguh itu adalah bagian dari kehebatan seorang Ricky, tak lupa kali ini salah satu rekan asistennya akan ikut serta, Ricko yang sengaja Anggara letakkan di bagian lain di luar kota. Dan sepertinya tak hanya mereka berdua, kali ini ada banyak asisten yang akan ikut dalam permainan saham Anggara.
__ADS_1