
"Sayang!" Anggara menatapnya heran, pria itu mendekati Zahira yang sedang terlihat marah.
"Kau tega sekali padaku, kau menyimpan wanita di rumah ini tapi mengajakku tinggal disini! Apa aku masih kurang untukmu? Katakan padaku dia siapa dan sejak kapan kau bersamanya?" teriak zahira dengan penuh amarah.
"Sayang!" Anggara mendekat dan ingin meraihnya.
"Sejak kapan?" teriaknya lagi.
"Sembilan tahun yang lalu." jawab Anggara tak mau menunda jawaban, malah terkesan terburu-buru.
"Mas! Kau keterlaluan!" tangan lentiknya meraih jas di dada Anggara, menariknya dan mendorongnya lalu memukul berkali-kali.
"Sa-."
"Kau sama saja dengan Radit, katanya mencintai aku dengan nyawamu, semua milikku. Ternyata malah tidak pernah bisa bertahan dengan satu wanita saja. Kau menjijikkan."
"Zahira Sayang dengarkan aku!"
"Aku benci dirimu! Kau malah membuatku menjadi yang kedua, kau egois, kau pura-pura baik tapi akhirnya kau menyakitiku." Zahira menangis dan mengamuk dalam pelukan Anggara, pria itu tidak melepasnya meskipun Zahira memberontak dan memukul.
"Sayang-."
"Lepas, aku mau pergi! Aku tidak sudi menjadi wanita ke dua!" teriaknya sangat keras di depan wajah Anggara.
"Tapi kenyataannya-"
"Aku tidak mau berbagi ranjang dengannya, menjijikan! Laki-laki sama saja! Baru semalam kau menghabiskan waktu tidur denganku, malah sekarang kau sangat senang menerima kedatangan dia." Zahira menunjuk wanita yang masih diam dan bingung di belakangnya. "Sial sekali hidupku, selalu diperlakukan sama oleh pria-pria perayu dan hanya pandai menyatakan cinta, tapi malah berkhianat setelahnya." Zahira tak lagi mengamuk, mata bening itu redup dan mengeluarkan air mata, ia benar-benar kecewa. Tangan halusnya melemas, jari-jari lentik itu tak lagi mencengkeram baju Anggara. Jelas terlihat kekecewaan yang sangat dalam di wajah cantik itu, dia kehilangan kekuatan.
Anggara tertegun menyaksikan betapa hancurnya wanita yang menjadi istrinya itu, tangan kokohnya mengendur dengan hati ikut terluka. "Sayang, aku tidak seperti itu." ucap Anggara pelan.
Zahira mundur perlahan, ia berbalik menuju pintu keluar dengan mengusap air mata.
"Zahira." Anggara menghadang Zahira dan memegang bahunya.
__ADS_1
"Minggir." ucapnya pelan, tak mau menatap wajah Anggara.
Anggara memeluknya erat sekali, ia benar-benar merasa jika Zahira sangat kecewa padanya. Tangan kokohnya mendekap hangat, dengan wajahnya bersembunyi di leher wanita yang hanya diam tanpa mau melawan membuang tenaga. "Bagaimana jika benar aku memiliki wanita selain dirimu?" tanya Anggara tak memberi celah Zahira untuk sekedar bergerak.
"Aku ingin kita berpisah." jawab Zahira mengeluarkan air mata.
"Kau tidak mencintaiku?" tanya Anggara berbisik.
"Aku sangat mencintaimu." dia semakin menangis, entah mengapa ia merasa dekapan hangat Anggara memaksanya untuk mengatakan cinta.
"Aku juga." Anggara mengusap tubuh ramping itu dengan mesra.
"Itu bohong. Kau membuatku jatuh cinta dan memberi kebahagiaan tapi ternyata kau pembohong!" tangisnya kembali pecah dengan teriakan.
"Aku tidak berbohong! Dia-"
"Ini aku Nona!"
Wanita bercadar itu membuka pakaian panjangnya dengan sekali hentak, sehingga tampak tubuh tinggi kurus semampai dengan rambut kuncir kuda dengan pakaian hitam kesukaannya.
Zahira juga Anggara menoleh cepat, melihat wanita wanita yang begitu lembut gemulai itu ternyata adalah Jia. Sejenak dari hening yang membuat mulut kecil Zahira terbuka, ia menatap Anggara yang sejak tadi memandangi dirinya dari dekat.
Senyum manis terukir di wajah tampan itu, menatap mesra, gemas dan penuh kasih sayang. Membuat Zahira salah tingkah dan malu dengan amarahnya, ternyata ia sedang cemburu buta pada Jia yang memang sudah lama di tunggu kedatangannya.
"Aku suka sekali jika istriku sedang cemburu." Anggara semakin menggoda wajah cantik yang bersemu merah.
Zahira mengigit bibirnya mencoba untuk menghilangkan gugup, namun percuma karena Anggara tidak mengalihkan perhatiannya, malah semakin senang memandangi wajahnya.
"Mau kemana?" Anggara menahan tangan kecil itu mendorong dada bidang Anggara, ia berlalu tak mau menoleh.
"Maaf!" ucap Jia, meraih pakaian pink yang membuatnya risih.
"Tidak masalah, terimakasih sudah membuat istriku cemburu." Anggara tersenyum masih menatap punggung Zahira masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
__ADS_1
"Istirahatlah, kita lanjutkan pembicaraan kita nanti." Anggara menyusul Zahira dengan sejuta bahagia dan gemas di hatinya. Sudah pasti perang di atas ranjang kembali terjadi.
Sedikit resah itu masih mengganjal, mengingat ada Radit yang lebih tampan dan muda akan datang ke rumah mereka nanti malam, akankah Zahira masih sangat mencintainya seperti saat ini jika bertemu lagi dengan Raditya? Anggara jadi gelisah meskipun sempat bahagia karena Zahira begitu cemburu dan menyatakan cintanya.
*
"Kita akan ke rumah Anggara nanti malam, aku senang sekali ia sudah berpindah rumah menjadi lebih dekat dengan kita, jadi setiap pulang kerja kita akan bisa menjemput Satria dan Sadewa." David berbicara pada Ayu, duduk di teras menikmati suasana sore hari.
"Benar sekali, kita bisa mengajaknya menginap." Ayu tertawa senang membayangkan dapat membawa kedua anak itu kerumahnya.
"Tapi, aku sedikit heran mengapa mendadak mereka pindah rumah. Bukankah rumah besar itu merupakan rumah utama, dan tidak mungkin jika hanya karena bosan." David tampak berpikir.
"Ya, nanti kita tanyakan saja pada mereka." Ayu mencoba untuk tidak berpikiran buruk.
"Aku juga sedang memikirkan hal yang sama, aku takut jika ada yang sedang mengganggu mereka." Radit menyahut dan ikut bergabung dengan kedua orang tuanya.
"Saat Anwar mengirim orang untuk mengincar mereka, Anggara malah tidak khawatir sedikitpun. Jadi keamanan bukan alasan." David mengingatkan.
"Benar." Ayu hanya ikut apa yang di ucapkan David. Tapi tidak dengan Radit, ia tampak belum lega dan tak juga menemukan jawaban.
Pukul Tujuh Tiga puluh selesai isya, Mobil hitam memasuki kediaman baru Anggara, sepertinya para bodyguard Anggara sudah hapal dengan mobil itu dan membiarkan masuk tanpa menanyainya atau memeriksa terlebih dahulu.
"Neneeekk!" teriakan itu terdengar menusuk telinga, Dua bocah kembar tak sama sudah berdiri di lobi rumah itu dengan tampilan terbaik dan rapi seperti biasanya.
"Hai Sayang." Ayu segera turun dan menggendong salah satunya dengan seorang lagi memeluk kaki Ayu.
"Satria!" David menggendong Satria yang tidak bisa ikut digendong Ayu.
"Kakek." ucapnya senang, memeluk leher David dengan penuh rindu.
Mereka bercanda dan tertawa melepas rindu hingga sosok tampan itu keluar dari mobil dan menatap bocah dalam gendongan orang tuanya satu-persatu. Tatapan kagum dan rindu, ingin mendekat dan melihat seperti apakah anak-anak jenius yang di ceritakan orangtunya, sungguh beruntung bisa memiliki mereka.
Kedua anak itu mendadak diam, ketika dua pasang mata mereka sama-sama melihat ke arah Radit yang sejak tadi memperhatikan keduanya. David dan Ayu mengerti jika mereka perlu berkenalan, menurunkan kedua bocah laki-laki itu dari pelukan mereka.
__ADS_1
"Kau siapa?" tanya Satria pada laki-laki dewasa yang menatap kagum padanya.