
Hening sejenak, rasa lelah kecewa juga berduka menyelimuti ruangan besar rumah Ayu. Wanita itu tak kalah terkejut, lemas dan kecewa sudah pasti.
"Ternyata dia penipu." ucap Ayu pelan.
"Sejak awal aku memang tidak menyukainya, entahlah." David mengingat saat Merry datang ke rumah itu.
"Aku tidak menyukainya, tapi yang kupikirkan saat itu hanyalah Laura untuk menyemangati Radit, aku tidak ingin kehilangan Radit juga Zahira bersamaan. Aku juga merasa tertekan dengan banyaknya kejadian." Ayu menatap langit-langit rumahnya, sedikit menyesal mungkin, tapi bukan tanpa alasan.
"Aku tahu kau memikirkan perasaan Radit yang saat itu putus asa, tapi aku tidak bisa berpura-pura. Dan akhirnya aku mengetahui satu hal, dia adalah penyebab kecelakaan Zahira. Beruntung putri kita ada di tangan Anggara, jadi dia selalu aman, tak ada yang bisa menyentuhnya. Aku bersyukur Tuhan menjaganya lewat tangan Anggara, terlebih lagi saat dia hamil, pria tua itu akan menjaganya sangat ketat."
"Apa tidak ada pembahasan yang lain selain Papa memuji tua bangka itu?" Radit berdiri dan menatap tajam pada David, ia berlalu menuju lantai dua, menuju kamar yang bersebelahan dengan Zahira.
"Kau membuatnya tersinggung!" Ayu melempar batal ke dada David, bentuk protes atas persetujuan tentang kebersamaan Zahira dan Anggara.
"Tapi itu benar!" David tentu tak mau mengalah.
"Memang benar, tapi kau juga harus menghargai perasaan putramu sendiri, ingat jika dia masih mencintai Zahira, sangat-sangat mencintainya David! Dia depresi berat karena cintanya pada Zahira, jadi tolong kau menjaga perasaannya sedikit." Ayu menatap kesal pada suaminya.
"Maaf! Aku hanya ikut bahagia saat putri kita bahagia. Kau juga tahu itu, dia berhak bahagia setelah semua yang membuatnya menderita. Aku tidak menyalahkan Radit, Radit juga korban di sini. Jangan lupa, mereka juga saudara terlepas dari sebuah pernikahan yang gagal. Kita harus tegaskan itu pada mereka." jelas David.
"Aku tidak yakin itu bisa berhasil." Ayu terlihat ragu, apalagi dengan sikap Radit yang sama sekali belum dewasa.
"Tetap harus di coba, mereka tidak boleh terpisah." David tersenyum yakin, suatu malam akan mengajak mereka semua makan bersama. Namun entah apakah yang akan terjadi nanti, jangan sampai perang mulut juga perang sendok terjadi di saat mereka bertemu dalam satu meja. David tersenyum geli namun juga khawatir, sahabatnya yang sudah hampir kepala Empat itu saat ini juga berkelakuan seperti anak kecil. Kemana sikap penuh wibawa dan berkharisma itu menghilang, malah dengan ikhlas menjadi budak cinta Zahira. Mungkin Zahira terlalu cantik dan muda sehingga membuat rekannya itu kehilangan setengah kewarasan.
"Nurul akan datang esok pagi." Ayu masih kesal namun tetap menyampaikan kabar kedatangan sosok yang berjasa dalam mendidik anak-anak mereka.
"Besok?" David tampak berpikir.
__ADS_1
"Iya! Memang apa yang sedang kau pikirkan?" Ayu menatap tajam pada David suaminya.
"Besok akhir pekan, bagaimana jika malam Minggu nanti mengundang anak-anak kita untuk makan malam bersama. Sepertinya itu adalah momen yang tepat, lagi pula Zahira pasti merindukan Nurul." David meminta pendapat istrinya.
"Benar, tapi apa kau yakin jika tidak akan terjadi pertengkaran di meja makan." Ayu bergidik ngeri membayangkan putranya mengamuk dengan hati yang di penuhi rasa cemburu.
"Kita coba saja, lagi pula Anggara cukup pintar membaca suasana, dia tidak akan sembarangan memukul." jawab David yakin.
"Entahlah, aku masih ragu akan hal itu. Radit sangat sensitif jika sudah membahas tentang Zahira." Ayu masih tidak yakin.
"Kita harus menjadi orang tua yang baik, juga penengah untuk masalah rumit ini. Kita tidak bisa kehilangan salah satu dari mereka, aku menyayangi Radit, tapi juga menyayangi Zahira. Ingatlah kita membesarkannya hingga dewasa, begitu juga Radit tumbuh bersamanya hingga dewasa, untuk menjauh dan melupakan tentulah sulit, terlepas dari hanya sekedar mencintainya. Aku yakin mereka bisa berdamai!" David meyakinkan istrinya lagi.
Ayu mendengarkan ucapan suaminya, sejenak ia mengangguk jika yang di katakan David ada benarnya, membuat David tersenyum manis.
"Senyummu itu membuatku yakin." ucap Ayu membalas senyumannya.
"Kau akan selalu yakin jika bersamaku." David merayunya sedikit, memeluk sejenak memberikan ketenangan.
"Sekarang waktunya kita selalu ada untuk anak-anak kita Sayang." David menarik nafas lega untuk hari ini.
Perpisahan Radit dan Zahira tak hanya menguras tenaga dan pikiran keduanya, tapi juga banyak orang yang ikut merasakan kehancuran di dalamnya, ikut membantu dalam kerumitan entah itu di pihak Zahira ataupun Radit. Kisah cinta yang hanya sebentar itu menyita perhatian orang dengan jumlah yang tidak sedikit, terutama Anggara dan anak buahnya yang banyak ikut terlibat. Berkorban tenaga, waktu, perasaan, pertaruhan, perkelahian. Bahkan juga ada yang berkorban nyawa.
*
"Assalamualaikum Mama!" Zahira menerima panggilan ponsel di pagi itu.
"Wa'alaikum salam Sayang, kau sudah bangun?" suara Ayu di seberang sana.
__ADS_1
"Sudah Mama, aku sudah ada di taman depan, berjalan-jalan menikmati udara pagi." jawab Zahira, terdengar bahagia.
"Sayang, hari ini Nurul akan datang, dia ingin bertemu denganmu." Ayu memberitahu kabar bahagia untuk Zahira.
"Benarkah? Aku akan ke sana jika Umi sudah datang." suaranya meninggi hampir memekik.
"Sayang, dia belum tiba! Begini saja. Nanti malam kita akan makan malam bersama, kau juga suamimu harus datang kemari."
"Nanti malam?" Zahira sedang berpikir, menoleh Anggara yang setia di sampingnya.
"Mana suamimu, Mama ingin bicara." ucap Ayu lagi.
Zahira memberikan ponselnya pada suami tampan dan gagah dengan kaos santai memperlihatkan dada bidang juga seksi miliknya.
"Ya, apa yang bisa aku bantu?" tanya Anggara menempelkan ponsel di telinganya.
"Tidak ada, hanya mengundangmu datang untuk makan malam bersama kami semua, juga atas kedatangan Nurul yang ingin bertemu Zahira. Ku harap kau tidak keberatan. Lagi pula kalian tidak bisa selamanya bersitegang dengan Radit yang memang masih belum dewasa. Aku berharap banyak darimu untuk berdamai dengannya."
"Aku tahu. Kami akan datang." jawab Anggara yakin.
"Terimakasih banyak."
"Iya." Anggara mengakhiri panggilan ponsel itu.
"Aku ingin bertemu Umi Nurul." ungkap Zahira namun ungkapan itu tak semuanya, masih ada bagian yang tertahan di dalam hati.
"Kita akan datang Sayang, mengapa harus berpikir lagi?" Anggara memeluk Zahira.
__ADS_1
"Aku hanya tidak suka harus berdebat dengan Radit, dia menyebalkan sekali." Zahira menarik nafas lelah, ia masih teringat saat adu mulut di rumah sakit.
"Jangan kau jawab, jika kau diam maka dia akan diam pada akhirnya. Biarkan dia lelah dengan ocehannya sendiri, yang terpenting kita datang untuk menghargai Papa dan Mamamu."