
Sepanjang jalan pulang keduanya hanya diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Jika Reza Mahendra menatap lurus ke depan dengan wajah serius, berbeda dengan Zahira tampak menikmati perjalanan dengan tak terlihat khawatir atau kecewa, dia baik-baik saja.
Hingga di tengah perjalanan mobil mereka kembali melambat, Reza sengaja berhenti sejenak.
"Ada apa?" Zahira menoleh, bertanya dengan heran.
Reza menarik nafas, sesak disertai wajah yang sendu.
"Mas." panggil Zahira membuat pria itu menoleh, sangat menyukai panggilan lembut itu.
"Apapun yang terjadi, aku tak akan menyerah untuk menjadi suamimu." tatapannya juga ungkapannya begitu dalam.
"Memangnya apa yang akan terjadi? Aku bahkan tidak tahu Tuhan akan menuntun kita ke arah mana." jawabnya lembut, tak ada gurat kekhawatiran di sana.
"Aku hanya takut kehilanganmu." Reza masih memandangi wajah cantik Zahira.
"Kita lihat saja nanti, tak perlu khawatirkan hal yang belum terjadi." Zahira tampak tenang.
"Tetaplah memanggilku seperti itu, aku menyukainya Zahira, sangat menyukainya."
Permintaan yang romantis, saling menatap dengan suasana remang di pinggiran kota. Wajah cantik Zahira semakin membuat Reza Mahendra tergila-gila.
"Sebaiknya kita pulang."
"Ya, Sayang." Reza tak ragu lagi memanggilnya Sayang.
"Besok Senin kita harus memeriksa laporan, mudah-mudahan tak ada hambatan." Zahira memulai obrolan seputar pekerjaan, dirasa itu akan lebih mencairkan suasana.
__ADS_1
"Benar, dan setelahnya kita harus meninjau lokasi di tujuh kota besar." Reza menoleh Zahira sedikit. "Aku ingin sekali mengajakmu, tapi bagaimana dengan anak-anak?" tanya Reza kembali menoleh sejenak lalu fokus menyetir.
"Entahlah." Sebenarnya dia ingin sekali ke luar kota, namun berat rasanya jika hanya mengandalkan Reza sebagai teman dekat.
Jika perihal anak-anak tentu mereka bisa di tinggal beberapa hari, tapi sebagai seorang janda, pergi sendirian tanpa mahram membuatnya berpikir lagi. Begitulah hidup serba salah yang sedang dialami Zahira, jika pun itu Radit, tetap akan menjadi semakin canggung, perihal mantan suami atau mantan istri, jika berada dalam satu hotel dan terlibat urusan yang sama, apa jadinya? Terlebih lagi pria itu sering mengungkit perihal kebersamaan mereka dulu, Zahira bergidik ngeri.
"Sayang!"
"Hah!" Zahira terkejut.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Reza tersenyum sedikit melihat wanita di sampingnya melamun, mobil mereka kembali melaju.
"Sepertinya aku tidak akan pergi, mungkin Om Ricky atau asisten yang lainnya." jawab Zahira menemukan jawaban setelah melamun.
"Kenapa? Apa karena anak-anak?" Reza tampak mengerti.
"Yang ke Dua?" tanya Reza lagi.
"Hem, yang kedua... Tak pantas rasanya aku pergi dengan pria-pria tampan dan semuanya masih sendiri. Apa kata orang nantinya." Zahira tertawa kecil.
"Aku tak peduli dengan kata orang, aku hanya peduli padamu." Reza ikut tertawa.
"Justru itu, kau hanya peduli padaku dan itu membuatku takut." Zahira mengajaknya bercanda kali ini.
"Apa aku menggigit?" Reza tertawa lebar.
"Tidak, tapi lebih menakutkan dari pada menggigit." Zahira juga tertawa, sedikit bercanda dan berbagi mungkin bisa menghibur diri. Terlepas dari kesepakatan untuk dekat, banyak hal rumit yang belum terungkap, tapi rasa-rasanya mulai mengganggu.
__ADS_1
Diantara tawa yang membuat keduanya lupa masalah kehidupan, Reza cukup gesit untuk memanfaatkan suasana. Mobilnya sudah memasuki gerbang rumah Anggara.
Pria itu kembali mematikan mesin namun tak beranjak keluar, mereka kembali bicara.
"Jika hanya itu yang kau takutkan, harusnya tak perlu waktu lama untuk kita menjalani kesendirian ini, menikahlah denganku Zahira."
Zahira yang tadinya masih tersenyum dengan sisa tawa yang baru saja, sontak terkejut dan menoleh dengan sangat tidak percaya. Mata beningnya membulat sempurna, tak percaya jika ajakan ingin menikah secepat itu keluar dari mulut seorang Reza.
"Aku serius. Mari kita menikah." terangnya lagi.
Zahira masih menatap tak percaya, bibir mungilnya masih terbuka dengan terlihat ingin bicara tapi tidak tahu harus berkata apa.
"Sayang, aku ingin kau memikirkan ungkapan perasaanku ini, aku ingin menikah denganmu. Jujur saja aku tidak sanggup jika harus menahan rasa cintaku yang semakin menggila setiap kali bersamamu. Aku laki-laki normal yang selalu mendambakan kehadiranmu dalam hidupku." Reza juga menatapnya dengan penuh keyakinan. Sengaja membiarkan gadis itu menatap tak percaya dalam waktu lama, mungkin dengan menikmati lekuk wajah tampannya Zahira dapat berubah pikiran. Reza sedang merasa gila.
"Ini terlalu cepat." jawab Zahira lembut, meneduhkan pandangannya sendiri, melepaskan rasa terkejut yang berlebihan.
"Tidak, ini tidak terlalu cepat bagiku, bahkan sudah terlalu lama aku menunggu saat seperti ini, dekat denganmu, dan ingin memilikimu. Aku bersungguh-sungguh Zahira, tidak sedang merayu atau hanya sekedar menggodamu. Aku yakin kau tahu bagaimana aku mencintaimu, bahkan kau sudah pernah menikah, sudah tentu sikap seorang lelaki yang jatuh cinta kau sudah sangat mengetahuinya. Dan aku sedang merasakan itu padamu." jelas Reza lagi meyakinkan Zahira.
"Aku tahu Mas, tapi beri aku waktu. Bukankah kita baru saja bertemu dengan ibumu. Aku belum tahu beliau menyukai aku atau malah tak suka. Belum lagi masalah anak-anak, meskipun anak-anak akan tinggal di rumahnya sendiri, tapi sekali-kali mereka akan bertemu dengan ibumu, aku takut ibumu sulit menerima kehadiran mereka, dan ketika itu perlu hati yang besar untuk menyikapi rasa yang tidak menyatu itu. Ku harap kau bersabar dan mengerti, menjadi aku tidaklah semudah itu, menikah dan berpisah bukanlah pilihan nantinya, jika sudah menikah maka akan selalu bersama selamanya. Aku tidak mau cerai menjadi salah satu jalan, dan anak sebagai alasan."
Reza menunduk sedih, sedikit kecewa jika ibunya memperlihatkan keterkejutan setelah mengetahui Zahira memiliki anak. Tentu Zahira tidak bodoh dan bisa merasakan jika ibunya kurang menyukai anak-anak.
"Aku tak peduli apapun Zahira, selama ini aku sendirian dan akan selalu seperti itu. Bukan tanpa sebab aku memilihmu, semakin mencintaimu dan mengejarmu setelah aku melihat sendiri bagaimana kau mencintai Anggara, juga sangat menyayangi anak-anakmu. Aku ingin kau juga seperti itu jika suatu saat kita menikah dan melahirkan anakku. Ku rasa alasan Anggara memilihmu juga karena hal itu, ingin anak-anaknya mendapat kasih sayang dan didikan yang baik dari seorang wanita yang baik. Aku juga menginginkanmu, sangat menginginkanmu Zahira."
"Tak hanya aku Mas, ada banyak wanita baik di dunia ini. Ku rasa kau berlebihan melihatku seperti itu." Zahira tersenyum dengan menggeleng sedikit.
"Yang paling utama adalah aku mencintaimu. Alasan yang lain juga semuanya benar."
__ADS_1
"Sepertinya kita sedang dalam ujian, dan jawabannya adalah e, Semua benar." Zahira tertawa juga Reza Mahendra, pria itu gemas sekali mendengar Zahira sekarang sering bercanda.