
"Mas." ucapan pelan itu terdengar oleh Dokter juga Ayu.
"Dok, dia sadar!" Ayu sangat bahagia, dengan air mata pula jatuh di pipi halusnya.
"Alhamdulillah." Dokter Amelia mengucap syukur.
Enam jam setelah operasi Zahira tertidur seperti tak ingin bangun lagi. Beberapa menit yang lalu tubuhnya bergetar dan gelisah, air matanya tak henti mengalir dalam tidur tidak sadarnya. Beruntung sekarang dia sudah membuka mata.
"Mas Anggara." ucapnya lirih, mata yang masih setengah terbuka itu bergerak kesana-kemari, seolah dia masih berada di dalam mimpi.
"Sayang, ini Mama." Ayu semakin sedih dibuatnya, Enam jam saja melihat dan menjaga Zahira tak sadarkan diri, dia sudah bingung dan ketakutan setengah mati, lalu bagaimana dengan Anggara yang menjaganya berbulan-bulan saat itu, dia tak bisa membayangkannya.
"Ma." Zahira menangis, ia sedang menyadarkan dirinya sendiri, bahwa ini dunia nyata, dimana dia sudah kehilangan. Dadanya bergerak naik turun menahan sedih, terlebih lagi saat menyadari dirinya berada di ruang operasi.
"Bagaimana putriku?" tanya Zahira dalam tangis yang hampir meledak.
Dokter dan Ayu saling berpandangan. Bagaimana dia bisa tahu anaknya perempuan?
"Ma?" tanya Zahira berurai air mata.
"Dia ada di ruangan yang lain." Ayu hanya bisa menjawab itu.
"Dok!" tanya Zahira merasa tak puas dengan jawaban ibunya.
"Nyonya, putri Anda ada di ruangan lain. Maaf dia sudah mendahului kita, Percayalah dia akan menunggumu di surga." Amelia benar-benar harus jujur, karena perasaan seorang ibu tidak akan bisa di bohongi.
"Ahk." Zahira berusaha menahan suaranya agar tidak menjerit. Namun tangisnya tentu tak dapat di cegah.
Ayu memeluknya erat, mengelus bahunya dan tentu ikut menangis. Setelah kesedihan yang satunya teratasi, ternyata kesedihan yang lainnya sudah menanti. Walaupun manusia hanya bisa menerima dan berusaha, tapi jika sudah terlalu banyak maka pilihan terakhir hanyalah pasrah.
Malam yang sepi, hampa baginya setelah semuanya terjadi begitu cepat. Kini yang tersisa hanyalah kedua putra kembarnya saja. Teringat keinginan sang suami tercinta untuk memiliki anak perempuan yang cantik, dan benar saja dia menjemputnya.
'Biar aku yang mengurusnya, kau sudah terlalu lelah.'
__ADS_1
Kelopak mata yang terasa panas itu menutup perlahan seiring jatuhnya air mata. Rasanya dia tak punya pilihan selain bertahan demi Satria juga Sadewa. Hanya mereka alasan untuk selalu hidup.
Rasanya, waktu begitu lambat, gelap sudah terlalu lama, beberapa kali memejamkan mata beberapa kali itu pula penantian atas datangnya matahari terasa lebih lama.
"Sayang bagaimana keadaanmu?" David masuk bersama Ayu.
"Aku lebih baik Papa, aku ingin pulang." jawabnya.
"Hari masih gelap sayang, tidak kah bisa menunggu hari sedikit terang?" David melihat jam masih pukul Empat subuh.
"Aku tidak tahan ada di sini. Lagi pula kita harus memakamkan putriku." ucapnya lebih tegar.
"Ya." David mengembuskan nafas pasrah, ia berbalik keluar menemui dokter Amelia.
"Bagaimana anak-anak Ma?" tanya Zahira lagi.
"Dia aman Sayang, Radit juga menginap di rumahmu." Ayu membereskan barang-barangnya.
Sepanjang jalan ia melamun dan menyandar lemas, melihat ke luar, langit yang tinggi.
'Ya, Mas Anggara sudah mengambil miliknya. Anak perempuan untuk ayahnya, anak laki-laki untuk menjaga ibunya. Begitu kau selalu berkata Mas. Allah sudah menentukan jalan terbaik untuk kita semua, termasuk untukmu. Ku yakin kau tak kan kesepian lagi dengan adanya putri kita. Entahlah Mas, rasanya aku ingin sekali berada di tempatmu, agar aku bisa ikut berbagai dan bermain bersama dirimu, menikmati tawa dari wajah tampanmu. Aku ingin sekali. Tapi Allah sedang memisahkan kita, aku masih punya tugas untuk menjaga putra-putramu. Tugasku masih berat, masih panjang."
"Sayang." Ayu meraih Zahira dan mengusap air mata di wajahnya. Meski tak terdengar Isak tangis, tentu air mata dalam diam lebih menyakitkan. "Ikhlas Nak, suamimu tidak sendirian sekarang." Ayu membujuknya.
"Ya. Aku melihat dia menjemputnya Mama, mereka sudah bahagia." tangisnya pecah dengan tarikan nafas yang terputus-putus.
"Sabar Nak. Mama dan Papa selalu bersamamu." Ayu merasakan sesak yang sama.
Hari-hari lambat, Minggu dan bulan kemudian ikut berjalan. Setelah pertemuan dengan Anggara ketika tak sadarkan diri, ia lebih senang menyendiri. Kerja dan pulang lebih cepat, hanya menghabiskan waktu bersama kedua anaknya. Juga membatasi diri dari banyak laki-laki yang mendekati, termasuk Reza Mahendra.
"Nyonya ada yang ingin bertemu." salah satu bodyguardnya menyampaikan, rupanya Reza Mahendra adalah orang yang ingin bertemu.
Tak cukup di hindari di kantor, pria itu tetap nekat ingin bertemu di rumah meski sering mendapatkan penolakan dari Zahira.
__ADS_1
"Pak, katakan padanya aku sedang sibuk." Zahira segera beranjak akan masuk ke dalam namun terlambat Reza sudah datang lebih dulu, menghalangi Zahira.
"Beri aku waktu." ucapnya menatap sendu, pria yang sedikit tak bahagia di wajahnya itu memohon, wajahnya kusut, bulu-bulu di wajahnya sedikit lebih panjang tak terurus.
"Aku-"
"Zahira aku mohon jangan seperti ini, aku butuh bicara dan ini masih tentang hubungan kita." Reza lebih mendekat.
"Lupakanlah kita pernah saling mengenal, kita hanya akan menyulitkan diri sendiri dengan perasaan yang membingungkan. Jika kau mengharap aku mencintaimu, itu sulit terjadi." jelas Zahira.
"Aku tak pernah berharap banyak Zahira. Tapi aku benar-benar tak bisa melupakan jika kita pernah dekat."
"Hanya dekat, seingat ku aku tak pernah memberi harapan apapun padamu. Bisakah kau mencari wanita yang lebih baik dari pada aku?"
"Tidak!"
Zahira menarik nafas berat, sungguh ia kesulitan menjelaskannya pada Reza Mahendra.
"Aku mohon kau pikirkan lagi, aku benar-benar ingin menjadi suamimu. Ayah untuk anak-anakmu, dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan mereka. Aku akan mengurus mereka seperti anakku sendiri. Kau tahu aku sangat menyayangi mereka jauh sebelum aku memiliki kesempatan untuk mendekatimu. Aku tidak berbohong tentang hal itu." Reza menatap Zahira dengan penuh harap, keningnya yang luas sedikit berkerut diantara alisnya.
"Tapi."
"Aku tahu. Akhir pekan ini ibuku akan ke Indonesia, aku akan mempertemukan mu padanya. Ku harap kau bersedia." Reza meraih tangan Zahira, sikap nekat dan beraninya tak pernah berubah.
'Jika di hindari masih saja mencari, jika dijauhi masih mendekat. Mungkin Allah memang menunjukkan dia sebagai teman untuk melanjutkan hidup.'
"Ya." jawabnya mengangguk.
Reza terbelalak bahagia, pria tinggi itu lebih mendekat dan merengkuh tubuh kecil Zahira.
"Tidak,,tidak." Zahira menghalangi dengan kedua tangannya.
"Ah, mm,,maaf." Reza menarik kembali tangannya yang sudah siap melingkar di tubuh ramping itu.
__ADS_1