
"Selamat pagi sayang." Radit menatap gadis itu, tampak mata bening itu sedikit mengerjap namun enggan membuka lebar, sungguh aktifitas semalam membuatnya sangat lelah.
"Zahira." Panggil Radit lagi, suaranya lembut sekali.
"Hem." Zahira menarik nafas, dan menggerakkan tangannya mengusap matanya yang terasa berat.
"Minum dulu sayang." Radit duduk dan meraih air putih yang sudah ia sediakan sejak semalam.
Zahira berusaha bangun dengan semua anggota badannya terasa pegal dan sulit di gerakkan, ia duduk dan meneguk air putih itu hingga habis.
"Maaf, aku membuatmu kelelahan." Radit tersenyum lalu memeluknya erat, kembali mengajaknya berbaring menarik selimut itu menutupi seluruh tubuh gadis kecil kesayangannya.
"Radit." Panggilnya lembut terdengar.
"Iya, ada apa sayang." Radit mengecup keningnya, memandangi wajah cantik yang sudah dikuasainya semalaman.
"Aku masih mengantuk, tapi aku lapar!" Jawabnya sedikit merengek, hidung yang mancung itu menyentuh dada Radit.
"Baiklah, kau disini saja aku akan mengambilkan makanan untuk kita berdua." Radit menyibak anak rambut di kening Zahira. "Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi, agar kau merasa lebih baik." Radit mengecup keningnya sangat lama lalu kemudian beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi, meninggalkan Zahira yang masih tak banyak bergerak di dalam selimut.
Tanpa bicara Radit menggendong tubuh kecil itu, membantunya mandi dan memanjakannya. Gadis itu terlihat bertambah cantik ketika sedang mandi dengan rambut yang basah. Pria itu tersenyum sangat bangga memiliki istri yang begitu cantik dan di idamkannya sejak lama.
"Radit, bisakah mengambil handukku?" Suara manja itu membuat pria itu terhipnotis menuruti pintanya. Menyerahkan handuknya dengan tersenyum. Kemudian menyambut tangan gadis itu dan mengajaknya keluar dari kamar mandi.
"Sayang aku mandi dulu, kau istirahatlah setelah mengganti pakaianmu." Radit mengambil dress selutut untuk di pakai Zahira.
"Iya." Jawabnya halus.
Hari-hari bahagia itu telah di mulai, dengan kasih sayang yang melimpah dari Radit suami tercinta. Tak ada kata lelah untuk saling mencintai, saling menyayangi dan terus berlarut dalam kehangatan dan kerinduan yang tak pernah habis.
"Radit aku lapar." Zahira merengek, Radit yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang dan rambut yang basah.
"Sebentar sayang." Radit segera memakai pakaiannya dan bergegas keluar mengambil makanan.
Tak lama kemudian pria tinggi dan gagah itu sudah kembali dengan tangannya memegang wadah yang lebar dengan berbagai makanan juga minum di dalamnya.
__ADS_1
"Kau mengambilnya sendiri?" Zahira tertawa melihat suaminya membawa makanan dengan hati-hati.
"Sepertinya kita harus mencari asisten rumah tangga yang masih muda untuk membantu mbok Tuti, kasihan dia sudah tua." Radit meletakkan makanan di meja dan mendekatkannya pada Zahira.
"Aku akan meminta mama untuk mencarinya." Ucap Zahira mulai mengambil makanan dan menyuapkannya.
"Iya sayang. Kau tidak boleh mengerjakan apapun, tugasmu hanya mengurusku." Ucap Radit lagi, tangan halusnya membelai wajah yang berlesung pipi itu.
"Apa aku tidak boleh kuliah?" Tanya gadis itu lagi.
Radit tampak berpikir, sejenak lalu melepaskan sendok di tangannya. "Kau ingin kuliah?" Tatapnya serius.
Zahira mengangguk, wajah polos itu begitu menggemaskan.
"Baiklah, tapi tidak boleh berteman dengan pria manapun, tidak boleh ikut kegiatan ekstra dan aku akan mengantar jemput, atau jika aku sibuk kau di antar sopir." Seperti biasa pria itu melarang banyak hal.
"Bukankah kau akan sekolah?" Zahira menatap wajah suaminya.
"Iya, aku akan masuk di sekolah swasta, Sabtu Minggu aku libur. Aku akan sekolah, sepulangnya akan kekantor mama, membantu ia bekerja sekaligus belajar lagi menguasai bisnis." Radit kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Akan ada waktu untukmu sayang, kau yang utama untukku. Jika boleh jujur, sekolah buatku tak begitu penting. Hanya aku tak bisa mengabaikannya mengingat aku akan mewarisi perusahaan mama." Radit membelai wajah cantik yang sedang mengunyah makanan itu.
"Bagaimana dengan perusahaanku?" Zahira tampak berpikir.
"Kalau begitu kita bicarakan dengan mama dan papa, aku juga bingung memikirkan hal itu, tapi tenang saja aku akan sanggup mengerjakan semuanya untukmu." Radit menyelesaikan makanya.
"Aku juga akan membantumu Radit, aku tidak mungkin berdiam diri saja sedangkan kau sangat sibuk." Zahira juga sudah selesai.
"Nanti, tidak untuk saat ini." Radit menatapnya begitu dekat.
"Kenapa?" Zahira setengah berbisik.
"Aku masih tidak rela jauh darimu, terlebih lagi banyak pria yang suka menatapmu seperti ingin menelan bulat-bulat. Aku tidak suka." Radit mengecup bibir basah itu sekilas.
"Kau juga, ada banyak gadis yang menggilaimu. Kau anak pengusaha kaya, tampan dan gagah, kau pikir aku tidak merasakan cemburu membayangkan gadis-gadis teman sekolahmu akan berebut untuk berkenalan dengan mu."
__ADS_1
"Tapi aku hanya menyukaimu, milikmu seorang." Radit kembali menyentuh wajah itu, nafas pria yang masih sangat muda itu begitu berhembus tak beraturan.
"Apa lagi aku, kau sudah memiliki aku. Bahkan sudah sangat berantakan." Zahira mengernyitkan hidungnya, itu terlihat semakin menantang keinginan Radit yang tidak tertahankan.
"Tentu saja, aku yang menguasaimu." Radit merasa di atas awan, merasa sangat hebat dan paling gagah sudah berhasil mendapat Zahira seutuhnya.
"Radit." Saura lembut itu terdengar merengek merdu di telinga Radit. Membuat ia kembali terbakar dan melahap semua hingga habis ikut terbakar bersama permainannya.
Menghabiskan satu pekan bersama mereguk manisnya kehidupan pengantin baru. Menikah muda dan hidup berkecukupan, tak perlu pusing memikirkan masak apa hari esok, kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu begitu bahagia.
***
"Selamat pagi sayang." Sapa Ayu di pagi itu, ini kali pertama ia berkunjung setelah hari menikahkan mereka.
"Selamat pagi mama!" Zahira lebih dulu menyambut Ayu dan memeluknya.
"Apa kabar sayang, apa kau selalu bahagia?" Tanya Ayu menatap wajah cantik menantunya.
"Aku sangat bahagia mama, Radit begitu menyayangiku." Jawabnya dengan suara halus.
"Syukurlah, Mama bahagia mendengarnya." Ayu duduk di sofa empuk ruang tamu.
"Mama." Radit memeluk Ayu sejenak.
"Mama ingin kau datang ke kantor mama hari ini, untuk mengakses seluruh aset mama. Kau sudah menikah dan harus menghidupi istrimu, jadi kau harus lebih menguasai pekerjaan di kantor." Ayu meminta Radit duduk dengannya.
"Iya." Jawabnya singkat, tangan yang terlihat kokoh itu tak melepas bahu Zahira.
"Ma, apa aku boleh kuliah?" Zahira begitu polos dengan pertanyaan itu.
"Tentu saja boleh sayang, asal bisa menjaga hubunganmu dengan Radit." Sejenak Ayu terdiam dan berpikir. "Apa kalian tidak akan memberi mama cucu?" Tanya Ayu kemudian.
"Mama tenang saja, hanya tinggal menunggu kabarnya." Jawab Radit dengan wajah datar.
"Radit." Zahira tampak kesal dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
Radit hanya tersenyum membiarkan Zahira mencubit lengan kokohnya hingga puas.