
"Mana bisa begitu, Ini kamarku!" Zahira menunjuk kamarnya, mata beningnya menantang Radit.
"Ya, tapi tidak pantas rasanya kau tidur di sana dan aku di sini. Walau bagaimanapun juga, aku pernah menjadi suamimu dan kau tidak boleh tahu bagaimana aku memperlakukan istriku, jelas nantinya akan berbeda."
"Apanya yang berbeda?" tatap Zahira penuh selidik.
"Ya,_" Radit bingung menjelaskannya.
Zahira masih menunggu penjelasan, menatap sinis pada pria yang mencoba menjelaskan kebohongan.
"Jangan bilang kau sedang memikirkan apa yang akan ku lakukan pada istriku nanti." Radit membalas tatapan menyelidik Zahira padanya.
"Aku tidak peduli."
"Jangan berbohong."
"Aku tidak bohong, aku benar-benar tidak peduli." kesal Zahira.
"Baiklah, jika tidak perduli maka tidurlah. Sudah malam dan besok harus bekerja." Radit meraih bahu Zahira, merangkulnya menuju kamar.
"Kau berani sekali." Zahira melirik tangan Radit yang baru saja merangkulnya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Reza Mahendra saja pernah memelukmu." jawab Radit membuka pintu, sengaja menghindari tatapan Zahira.
"Itu tidak sengaja." ucap Zahira masih berdiri di hadapan Radit. Tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi sedih.
"Maaf." Radit menarik nafas sangat dalam.
"Apakah wanita yang sudah tidak punya suami tampak lebih murah dan mudah untuk di sentuh?" tanya Zahira, bahkan pertanyaan itu sudah lama sekali mengganjal di hatinya. "Jika suamiku masih ada, jangankan untuk memegang bahuku, berbicara denganku saja kalian tak akan berani." sambungnya lagi.
"Aku tidak menganggap mu seperti itu. Aku hanya merasa dekat, bukan pula sebab kasihan, tapi itu benar sebuah kasih sayang. Jujur saja aku masih ingin memilikimu, berharap kau memberi celah suatu saat nanti. Tapi terlepas dari semua itu, aku ingin kau tetap bersama Papa dan Mama, kasihan mereka selalu ingin bersamamu, datang ke rumahmu. Aku tidak mau egois hanya karena perasaanku malah nanti akan menjauhkan mereka dari mu. Terkadang aku ingin sekali kau tinggal di sini walau hanya diakhir pekan, agar Papa dan Mama tidak kesepian. Aku sedih melihat mereka selalu mengejar keberadaan mu dan dan anak-anak Zahira."
Mata keduanya saling menatap, ada kesedihan yang dalam diantara keduanya, walaupun sedihnya dalam hal yang berbeda.
"Tidurlah." Radit membuka lebih lebar pintu kamar Zahira, sehingga tampak Ayra yang sudah pulas dengan selimut menutupi hingga dadanya.
"Kau menyukainya?" tanya Zahira berulang kali melihat Radit memperhatikan kakak sepupunya.
"Zahira!" Radit menahan Zahira yang sudah melangkah masuk dengan wajah tak suka.
"Ada apa? Aku mengantuk." melepaskan lengannya dari tangan Radit.
"Apakah Ayra dan Reza saling mengenal?" tanya Radit serius.
__ADS_1
Zahira menautkan alisnya. "Tentu saja, tadi pagi Kak Ayra keluar menumpang mobil Mas Reza." jawabnya jujur.
Kali ini Radit yang menautkan alisnya.
"Aku mengantuk, kalau mau mengobrol dengan Kak Ayra besok saja." ketusnya menutup pintu.
Radit mengusap-usap tengkuknya, ia bingung sendiri mengahadapi makhluk cantik bernama Zahira.
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali suara tiga orang yang sedang bercanda mengganggu tidur Zahira, mata beningnya mulai terbuka.
"Aku kesiangan." gumamnya sendiri. Ternyata Ayra sudah tak ada di tempat tidur, Zahira keluar menuju lantai dasar. Meski Sura keributan tiga orang laki-laki tampan masih terdengar di kamar sebelahnya namun ia abaikan karena Ayra lebih penting, mengingat dia terlihat selalu lemas dan murung.
"Papa." Zahira menyapa David yang sedang minum kopi.
"Sayang, kau sudah bangun?" David menoleh Zahira dengan senyum mengembang.
Rasanya seperti kembali ke masa lalu, ketika bangun kesiangan dan menuruni tangga langsung mencari keberadaan David dan Ayu. Satu hal yang membuat Zahira merasa heran, mengapa selalu kesiangan jika tidur di rumah itu.
"Sini, duduk bersama Papa." David melonggarkan kursi untuk Zahira.
"Apakah Papa melihat kak Ayra? tanya Zahira duduk di samping David, melihat ke sana kemari.
"Benarkah?" Zahira tampak berpikir. "Apakah Kak Ayra tidak betah tinggal di rumahku?"
"Tidak Sayang, mungkin benar jika dia ingin tahu dimana dulu orangtuanya pernah tinggal." David tertawa sedikit.
"Ya, aku hanya khawatir." jawab Zahira menyandar.
"Kita sarapan." Ayu keluar dari dapur bersama Ayra.
"Sebaiknya aku mandi dulu." ucap Zahira menyadari hanya dia saja yang belum mandi.
"Tidak perlu, dulu kau sering mandi setelah sarapan." Ayu menertawai Zahira.
"Mama!" Zahira merengek, tidak ingin mengingat masa-masa malasnya.
"Cuci muka saja, nanti susumu dingin." Ayu menunjuk kamar mandi di lantai dasar.
"Baiklah." Zahira beranjak menuju kamar mandi.
Sementara dari atas ketiga laki-laki tampan menuruni anak tangga, suara mereka meramaikan rumah David.
__ADS_1
"Jagoan Kakek, kita makan bersama." David senang sekali ketika kedua putra Zahira duduk mengapitnya.
Sementara Radit sengaja duduk di salah satu kursi kosong, karena dapat dipastikan satunya adalah Zahira.
Tak lama kemudian keluar dari kamar mandi, langsung menuju meja makan.
"Zahira, aku akan ke rumah Nenek. Ku rasa menginap beberapa hari di sana sebelum nanti kembali ke London." Ayra berbicara serius, dia sedang memakan roti tawar tanpa selai.
"Apakah Kakak tidak betah tinggal bersamaku?" tanya Zahira mulai mengisi piringnya.
"Tidak, aku senang sekali tinggal di rumahmu. Hanya ingin tahu bagaimana rumah Nenek, tempat orang tua kita dulu." jelasnya teraneyum manis.
"Baiklah, nanti aku akan meminta pak Teddy datang kemari." jawab Zahira.
"Biar aku saja yang mengantarmu." Radit menyahut, membuat Zahira menolehnya. Dia jadi ingat semalam Radit sangat ingin tahu tentang Ayra.
"Aku bisa sendiri, bukankah kau akan bekerja?" tolak Ayra.
"Tidak masalah, aku bisa mengantarmu, aku juga sudah lama tidak ke sana." jawab Radit lagi.
Sementara Zahira hanya menunduk, tak mau menganggu.
"Mau ikut?" Radit menanyai Zahira.
"Hem?" Zahira menolehnya, ambil tetap mengunyah makanan.
"Mau ikut tidak? Sekalian aku mengantarmu ke kantor, kau tidak bawa mobil."
"Tidak perlu, aku akan di jemput Om Ricky atau siapa saja, kau antarkan Kak Ayra saja." jawab Zahira sedikit melirik Ayra yang sudah selesai dan pergi ke dapur.
"Baiklah." Radit tersenyum menatap wajah cantik Zahira.
"Ada apa denganmu?" tanya Zahira sedikit melotot.
"Tidak ada apa-apa. Memangnya ada apa?" Radit bertanya serius sengaja lebih mendekat.
"Sudahlah, jangan berpikiran macam-macam." Zahira kembali memasukan makanan ke mulutnya.
"Mengapa aku? Bukannya kau sedang berpikiran macam-macam?" gumam Radit tentu masih di dengar Zahira juga yang lainnya.
Zahira tak menjawab, malas berdebat di pagi hari.
"Papa akan mengantarmu nanti setelah kita mengantar anak-anak." David menyahut, tahu jika Zahira kesal dengan Radit.
__ADS_1
"Dia pasti senang." gumam Radit lagi.