Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
249. Semoga bertemu jodoh


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, entah mengapa Zahira terbangun dan enggan tidur lagi. Berbalik kesana-kemari tak menemukan tempat yang nyaman. Ia bangun sejenak menoleh wajah-wajah tampan yang sedang tertidur pulas, seketika kegelisahan itu berubah menjadi rindu.


Perlahan mendekati Sadewa yang tidur menelentang dan bibir tipisnya mengerucut, dia mirip sekali dengan Anggara. Tiba-tiba hatinya menjadi kacau ketika juga teringat hari ini Reza Mahendra sedang bersiap berangkat menuju London, seperti hari itu, subuh yang duka, dimana Anggara meninggalkan dia untuk selamanya.


Pria tampan dan gagah, baik dan selalu memposisikan dirinya sebagai seorang yang amat berharga, selalu lebih penting dari apapun juga.


"Aku berharap, kepergian Reza Mahendra adalah jalan terbaik untuk kami semua, semoga gadis pilihan Nyonya Carolina adalah jodoh terbaik untuk dirinya." Zahira bergumam sendiri. "Aku lebih senang menikmati rinduku sendiri, Mas Anggara adalah laki-laki paling sempurna dalam hidupku, tidak akan ada yang bisa menggantikannya di dalam hatiku." ia terus mengelus rambut Sadewa, benar kata Anggara kala itu, Zahira tak akan pernah bisa melupakan dirinya sampai kapanpun juga, setiap kali melihat wajah kedua anaknya maka teringat pula pada ayahnya.


Ah, rasanya air mata itu tak pernah kering, walau terkadang merasa airnya telah habis, tapi ketika kesepian itu datang melanda, maka muncul pula air matanya.


Pagi-pagi sekali Ayu sudah datang ke rumah Anggara, mengahdirkan kehangatan dan kehebohan bagi anak-anak, mereka sangat menyukai kehadiran David dan Ayu di sana.


"Habiskan makananmu Sayang." Zahira melihat Satria sedang memiringkan kepalanya tentu dia sedang berpikir.


"Baiklah." jawabnya kemudian makan dengan serius.


"Setelahnya Kakek akan mengantarkan kalian ke sekolah." ucap David memberi mereka semangat.


"Yeah..Yeah!" seru keduanya bersahutan.


"Jangan nakal!" Zahira mengingatkan, ia tahu persis anak-anaknya sangat aktif. Itu sebabnya Zahira mengizinkan mereka belajar bela diri sambil bermain, karena jika tidak lelah maka mereka tak bisa tidur.


"Iya Ibu." jawab mereka bersamaan dengan wajah menunduk, mereka sedang menjadi anak baik. Tentu hal seperti itu membuat pasangan yang tak muda itu selalu rindu, aktif, pintar dan menggemaskan.


"Papa dan Mama sebaiknya tinggal di sini saja, Satria dan Sadewa tidak bisa berlama-lama jauh dari kalian." ungkap Zahira sambil ikut sarapan.


"Ya, itu hal yang mudah. Tapi kasihan Radit, dia sendirian Sayang." jawab David.

__ADS_1


Zahira tak lagi menyambung pembicaraan mereka, tentu jika masalahnya adalah Radit, Zahira di tak bisa berkata apa-apa. Tidak mungkin baginya jika harus mengizinkan Radit pula tinggal dirumahnya, lagipula pria bermata sipit itu sekarang sedang menghindarinya. Jarang bicara bahkan tak mau tersenyum.


"Ayo kita berangkat!" David sudah selesai, begitu juga anak-anak yang sudah siap, mereka turun dari kursinya meraih tangan David di kiri dan kanan, sementara Jia mengikutinya di belakang.


"Jia!" Zahira memanggilnya.


Jia menoleh, berbalik menghadap Zahira. "Ada apa Nyonya?"


"Ah, kemarin aku menerima kabar, jika Akbar sudah kembali dari luar negeri." Zahira tersenyum lembut, menatap wajah cantik bodyguard yang amat setia itu. Tentu ia juga ingin Jia bahagia, tak hanya menjadi penjaga anak-anak dan dirinya terus-menerus.


Jia sedikit terkejut, pria yang ia gantung hatinya itu ternyata sudah kembali. Mana tahu dia pulang untuk menemuinya. Jia tak mau berharap, kepergian mendadaknya ke Jepang kala itu tentu membuatnya kecewa, dan setelah kembali Jia tak juga membalas cintanya.


"Aku hanya ingin kau memikirkan dirimu, tak hanya memikirkan keluargaku." Zahira tersenyum, mendekati Jia dengan menatap tulus.


Jia mengangguk, tak ada jawaban dari gadis berwajah dingin tersebut, tapi Zahira yakin, saat ini Jia sedang memikirkannya.


"Aku rasa iya Mama, jika dia menikah dengan Akbar, artinya kita semua tak akan berpisah." jelas Zahira sambil tersenyum.


"Ya, tapi jika dia tidak mau maka jangan kau paksakan. Biarkan dia memilih dan bahagia dengan apa yang dia pilih." jawab Ayu menatap Zahira dengan tatapan sendu.


"Mama memikirkan sesuatu?" tanya Zahira melihat ekspresi wajah Ayu.


"Itu juga berlaku denganmu Nak, Mama hanya ingin kau bahagia." ujarnya lagi, semakin sendu.


"Reza Mahendra sedang ke London Mama, aku berharap dia berjodoh dengan gadis pilihan ibunya. Jujur saja, aku tak bisa menjanjikan apa-apa, bahkan hatiku sendiri masih tak karuan, hancur tak mungkin bisa di satukan."


"Sebenarnya Mama juga tidak setuju jika kau menikah dengannya. Ikatan ibu dan anak tak mungkin bisa dipisahkan, tapi ikatan suami dan istri bisa di longgarkan. Apa jadinya jika seorang anak harus memilih antara ibu dan istri, sudah tentu yang akan mengalah adalah dirimu. Sekuat apapun kalian menghindarinya, akan ada banyak momen yang mempertemukan kalian, dan itu sangat tidak baik untukmu juga anak-anakmu. Mama tidak mau kau mengalami perpisahan lagi, meskipun salah satu perpisahan yang menyakitimu adalah Radit, putra Mama sendiri."

__ADS_1


"Aku tahu Mama, aku tak mau menjadi penyebab rusaknya hubungan ibu dan anak, karena aku pun tak mau jauh dari Sadewa juga Satria." Zahira sangat paham apa yang di khawatirkan Ayu.


"Seperti Mama juga Nak, tak akan bisa jika harus berpisah dengan Radit, tapi Mama juga tak mau kehilangan dirimu." tak ketinggalan Ayu juga mengungkapkan perasaannya.


"Mama!" Zahira mendekati Ayu dan memeluknya.


"Kau memang harus menikah lagi Nak, karena Papa dan Mama sudah tua, dan kau harus punya seseorang untuk menjagamu." ucap Ayu lagi.


"Aku belum memikirkannya Mama, aku berdoa semoga Papa dan Mama selalu sehat, selalu bahagia. Aku belum siap kehilangan Papa dan Mama."


"Tentu saja Mama masih ingin hidup." ucapnya sedikit bercanda, menciptakan tawa antara keduanya.


Dua hari sudah berlalu, tak ada kabar dari Reza Mahendra. Dan sengaja Zahira tak mengirim pesan bahkan menghubunginya, membiarkannya menikmati waktu bersama Ibunya dan suasana di sana. Hingga malam itu panggilan telepon berbunyi, tertera nama Reza di layar ponsel Zahira.


"Assalamualaikum Mas." jawab Zahira seperti biasa pelan dan halus.


"Wa'alaikum salam Sayang, di sana sudah malam ya?" tanya Reza sambil tertawa sedikit.


"Iya." Zahira ikut tersenyum meski tak di dengar Reza di sana.


"Nanti malam adalah malam Minggu. Ah tepatnya sekarang." tentu karena di London masih siang, perbedaan waktu tujuh jam membuat keduanya merasakan hal berbeda.


"Memangnya ada apa dengan malam Minggu Mas?" Zahira sedikit mengajaknya bercanda.


"Ya, mungkin menyenangkan bila bersamamu. Tapi di sini Mama malah mengajakku makan malam bersama dengan rekan bisnisnya." Reza memberitahu Zahira.


"Tidak apa-apa, mungkin anaknya adalah gadis yang akan di jodohkan denganmu." ucap Zahira menebak.

__ADS_1


"Bukan, semuanya laki-laki."


__ADS_2