Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
34. Dia istriku


__ADS_3

Hingga saat malam mulai larut, Zahira sedang duduk bersama Ayu dan juga Bella yang turut hadir karena suami Bella adalah saudara sepupu Anggara. Mereka hanya mengobrol sambil menikmati suasana hiburan di Hotel besar itu.


Radit duduk tidak jauh dari mereka bersama Akbar sepupunya, mereka juga terlibat obrolan ringan walau terkadang saling menggoda dengan obrolan dewasa hingga menciptakan derai tawa dari rekan juga terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.


"Aku permisi ke toilet sebentar." Radit beranjak meninggalkan rekan-rekan yang lain.


"Jangan lama." seru Akbar padanya.


"Untuk apa aku berlama-lama di toilet." Radit menggeleng dan tertawa.


"Ah benar juga, dia sudah punya sarangnya." jelas Akbar ikut tertawa mendengar jawaban Radit diikuti yang lain.


Radit berjalan meninggalkan ruangan itu, mencari toilet dengan menoleh ke kiri dan ke kanan, biasanya ada tanda arah yang di pasang, kenapa di hotel semewah ini tak ada tanda? Begitu pikiran Radit sejenak ia berdiri.


"Radit." panggilan itu membuatnya terkejut juga kesal, ia tak menoleh bahkan bersikap seperti tidak mendengar apa-apa.


"Radit, aku ingin bicara denganmu." suara gadis itu semakin dekat. Dan kali ini Radit menoleh, jujur saja ia takut jika ada yang melihat.


"Ada apa, aku tidak punya waktu bicara denganmu." Radit membuang pandangannya masih memikirkan toilet untuk menghindari gadis itu.


"Radit aku mohon jangan begini, bukankah kita sudah jauh lebih dekat setelah kejadian kemarin, bahkan aku tak bisa melupakanmu." Merry mencoba mengajaknya bicara baik-baik.


"Itu perasaanmu Merry, justru itu membuat aku merasa jijik juga pada diriku sendiri. Dan satu lagi, jangan pernah dekati Zahira." ucap Radit begitu tegas.


"Kau jijik denganku maksudmu? Kita sama saja Radit. Kau begitu takut Zahira tau tentang yang sudah kita lakukan, apa kau pikir selamanya dia tidak akan tahu?" Merry tersenyum sinis.


"Jangan kau coba-coba mendekatinya, atau aku tak akan segan menyakitimu Merry." Radit berbicara serius.


"Aku tidak akan macam-macam, Tapi kau juga harus sadar ini terjadi karena kau lebih dulu menghinaku. Kau pikir aku tidak mendengar ucapanmu? Aku mendengarnya Radit, dan aku sungguh sakit hati."


"Tapi tidak dengan cara begini Merry, kau tampak seperti wanita murahan." Radit menjadi emosi, terlebih lagi bayangan bersama Merry kembali melintas.

__ADS_1


"Kau bilang aku murahan? Zahira-mu itu jauh lebih murahan, berhijab rapi, menutup aurat tapi berciuman denganmu berulangkali, aku curiga kau dan dia sudah melakukannya berulang-ulang. Hingga kau tidak bisa berpaling darinya karena kau sudah menikmati dirinya!"


"Iya, aku dan Zahira memang sudah melakukannya bahkan di setiap waktu. Tapi dia bukan murahan seperti dirimu!" Radit membentaknya dengan mata yang memerah.


"Dia murahan Radit!" Merry memotong teriakan Radit.


"Dia tidak murahan, dia istriku!" Teriak Radit dengan penuh emosi.


Merry terkejut.


Mulutnya terbuka dengan mata tak berkedip. Hatinya bagai terkena tembakan begitu tidak menyangka dengan ucapan Radit, ia berpikir ini hanya mimpi namun sekejap kemudian ia sadar ini nyata, ucapan Radit juga nyata.


"Apa?" ucapnya pelan, Merry tak tau harus bicara apa, nafasnya begitu sesak.


"Dia istriku dan kau tahu, alasan aku pindah ke negara ini adalah Zahira. Aku menyusulnya, aku menikahinya, dan aku tidak mau kehilangan dirinya. Asal kau juga tahu, aku bahkan tidak peduli dengan sekolahku, atau apapun termasuk Bisnisku. Yang penting dalam hidupku hanya dia, Zahira saja!" jelas Radit semakin membuat gadis itu lemas tak percaya.


"Tapi kita sudah melakukan itu Radit." lirihnya, wajah itu terlihat menyedihkan.


"Istri." lirihnya lagi, ia berdiri mematung dengan linangan air mata masih tak berhenti. Wajahnya pucat dan begitu putus asa.


"Lalu bagaimana dengan aku?" ucapnya lagi, dia berbalik dengan langkah yang lemas, namun di satu sisi hatinya dia tetap tidak ingin kehilangan Radit.


Sedangkan Radit melangkah terburu-buru meninggalkan Merry, berbelok ke salah satu lobi dan langkahnya terhenti.


"Om Anggara!" panggil Radit dengan gugup. Sungguh ia takut pembicaraannya dengan Merry terdengar oleh Anggara. Apalagi wajah pria itu begitu datar kali ini.


"Kau berhubungan dengannya?" Anggara bertanya dengan nada dingin.


Radit tidak menjawab dan segera berlalu, tapi Anggara menahan lengan Radit membuat pria muda itu semakin takut.


"Katakanlah!" Anggara tak berniat menatap wajah Radit.

__ADS_1


"Aku tidak mau kehilangan Zahira, dia istriku." Jawab Radit, dia berlalu segera tak ingin berbicara lagi.


Anggara berbalik, pria dewasa itu kembali masuk menuju Aula luas yang sedang ramai, matanya mencari sosok Zahira. Lalu kemudian pergerakan bola mata coklat itu terhenti, sosok yang di carinya sedang duduk dan tersenyum manis sekali. Tidak terbayangkan bagaimana jika gadis itu dikhianati, sungguh Anggara ingin menolongnya tapi tentu dia bukanlah siapa-siapa. Namun jika Zahira terpisah dari Radit, maka ia adalah orang pertama yang akan mendekati Zahira.


"Jika Tuhan memberi aku satu kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakan itu." gumamnya sedikit tersenyum, namun kembali ia menyadari saat ini dia hanyalah berharap, walau ada kemajuan, dari hanya bermimpi lalu berharap, mungkinkah nanti akan menjadi nyata? Itu terlalu jahat!


Anggara tersenyum kecut, membuang pandangannya ke arah yang tak tentu. Segila itu cintanya pada seseorang hingga menunggu putrinya untuk kembali ia cintai. Semoga saja di akhir usia yang tak lagi muda ia bisa mendapat cintanya. "Walau hanya sejenak."


"Kau sedang memikirkan istri orang?" Asisten pria itu memergoki dirinya sedang memandangi Zahira.


"Jaga bicaramu jika masih ingin bekerja." Anggara berlalu, asisten itu juga mengikutinya.


"Apa harus ku buat mereka berpisah?" Asistennya itu sungguh sudah tidak tahan melihat Anggara hanya diam memandangi seorang wanita.


"Jangan kau lakukan jika masih ingin hidup." Anggara merasa kesal dengan ide asistennya yang sedikit gila.


"Jika kau menunggunya menjadi janda aku khawatir kau sudah tidak ada di dunia ini." tambahnya lagi, asistennya itu mendapat tatapan tajam dari Anggara.


"Ah baiklah, kalau begitu berdoalah agar dia cepat menjadi janda." Asistennya langsung pergi sedikit berlari.


"Lama-lama aku bisa kena darah tinggi memiliki asisten seperti dirinya." Anggara bergumam sendiri.


"Om."


Panggilan itu mengejutkannya, suara lembut itu begitu ia kenal bahkan membuat hatinya bergetar. Lagi-lagi ia harus menutupi perasaan itu sebaik mungkin, ia berbalik.


"Ada apa Zahira?" jawab Anggara pelan.


"Aku mencari ruangan ini, aku ingin istirahat." Zahira memperlihatkan card yang tadi diberikan Anggara padanya.


"Di sebelah sini, tak jauh dari kamar yang aku tempati." Anggara menoleh sejenak dan mengajaknya menuju kamar milik Zahira.

__ADS_1


__ADS_2