Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
92. Zahira lagi


__ADS_3

"Mungkin kau sedang merindukan Zahira." Ayu mencoba menenangkan Radit.


"Tapi_" Radit menoleh ingin sekali masuk ke ruangan itu.


"Sudahlah." Ayu mengelus pundak Radit, kemudian berlalu menuju ruangan bersalin.


Ragu namun ia berlalu juga, pria tampan itu masih beberapa kali menoleh ke ruang Dokter kandungan.


"Bagaimana Dokter?" Anggara masuk dan langsung menanyakan kandungan istrinya.


"Semuanya baik Tuan Anggara, untuk rasa mual itu biasa untuk ibu hamil muda, bahkan ada yang merasakan pusing dan mual itu hingga Lima bulan. Istri anda masih beruntung tak mengurangi nafsu makan." Dokter itu tersenyum memandangi Zahira.


"Kalau soal makan dia tidak bisa berhenti." Anggar mengelus kepala Zahira.


"Anak kalian nanti pasti cantik atau tampan sekali." Dokter itu memuji.


"Dokter terlalu memuji, tidak masalah bagiku dia cantik atau tampan yang penting istriku selalu sehat beserta anakku." ucap Anggara masih menatap Zahira dengan mesra.


"Benar sekali." Dokter itu menyerahkan catatan kecil yang berisi beberapa vitamin.


"Terima kasih." ucap Anggara ramah, tangan kokohnya membantu Zahira berdiri.


"Bulan ke Tiga jangan lupa untuk kembali periksa." ucap Dokter itu lagi.


"Baiklah." Anggara tak berhenti memeluk gadis itu, mengajaknya keluar dengan tangan kecilnya juga tak mau lepas dari Anggara.


"Kita akan membeli ayam tepung yang kau suka." mereka berjalan begitu mesra.


"Aku ingin belanja yang banyak, buah yang banyak dan makanan ringan yang banyak." ucapnya manja.


"Benar juga, kau sering lapar di malam hari Sayang." jawab Anggara menyetujuinya.


Mereka tidak sadar di belakang mereka sepasang mata sedang memperhatikan, meskipun jarak mereka jauh, tapi wanita itu berusaha mendekat dan menyusul kedua orang yang berjalan sangat mesra.


"Zahira!" ucapnya dengan mata membulat dan bibir sedikit terbuka, dia mempercepat langkahnya, menyusul hingga ke depan rumah sakit ia masih mengejar ingin mendekat, berbicara dan melihat wajahnya.


"Anggara tunggu!" Ayu berteriak namun tak di dengar, Anggara sedang menutup pintu mobilnya.


"Anggara tunggu!!" teriaknya lebih kencang ketika mobil itu mulai melaju.


"Itu benar Zahira, aku yakin dia Zahira, dia putriku." ucapnya dengan berurai air mata.


Dengan tak sabar Ayu meraih ponsel di dalam tasnya, ia ingin segera tahu bahwa itu adalah benar Zahira.


"Halo Anggara!" Ayu berbicara dengan nafas tak beraturan.

__ADS_1


"Ada apa?" suara pria itu terdengar tidak bersahabat.


"Dia putriku." ucap Ayu masih dengan tangisnya.


"Lalu?"


"Aku ingin menemuinya." Ayu seperti mendapat harapan ia sudah tidak sabar ingin bertemu.


"Kau hanya bermimpi." ucap Anggara langsung memutuskan panggilan teleponnya.


"Anggara!" Ayu belum selesai bicara.


Ia melangkah menuju mobil, akan segera meluncur ke rumah mereka.


"Mama!" teriakan Radit menghentikan tangan Ayu yang akan membuka pintu mobil.


"Aku harus pergi." ucapnya tak mau menatap wajah putranya.


"Tapi Merry butuh kita Mama, anakku akan segera lahir." ucap Radit lagi.


Ayu menjadi bimbang, dan pada akhirnya ia mengurungkan datang ke rumah Anggara.


"Dokter sedang menangani Merry Ma, dia kembali kesakitan yang luar biasa." Radit sungguh terlihat khawatir.


"Itu biasa, jika tidak sakit maka anakmu tidak akan lahir." jawab Ayu tak terlalu menanggapi kekhawatiran putranya.


Benar saja di ruangan itu di penuhi teriakan Merry, gadis itu sudah kehilangan rasa malunya bergerak kesana-kemari dengan perutnya yang besar, dia sungguh sedang menderita.


"Merry, tenanglah!" Radit berusaha menenangkannya, tangan pria itu sedang di pegang sangat erat.


"Ini sakit sekali Radit, aku mau di operasi saja." ucapnya menangis.


"Bukankah melahirkan secara normal itu adalah Syahid bagi wanita." Radit berniat menghiburnya.


"Tapi ini sakit sekali, aku tidak kuat, aku tidak peduli dengan Syahid." ucapnya kesal.


"Kau tidak boleh begitu, Zahira saja berharap bisa melahirkan secara normal sepertimu." Radit masih berusaha menghiburnya.


"Kau jahat sekali membandingkan aku dengan dia, kau tidak lihat aku bertaruh nyawa melahirkan anakmu." Merry semakin menangis.


"Maaf!" Radit jadi semakin serba salah, ia juga tidak sengaja menyebut nama Zahira, tapi ia tak bisa berbohong jika di dalam pikirannya selalu ada wanita itu saja.


"Bapak keluar saja ya, biar kami yang menangani istri anda." seorang perawat memintanya untuk keluar, di gantikan oleh perawat itu untuk memberi semangat pada Merry.


Radit hanya menurut, ia juga sebenarnya sedang tidak fokus karena mendengar suara yang sama persis seperti Zahira tercinta.

__ADS_1


"Apa sudah lahir?" Ayu bertanya pada anaknya yang terlihat kusut.


"Belum Mama, Merry tidak suka aku mendampinginya." ucap Radit lemas.


"Kau membuatnya marah?" Ayu sudah bisa menebak, tidak mungkin seorang Merry menolak bersama Radit.


"Tidak sengaja." jawabnya duduk menyandar di kursi tunggu.


"Aku jadi tidak fokus karena mendengar suara istri Om Anggara." ucapnya jujur.


Ayu tak menjawab, tapi dia juga sedang menyimpan penasaran dan ingin bertemu dengan istri bos besar itu. Tapi ia tak mungkin memberitahu Radit tentang itu semua, mungkin nanti setelah semuanya jelas.


Lama mereka berdiam, Ayu dengan pikirannya yang entah kemana, juga Radit yang pikirannya selalu berkelana.


"Bapak Raditya! Istri anda sudah melahirkan dan bayinya perempuan." salah satu perawat memberitahu.


"Syukurlah." Ayu beranjak dengan di iringi Radit di belakangnya, mereka masuk dan segera melihat keadaan bayi itu, anak dari Raditya.


*


Sementara di tempat lain, mereka masih dengan kebahagiaan yang sama, menikmati sore dengan bersenang-senang. Ia terlihat bahagia bersama suami yang selalu memanjakannya, menuruti apa maunya, apalagi saat sudah mengetahui kehamilan itu, dia benar-benar menjadi ratu di hati Anggara.


"Apakah anak kita perempuan atau laki-laki?" Zahira sedang berpikir dengan tangannya selalu saja memainkan jari-jari Anggara, berdiri di balkon yang luas.


"Apa saja, tapi jika Allah mengabulkan aku ingin anak laki-laki, agar dia bisa selalu menjagamu." ucap Anggara, masih membiarkan Zahira sibuk dengan jarinya.


"Semoga saja, walaupun aku ingin sekali memiliki anak perempuan." jawab Zahira menempelkan pipinya di bahu Anggara.


"Nanti kita akan memilikinya juga." Anggara menghibur dan memeluknya.


"Artinya aku akan kembali mengandung setelah yang ini, kita akan memiliki anak yang banyak." ucap Zahira begitu bersemangat.


"Apa kau sanggup Sayang." tanya Anggara.


"Aku akan menyanggupinya, demi dirimu." ucap Zahira terdengar romantis.


"Aku akan selalu bersyukur dengan apa yang ada, kau sudah hamil saja aku sudah sangat bahagia." Anggara begitu menyayanginya.


"Tuan, ada yang mencari Tuan dan Nona." seorang ART yang masih muda menghampiri mereka.


"Siapa?" tanya Anggara merasa tak pernah ada janji, lalu kemudian turun bersama Zahira menemui orang itu.


*


Ini awal perseteruannya!.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan serta komentar-komentarnya, maaf jika terkadang ceritanya kurang membuat readers sekalian kurang puas, tapi yakinlah Novel ini di buat dengan sepenuh hati.


😘😘😘😘😘😘


__ADS_2