
"Merry!" panggil Vino saat itu, ia melihat mata gadis cantik di hadapannya sembab dan hidung yang memerah.
Merry menoleh, ia tak menyangka jika Vino menunggunya di luar, padahal tadi pria itu bilang hanya kebetulan ada di sana dan ada janji dengan temannya. Tapi Merry tak peduli hal itu, ia butuh Vino, benar-benar butuh Vino untuk meluapkan kesedihan. Merry langsung memeluknya, dan menangis sejadi-jadinya di dada Vino.
Vino memiliki tubuh yang sama tinggi dengan Radit, bedanya Radit berkulit putih bersih dan Vino berkulit agak coklat, mata lebar dan rambut tegak sedikit acak-acakan, mungkin mengikuti model pemeran vampir di sebuah sinetron.
"Kita pergi dari sini." ucap Vino mengerti, bahwa Merry sedang bersedih dan tentunya karena Radit, siapa lagi kalau bukan sahabatnya yang memang tampan itu.
Vino mengajaknya berkeliling-keliling, walau tanpa arah namun akhirnya berhenti di rumah Vino. Mungkin laki-laki muda itu bingung harus membawanya kemana. Lagi pula Merry hanya diam dan sesekali kembali menangis, ia tidak tega melihat gadisnya bersedih, tapi Vino tak tau harus berbuat apa, dia bahkan tak punya pengalaman untuk menenangkan seorang gadis yang sedang bersedih.
"Kita masuk saja ya, kau butuh tempat untuk menyandar atau berbaring. Kau sudah menangis terlalu lama, pasti lelah!" Vino berucap lembut pada gadis pujaannya.
Merry mengangguk, hatinya sedang galau sehingga ia malas bicara, bahkan malas pulang karena selalu teringat dengan Radit.
"Istirahatlah." Vino meninggalkan Merry ketika sudah di ruang tamu, pria itu menuju ke belakang dan sepertinya ke dapur untuk membuatkan minum.
Tak lama ia kembali dengan membawa dua cangkir teh di tangannya. " Minumlah Merry!" ucap Vino tersenyum, ia sungguh kasihan melihat wajah lelah itu menyandar dengan rambut berantakan.
"Aku tidak mau." jawabnya masih menyandar.
Vino menarik nafas beratnya, kemudian ia beranjak dan mendekati gadis itu. "Kau tidak bisa seperti itu, kau harus menjadi wanita kuat dan pintar jika ingin mendapatkan Radit." Vino menyibak rambut Merry yang berantakan di wajah.
Namun gadis itu enggan bergerak, membiarkan Vino menatapnya juga memperhatikan dirinya.
"Merry." panggil Vino lagi.
"Aku malas pulang, aku tidak suka kamarku, aku selalu teringat dengan kejadian itu." dia buka suara, namun memejamkan mata.
"Terserah kau saja, jika tak ingin pulang maka aku akan menemanimu kemana saja, atau bahkan boleh disini." Vino masih duduk di samping Mery dengan mata tak lepas darinya.
__ADS_1
Lama, hingga tengah malam saling berdiam, dan Merry pun tertidur menyandar di sofa rumah Vino.
"Radit!" rengeknya ketika Vino memindahkan tubuh indah itu ke ranjang kamar Vino.
"Aku bukan Radit Merry!" Vino menjawab meskipun ia tahu jika Merry tak akan mendengarkan.
"Jangan pergi, kau disini saja bersamaku." ucapnya lagi, tangan kecilnya melingkar di bahu Vino.
"Merry, ingat aku ini bukan Radit." Vino mencoba untuk membuat Merry bangun dan tidak menganggapnya Radit. Namun percuma, Merry semakin tak melepaskannya.
Tengah malam yang gelap, hujan turun mengguyur menggantikan segala nada, yang ada hanya keramaian rintiknya yang tak terhitung. Di tengah pertempuran panas Raditya dan Zahira di hotel saat itu, di rumah Vino juga tak kalah panasnya, kegiatan gila itu baru saja di mulai.
Ketika mata bulat Merry terbuka, Vino sempat merasa takut jika gadis itu akan marah dan mengamuk. Namun di luar dugaan, Merry meminta Vino melanjutkan kegiatan mereka hingga tuntas.
"Merry!" Vino berhenti dan berusaha sadar, ia takut Merry menyesal.
"Tidak Vino, aku menginginkannya." jawab Merry dengan tatapan yang menentang, tentu yang terjadi selanjutnya adalah saling berbagi dan saling mengalahkan dalan nikmat yang salah.
"Aku takut kau menyesal setelah semua ini." ungkap Vino mengelus kepala Merry.
"Aku tidak akan menyesal!" jawabnya pasti, tatapannya menerawang jauh entah kemana.
"Ini salah Merry." Vino menyapa wajah di dalam dekapannya.
"Kau tahu, Radit sudah menikah!" ucapnya sedih sekali, gadis itu kembali menangis.
"Menikah? Dengan siapa?" Vino sungguh heran.
"Dengan wanita yang selalu ia banggakan, dia terlihat seperti budak cinta jika bersamanya, Radit berubah Seratus Delapan Puluh Derajat jika sudah bersama wanita itu, dia sungguh membuatnya menjadi ratu, bahkan keluarganya!" Merry kesal sekali.
__ADS_1
"Tapi kita masih sekolah, mana mungkin Radit sudah menikah? Atau dia sedang berbohong?" Vino tak percaya.
"Tidak! Itu benar dan aku mengetahuinya."
"Tapi kita masih sekolah?" ulang Vino atas pertanyaan yang entah ia arahkan pada siapa.
"Bahkan kau sangat mahir melakukannya, tentu saja menikah bukan hal yang mustahil untuk orang seumuran kita." Merry tersenyum kecil.
"Benar juga." Vino ikut tersenyum dan kembali memeluk Merry dengan mesra. Membuat Merry melupakan semuanya untuk sementara.
Sisa malam yang tinggal sepertiga itu akhirnya terlewati dengan rasa menggila dari seorang Vino, hingga terlelap keduanya melepas lelah.
Cerahnya hati Vino,sama cerahnya seperti matahari yang sudah beranjak tinggi, namun gadis itu masih terlelap di dalam selimut. Vino tersenyum menatapnya, mungkin akibat dari pertempuran semalam yang berlangsung berkali-kali membuat gadis itu kelelahan. Vino benar-benar tidak melewatkan kesempatan, pria itu menggempurnya habis-habisan.
Hingga di siang itu Merry pulang dengan diantar Vino, pria itu sungguh menyayanginya bukan hanya karena sudah terjadi sesuatu diantara mereka.
"Merry, apa tidak bisa kau merelakan Radit, aku yakin dia tidak akan mencintaimu." jelas Vino, walau tak yakin Merry akan mendengarnya.
"Aku tahu, tapi aku akan mendapatkannya dengan cara apapun." Merry tak menatap Vino.
"Tapi kau akan terluka nanti. Aku harap kau mencoba membuka hatimu untukku." ucap Vino sudah tidak mampu menahan perasaan itu lagi.
Merry menoleh, ia tahu jika Vino mencintainya tapi Merry lebih memilih untuk pura-pura tidak mengerti.
"Kita sudah melakukan itu, dan ku lihat kau menyukainya. Jadi apa salahnya jika aku menginginkanmu menjadi milikku." ucap Vino serius.
"Tapi aku hanya mencintai Radit." jawabnya pelan.
"Aku tahu, tapi rasanya aku tidak rela jika harus melepas dirimu." Vino menatap mesra kali ini.
__ADS_1
Merry tersenyum, "Kalau begitu kita akan sering bertemu, aku tak menolakmu Vino, aku butuh bersamamu." jawab Merry setengah merayu.