
"Dok! Apa yang bisa ku lakukan agar suamiku selamat?" Zahira memohon.
Dokter itu menggeleng.
Zahira keluar dengan tak mengatakan apapun lagi, ia berlari menuju ruang operasi dimana Anggara sedang tertidur di sana. Langkahnya cepat, lebih cepat pula air matanya, jatuh dengan tak terkira berapa banyaknya.
"Ibu." panggil Sadewa ketika Zahira melewati mereka dengan setengah berlari.
Zahira masuk tanpa menoleh, ia bahkan tak mendengar panggilan Sadewa.
Langkahnya terhenti, tubuh gagah yang selalu mendekap hangat itu kini terbaring dengan alat medis menempel ditubuhnya. Wajah hangat itu kini pucat dan menutup mata. Zahira mendekat dan segera meraih jari-jari halus yang selalu tampak seksi ketika dulu belum menikah, jari yang membuat seorang wanita dewasa membayangkan di sentuh olehnya.
"Mas." panggil Zahira pelan, dulu panggilan itu terasa canggung, tapi kini seperti sebagian nyawa tak terbayangkan jika esok Anggara sudah tak ada. "Bangun Mas!" ucapnya. "Aku belum siap hidup tanpamu." ucapnya lagi dengan suara mengecil di sela tangis pilu di atas tangan Anggara.
"Bagaimana aku menjalani hari tanpamu? Bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Bagaimana Satria dan Sadewa jika tak ada ayah seperti dirimu? Bangun Mas...!" rengeknya menyandarkan kepala di dada Anggara, mengelus dan mencium wajah suami tercinta.
Tangisan itu semakin tak berhenti, tangannya mengelus dada dan wajah Anggara dengan penuh damba, berharap laki-laki itu bisa sadar, mungkin Allah memberikan keajaiban?
"Aku hamil mas, kau bilang akan menuruti semua mauku, harusnya kau bangun dan memelukku. Aku ingin makan disuapi olehmu." Zahira memeluk tubuh Anggara dengan menangis semakin keras.
"Zahira!" Ayu mendekati Zahira yang masih membungkuk memeluk Anggara. "Sayang kendalikan dirimu, kau harus sabar menghadapi semua ini." Ayu meraih bahu Zahira.
"Mama! Dia harus bangun!" ucapnya, bibir merah itu kembali tertarik ngilu, sungguh tangisan itu tak mungkin dapat di tahan.
"Ya, tapi tidak seperti ini Nak." Ayu menatap wajah Anggara, mata yang tertutup itu mengeluarkan air mata. Artinya dia bisa mendengar apa yang diucapkan Zahira!
"Mama! Dia mendengar ku!" ucap Zahira berteriak ketika mata beningnya mengikuti pandangan Ayu yang terpaku. Zahira segera Memencet tombol di bagian kiri ranjang memanggil dokter.
"Mas! Bangun Mas, jangan terlalu lama tidur tanpa aku bersamamu." Zahira kembali memeluk dan menciumi wajah Anggara. "Mas." bisiknya.
Dokter masuk dengan Dua orang perawat dibelakangnya, mendekati Anggara memeriksa detak jantung dan menganalisa alat medis yang melekat di tubuh Anggara.
"Nyonya." panggil Dokter laki-laki itu pelan.
__ADS_1
Zahira mendongak, lalu berdiri menatap dokter yang juga memandangnya iba.
"Kemungkinan untuk hidup jelas sangat tipis." ungkapnya dengan tak melepaskan pandangannya.
"Dok!" Zahira menggeleng.
Dokter itu menunduk, ia menarik nafas berat.
"Tapi dia menangis saat aku memeluk dan berbicara padanya." jawab Zahira lagi, pelan dan memilukan.
Dokter itu mengangguk.
"Tidak Dok! Dia sudah berjanji akan selalu bersamaku, suamiku tidak akan meninggalkan aku! Tidak Dok!" Zahira memeluk erat tubuh yang hanya tertidur itu. "Mas, Aku hamil Mas! Aku hamil anakmu, kau bilang menginginkan anak perempuan yang cantik." tangisnya pecah lebih keras.
Dada Anggara tiba-tiba terangkat dengan wajah mendongak sesak. Membuat semua orang panik, juga Zahira.
"Nyonya tenang dan sebaiknya tunggu di luar." Dokter itu segera memeriksa kembali Anggara.
Ayu memeluk Zahira dengan erat, ia tidak ingin Zahira mengganggu Dokter yang memeriksa Anggara.
"Mama! Aku tidak mau ditinggalkan." lirihnya, tubuh ramping itu menyandar di dada Ayu.
"Ya. Tenanglah Sayang." Ayu memeluk dan mengelus kepala Zahira.
Tak berapa lama Dokter berhasil membuat Anggara tenang, tak ada lagi pergerakan dada yang naik turun.
"Dok, suamiku akan sembuh 'kan?" tanya Zahira memelas.
"Jika hidup adalah sulit baginya, maka ikhlaskan agar dia tak merasakan sakit." Dokter itu menatap wajah Zahira lagi.
Hanya terdengar isak tangis, ungkapan hati yang sedang luar biasa pedihnya.
"Terkadang janji bisa membuat orang sulit untuk pergi, terlebih lagi janjinya pada orang yang dia cintai." Dokter itu tersenyum sedikit, menepuk bahu Zahira." Ikhlas itu sulit Nyonya. Tentu cintamu sangat besar untuknya, sama seperti cintanya untukmu. Aku kenal betul siapa suamimu, dia tidak pernah main-main dalam urusan perasaan. Tapi lihatlah, dia kesakitan." Dokter itu memberi nasehat.
__ADS_1
"Apakah tidak bisa mengganti jantungnya? Jika bisa ambilah jantung milikku!" Zahira kembali menangis dan memohon.
"Tubuhnya sudah tak punya kekuatan untuk itu, hanya mungkin Anda-lah alasan mengapa dia belum pergi." ucapnya lagi.
"Dok!" Zahira tak mampu berkata lagi.
"Panggilkan putra-putra Tuan Anggara." perintah Dokter itu pada Suster di sampingnya.
"Baik Dokter." Suster itu keluar, dan tak lama kemudian kembali masuk dengan Sadewa juga Satria.
"Ibu, Ayah!" panggil mereka bersamaan.
Zahira memeluk keduanya, mendekatkan dengan Anggara di sebelah kiri, Ayu mengajak Sadewa di sebelah kanan mereka langsung memeluk Anggara sangat lama, kemudian mengecup pipi ayahnya dengan penuh sayang.
"Mas, jika masih bisa! Bangunlah untuk kami yang sangat mencintaimu." ucap Zahira menangis lagi, namun berusaha lebih tegar di depan kedua anaknya. "Tapi jika bertahan hanya membuatmu kesakitan. Maka pergilah, aku ikhlas." lirihnya, berbisik di telinga Anggara, ia memeluk Anggara lagi.
"Ayah." Sadewa dan Satria juga memeluk Anggara, kedua anak itu ikut menangis.
"Aku mencintaimu Mas." bisiknya lagi.
Sudut mata Anggara kembali mengeluarkan air mata, beningnya mengalir pelan. Zahira mengusap bulir bening itu dan mengelus pipi Anggara. "Allah selalu bersamamu Mas, kau orang baik dan rela berkorban nyawa demi aku, istri dan anak-anakmu." tangis Zahira pelan.
Anggara terlihat menarik nafas sangat dalam, lalu menghembuskan pelan. Jari tangannya melurus bersamaan dengan wajah yang tampak tertidur pulas.
Dia sudah pergi.........
Zahira terkekeh pilu, tangisnya tertahan namun hatinya hancur. Ia semakin membenamkan wajahnya di leher Anggara, ia benar-benar tak bisa lagi mengungkapkan betapa sedih hatinya saat ini.
'Mas, andaikan aku bisa meminta kepada Allah, aku ingin ikut bersamamu. Sungguh aku sudah tidak menginginkan dunia ini, bahkan karena dirimu lah aku masih hidup dan menjadi hingga saat ini. Kau memberiku kebahagiaan, kau membuat aku merasa sempurna, kau menjagaku, menjaga hatiku. Kau selalu berterimakasih untuk semua yang kau dapatkan dariku padahal aku tak memberimu apa-apa. Justru kaulah yang memberikan segalanya untukku, kehidupan yang sempurna. Aku menjadi ratu di sisimu, menjadi ibu dari anak-anak jenius kebanggaan mu, menjadi wanita teristimewa dalam kisah bahagia ini.'
"Mas. Kau benar-benar pergi?" tanya Zahira semakin mengeratkan pelukan, tak mau melepaskan kepala Anggara dalam dekapannya. Ia menangis, meraung-raung pilu, menjerit pedih... Sudah tak mungkin berpura-pura tegar, karena sesungguhnya dia tak punya kekuatan untuk itu.
"Maaaaasss.......!" tangisnya menghentikan tarikan nafas, atau mungkin tidak tertarik untuk bernafas.
__ADS_1