Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
138. Seperti dirimu


__ADS_3

"Raya!" Zahira semakin menangis, dan segera di peluk Anggara.


"Sayang, jangan menangis. Raya sudah ada di surga, dia berkorban nyawa untuk menyelamatkan dirimu. Dan sudah tentu aku tak hanya bersedih dengan kepergiannya, aku akan membawa pelakunya pada Polisi. Dan keluarganya mendapat jaminan keuangan yang tidak sedikit, ibunya dan juga adiknya. Mereka semua akan baik-baik saja." jelas Anggara menenangkan Zahira.


"Mengapa mereka jahat sekali padaku, hingga membuat Raya meninggal. Itu semua salah ku, gara-gara aku Raya pergi." Tangisnya semakin menjadi.


"Tidak, kau tidak salah Sayang, kau juga tidak kalah menderita setelah itu, kau di temukan dalam keadaan terendam, lalu kau koma berbulan-bulan. Barulah setelah aku menemukan dan membawamu ke Jakarta, kau sadar selama satu Minggu, dan setelahnya kita ke Singapura dan kau kembali koma. Tak hanya sekali aku merasa kehilanganmu, tapi berkali-kali aku hampir putus asa."


Zahira tak bisa lagi bicara, ia hanya menangis dan meratap di dalam hati.


"Jangan menangis lagi, aku tidak mau kau menangis." ucapnya lagi.


"Aku ingin bertemu dengan mereka, aku akan melihat wajah orang-orang jahat itu. Aku ingin sekali menghajarnya dan menginjak-injak wajahnya." ucap Zahira geram sekali, ia tidak tahu jika ada laki-laki yang memperhatikannya di pintu yang tidak jauh dari mereka.


Radit menatap tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Zahira, bahkan sekian tahun bersama Radit, ia tak pernah seberani itu dalam berkata. Mata pria muda itu terus menajam memperhatikan tingkah Zahira yang menurutnya berbeda.


"Tidak boleh, kau sedang hamil Sayang! Itu tidak baik." ucap Anggara menenangkan dan menggenggam tangan Zahira yang mengepal.


"Tapi dia sudah jahat sekali! Hanya sekedar menampar dan menginjak wajah jeleknya aku rasa hanya secuil dari sakitnya aku dan Raya!"


"Sayang!" Anggara memanggilnya dengan nada sedikit meninggi.


"Aku ingin melihatnya!" teriak Zahira masih tidak mau menurut.


"Itu hanya mengotori hatimu, dan akan membuatmu semakin larut dalam amarah juga dendam yang di ciptakan setan di dalam sini." Anggara menunjuk tengah dada Zahira.


"Sungguh aku kesal sekali, jika saja aku tidak sedang hamil, maka aku yang akan menghajarnya hingga mati." dia masih sangat emosi.

__ADS_1


"Apalagi yang seperti itu, aku tidak akan membiarkan kau melakukannya. Aku tidak mau istriku yang cantik masuk penjara." Anggara merayunya, mungkin hatinya akan sedikit luluh.


"Aku tidak akan masuk penjara, ada kau yang akan selalu melindungiku." jawabnya manja, ia tidak lagi ingin berdebat.


"Tentu saja, kau hartaku paling berharga. Enak saja Polisi mau mengambilmu. Bisa-bisa salah satu dari mereka jatuh cinta dan menikahimu. Lalu aku harus bagaimana?" Anggara sedang mengajaknya bercerita, dengan berandai-andai yang ia karang sendiri.


"Itu-"


"Sepeti dirimu, mencuri istriku dan menikahinya. Lalu aku harus bagaimana?" tiba-tiba Radit sudah berdiri di samping mereka.


Zahira mengurungkan jawabannya, padahal ia ingin berkata banyak pada Anggara. Kini mata bening itu menatap Radit yang berdiri tegak dengan dua tangan ia masukan ke dalam saku celananya.


Anggara menatap pria muda itu sejenak, lalu kemudian ia tersenyum tipis. Tak mau menjawab walaupun banyak sekali yang ingin ia katakan pada Radit, tentu apapun yang akan ia katakan tidak akan membuat Radit puas, malah akan mengundang pertengkaran. Anggara tidak mau melakukan itu, ada Zahira di sana, juga anak-anak di dalam perutnya. Jangan sampai istrinya tegang dan takut.


"Kenapa diam? Apa kau sedang mengakuinya?" tanya Radit lagi dengan tersenyum sinis.


"Jika tak ada kau, dia akan berbicara banyak sekali." Radit menunjuk Anggara dengan memajukan sedikit wajahnya.


"Apa maksudmu Radit?" Zahira angkat bicara, ia tidak ingin Radit terus mengoceh dihadapan mereka.


"Zahira dengar! Kau istriku, aku tidak pernah menjatuhkan talak padamu. Sedangkan dia mengatakan jika sudah memiliki akta cerai milikmu." Radit menunjuk Anggara juga Zahira yang masih duduk tak beranjak dari posisinya.


"Kau lupa jika aku yang menuntut mu? Aku memang menginginkan perceraian kita." jawab Zahira halus.


"Tapi ini sepihak!"


"Aku punya hak menggugat, dan itu di kabulkan!

__ADS_1


"Kuasahukummu itu akan melakukan segala cara untuk membuat kita bercerai! Karena dia ingin kau menikah dengan tua bangka ini!" Radit menunjuk Anggara lagi dengan marah.


Sontak membuat Zahira berdiri. "Aku yang memintanya Radit! Aku yang memberinya kuasa, bahkan aku sempat sadar setelah aku di Jakarta, dan itu baru dua bulan dari gugatanceraiku padamu. Aku meminta Om Ricky untuk menyelesaikan semuanya, yang ada di dalam hati ku saat itu hanyalah Papa!"


"Kau bahkan mendapat kasih sayang dari semua orang, bukan hanya Papa!" bentak Radit.


"Kau memang menyayangiku, tapi akhirnya kau tidur juga dengan istri simpanan mu itu. Jangan pikir aku tidak tahu Radit, aku melihat dengan mata kepalaku saat itu kau sedang bercinta dengannya di sofa apartemen yang kau sewakan untuknya. Kau menemuinya, kau melakukannya di belakangku, kau menikmatinya hingga suara menjijikan itu keluar dari mulutmu! AKU MELIHATNYA RADIT!!!" kali ini Zahira berteriak, marah dan menangis.


"Aku kesal padamu yang terus-menerus meminta cerai dariku!"


"Karena kau memang menginginkannya. Dan Allah sedang menunjukkan jalan terbaik padaku, kau tidak bisa di percaya." Zahira tak lagi berteriak, ia tersenyum getir.


"Dan kau apa!" Radit menunjuk Zahira dengan sedikit mendekatkan wajahnya. "Kau bahkan melakukannya dengan senang hati bersama pria tua ini." Radit juga menunjuk Anggara yang kini ikut berdiri, karena perang mulut mereka semakin menjadi.


"Haha, tentu saja. Dia suamiku! Mencintaiku tanpa kebohongan dan menutup-nutupi sesuatu. Dia selalu bersamaku, mengurusku dengan ikhlas, menjagaku hingga sembuh, tak hanya uang yang ia korbankan untukku, tapi semuanya, SEMUANYA!" Zahira semakin membuat Radit marah, tentu saja ia melakukan itu karena ia tidak suka Anggara di salahkan oleh Radit.


"Apa aku kurang berkorban padamu Zahira?" Radit sungguh bersedih mendengar jawaban itu, ia tidak pernah tahu jika Zahira akan menjawabnya dan menyudutkan dirinya.


"Kau korbankan aku demi orang yang ada di dalam sana." jawab Zahira menarik lengan Anggara.


"Zahira!" Radit meraih lengan Zahira.


"Dia istriku!" Anggara menepis tangan Radit dengan mata menatap tajam pada pria muda itu.


Radit tertawa mengejek. "Heh, sebelumnya dia milikku! Aku yakin dia tidak akan bisa melupakan aku." bisik Radit di telinga Anggara, mata sipitnya melirik Zahira yang sudah berlalu lebih dulu.


"Kau hanya tidak tahu jika dia sangat menikmati sentuhanku, bahkan selalu memintaku untuk melakukannya." Anggara juga berbisik, kemudian ia melirik tangan Radit sudah mengerat seperti ingin memukulnya.

__ADS_1


__ADS_2