
"Sebentar saja pak, aku hanya ingin memastikan sesuatu." pinta Anggara, wajahnya terlihat memohon.
"Maaf, hanya dokter yang bersangkutan yang di perbolehkan masuk." jawab Manager rumah sakit itu, entah mengapa pria muda itu bersikeras melarang orang melihat keadaan pasien koma.
"Baiklah mari kita makan siang bersama." salah satu dokter wanita itu mengajak semua orang makan di ruangan khusus, mereka menyiapkan hidangan di sana.
Makan siang yang tidak terasa nikmat, rasa lapar yang tadi sungguh terasa kini hilang sebab Anggara masih memikirkan pasien koma, entah mengapa ia semakin di buat penasaran dan ingin sekali melihat wajahnya.
"Kita akan kembali setelah ini, jalanan yang sepi, berliku dan berbatu akan lebih mudah di lewati sebelum sore." Ricky berbicara pada bodyguard mereka yang wajahnya terlihat datar tak pernah tersenyum.
Anggara masih larut dalam lamunan sambil sesekali menyendok makanan masuk ke dalam mulutnya sampai akhirnya makan siang berakhir pria itu tak berbicara, ia hanya menurut masuk ke dalam mobil dan mulai melaju pulang bersama Ricky juga dua bawahan bersamanya.
Sudah jadi kebiasaan bagi mereka untuk tidak berbicara jika dirasa Bos mereka sedang memikirkan sesuatu, hingga separuh jalan masih tak ada suara siapapun yang memulai obrolan.
"Kita putar balik!"
Tiba-tiba suara atasan mereka mengejutkan semua orang.
"Tapi ini sudah jauh sekali Anggara." hanya Ricky yang berani menjawab.
"Tidak, aku harus kembali dan memastikan bahwa pasien koma itu bukan Zahira, atau aku tidak akan bisa tidur selamanya." pria itu tak mau di bantah.
Sedangkan kedua orang bawahan mereka hanya diam dengan sesekali menelan ludah paksa, membayangkan akan pulang malam dengan jalan yang sepi, mereka sedang membayangkan harus berkelahi dengan rampok, preman atau banyak jenis penjahat lainnya.
"Tapi_."
"Putar balik atau kalian turun saja pulang lebih dulu biar aku sendiri yang akan kembali ke sana." Anggara benar-benar ingin kembali ke rumah sakit.
"Baiklah, kita akan putar balik." Ricky mengalah dan meminta sopir mereka berbalik arah, mana mungkin dia meninggalkan Anggara sendirian.
*
__ADS_1
"Mama, bolehkah aku meminta ponselku?" tanya Radit pada Ayu, dapat di lihat dari wajahnya, pria itu sedang merindukan Zahira, tentu ia ingin menghubungi Zahira dan mendengarkan suara lembut dan merdunya.
"Tidak boleh sayang, dokter bilang kau belum boleh menggunakan ponsel sampai kau benar-benar pulih." Ayu menatap sedih pada putranya.
"Aku ini sakit apa Ma, aku tak memiliki keluhan apapun?" Radit menunjukan rasa ingin tahunnya, itu membuat Nurul dan Ayu mulai khawatir.
"Kau sedang Depresi, kau terlalu lelah dan butuh istirahat total. Kau butuh ketenangan dan kenyamanan untuk memulihkan kondisimu nak, itu sebabnya dokter melarangmu menggunakan ponsel untuk sementara." Ayu menjelaskannya dengan lembut.
"Tapi, aku sungguh-sungguh merindukan Zahira." jawabnya pelan, suaranya terdengar berat dengan segudang kerinduan yang selalu menyiksa di setiap harinya.
"Setelah kau sembuh sayang." bujuk Ayu sedih.
"Aku akan segera sembuh Mama, aku akan pulang dan menemuinya." Radit sedikit bersemangat, walaupun gurat kesedihan masih saja menguasai pikirannya.
"Iya." Ayu menunduk menahan nafas, ia sungguh tak bisa membayangkan jika suatu saat ia sadar dan mengingat bahwa Zahira sudah tak ada.
Sejenak kemudian ponsel Ayu berdering, wanita empat puluhan itu beranjak sebentar dari sisi Radit, ia melihat nama Merry tertera di layar ponsel miliknya.
Ayu menoleh Radit sejenak, Nurul cukup mengerti dan menggantikan Ayu untuk menemani Radit seperti biasa.
"Aku sedang melakukan USG, apakah Radit sudah bisa di ajak bicara Tante?" tanya Merry di seberang sana.
"Dia masih belum mengingat dirimu Merry, kau harus bersabar." jawab Ayu tegas.
"Baiklah, aku hanya ingin mengirimkan hasil USG jenis kelaminnya perempuan." jelas Merry lagi.
"Kau kirim saja ke ponselku, dan iya aku lupa mengirimkan uang untukmu." Ayu menyadari sesuatu.
"Tidak apa-apa Tante, aku masih ada sedikit uang." jawab Merry membuat hati Ayu lega.
"Sebentar lagi akan aku kirimkan, jangan sampai kau berhemat dan membuat anakmu kurang gizi." Ayu berucap serius, walau tanpa kasih sayang seorang mertua kepada menantu.
__ADS_1
"Terima kasih Tante." Merry mengakhiri panggilannya.
Senyum itu terbit di seberang telepon, gadis itu begitu bahagia mendengar sedikit perhatian dari mertuanya. Secercah harapan itu akan selalu menyala bersama cintanya kepada Radit, perjalanan yang sudah penuh pengorbanan tak mungkin ia akhiri dengan kata-kata menyerah, tentu ia akan sabar dan lebih sabar lagi menunggu waktu itu tiba, hidup bersama Radit dan anaknya selamanya.
Hingga akhirnya bisa mendapatkan sedikit perhatian dari Radit saja ia harus berkorban banyak hal, dan sekarang sudah mendapat perhatikan dari ibu mertua, itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, sedikit demi sedikit dia akan menggantikan Zahira sebagai istri kesayangan dan menantu kesayangan, senyumnya masih tak kunjung menghilang.
Sedangkan di tempat lain, Anggara baru saja tiba di rumah sakit kecil itu, pria berwajah tampan itu sudah tak sabar masuk dan menemukan Zahira, ia melewati banyak orang yang ada lobi rumah sakit, masuk dan langsung menuju ruangan UGD yang hanya beberapa ruangan saja, berharap ia dapat menemukan pasien koma itu tanpa bertanya.
"Maaf pak, anda mencari siapa?" salah satu perawat menanyai Anggara.
"Pasien koma itu ada di ruangan mana?" tanya Anggara tanpa basa-basi.
"Ada_"
"Maaf, hanya dokter yang merawatnya saja yang boleh melihat keadaan pasien." lagi Manager rumah sakit itu menampakkan diri dan melarang Anggara.
"Tapi aku sedang mencari seseorang pak, aku hanya ingin memastikan dia adalah orang yang aku cari." Anggara menatapnya dengan sedikit memohon.
"Tapi sudah peraturan disini tidak boleh sembarang orang masuk ke ruangan sangat darurat seperti ini." jawabnya lagi masih tak mengizinkan.
"Pak aku mohon." Anggara berkata sedikit memaksa.
"Maaf tetap tidak bisa." jawabnya tak berubah.
Anggara masih terus memohon hingga mengundang para dokter mendekat, juga Ricky dan yang lainnya sudah berdiri menyaksikan atasan mereka begitu bersikeras memohon dengan wajah yang memelas.
Anggara meraih ponsel dan memperlihatkan foto Zahira, ia sudah kehabisan cara untuk membujuk Manajer muda itu.
"Ini fotonya, dia calon istriku." ucap Anggara memperlihatkan pada semua dokter dan tentu Manager itu.
Semua orang terdiam menatap foto wanita cantik itu, termasuk Manager rumah sakit itu begitu tegang melihat gadis berkerudung di ponsel Anggara.
__ADS_1
"Dia punya ciri-ciri lesung pipi di kirinya, tahi lalat di lengan kirinya, juga tanda lahir berwarna biru di pergelangan kaki sebelah kiri juga." Anggara masih tak putus asa.
Dan salah satu dokter wanita itu masuk ke dalam ruangan di belakangnya, hingga sejenak kemudian ia keluar!