
"Baiklah." Anggara mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, ia ingin menghubungi Dokter tapi tak terduga ponselnya berbunyi sebelum layarnya di sentuh.
"Halo." jawab Anggara dengan wajah datar.
"Radit bilang Zahira terkilir, apa dia baik-baik saja?" ternyata David.
Anggara menarik nafas lebih dalam lagi dan segera membuangnya. 'Ternyata bocah itu sudah mengadu pada orang tuanya.'
"Dia tidak-"
"Sakit!" rengek Zahira menghentikan pembicaraan Anggara.
"Dia masih kesakitan!" David di seberang sana merasa khawatir.
Anggara segera mengakhiri panggilan ponselnya, ia tidak tega mendengar rengekan Zahira walaupun ia tahu sakitnya tak separah itu.
"Yang mana yang sakit?" tanya Anggara masih tidak terlihat hangat.
"Yang ini." telunjuk lentiknya terulur dan menyentuh bagian pergelangan kaki.
Mau tak mau Anggara mengelusnya, tapi wajahnya tak menatap Zahira, tentu saja itu semakin membuat Zahira semakin penasaran, ia kesal sekali masih tak berhasil merayu Anggara.
"Zahira?" panggilan itu terdengar dari depan pintu kamar mereka yang memang sedikit terbuka.
"Masuk saja." jawab Anggara, ia tahu yang datang adalah David dan Ayu. 'cepat sekali mereka tiba.' gumamnya didalam hati.
"Papa!" panggil Zahira sedikit manja.
"Kau tidak apa-apa? Papa khawatir mendengar suaramu mengatakan sakit." David mendekati Zahira.
"Kita ke dokter saja jika masih sakit Sayang." Ayu duduk di dekat Zahira.
"Tidak mau, biarkan saja masih sakit." jawabnya dengan wajah di tekuk, bibir merahnya kembali mengerucut.
__ADS_1
David dan Ayu saling memandang sejenak, mereka sedang berbicara lewat tatapan mata. David melirik Anggara yang menyandar di dinding dengan matanya tak mau menatap Zahira, wajah pria itu juga tidak secerah biasanya dengan kedua alisnya seolah ingin beradu.
Ayu mengerti dengan maksud David, ia juga melirik putrinya, wajahnya lebih banyak di tekuk, tidak cerah seperti biasanya, bahkan ia belum memperlihatkan lesung pipi indahnya sejak beberapa menit yang lalu, itu sungguh tidak biasa.
"Papa ingin ke bawah sebentar, ada yang ingin Papa bicarakan dengan suamimu." David beranjak dari duduknya, tangan kanannya mengusap pucuk kepala Zahira.
"Tapi Papa! Huuu hu hu." Zahira semakin kecewa Anggara akan keluar bersama David, sedangkan ia ingin di perhatikan oleh pria dewasa itu, ia jadi menangis tapi tak mengeluarkan air mata.
David menganga dibuatnya, tak biasanya Zahira seperti itu.
"Ada Mama di sini." Ayu meraih kaki Zahira dan memijatnya sedikit, wanita berkulit putih itu tersenyum bahagia bisa kembali menyayangi Zahira seperti dulu. Ia sungguh rindu dengan momen seperti ini dan membiarkan putrinya merengek-rengek.
"Aku merindukan Mama." ucapnya setelah mereka hanya berdua, tapi bibirnya masih mengerucut.
"Tentu saja Mama lebih merindukanmu Sayang." jawab Ayu mengelus pipi Zahira, kemudian ia meraih tubuh sedikit gendut itu ke dalam pelukannya.
"Aku sedang hamil lima bulan, tapi rasanya bergerak saja aku merasa sulit." ungkap Zahira menyandarkan kepalanya di dada Ayu.
"Sabar Sayang, tinggal empat bulan lagi. Sering-seringlah olah raga ringan, banyak bergerak misalnya berjalan kaki, atau melakukan kegiatan rumah yang tidak terlalu berat, itu akan membuatmu sehat." jawab Ayu tersenyum lembut, tangannya mengusap kepala Zahira.
"Kalian bertengkar?" tanya David pada teman lama sekaligus menantunya itu.
"Tidak." jawab Anggara masih terlihat kesal.
"Kalau tidak mengapa dia menjadi seperti itu, putriku tidak pernah seperti itu." David duduk di sofa empuk ruang keluarga.
"Tidak, aku tidak sedang bertengkar dengannya." jawab Anggara lagi.
"Atau kau sedang cemburu." tanya David menatap penuh selidik.
Anggara menatap David sedikit, lalu ia menyandar di sofa besar di bersebelahan dengan sofa yang diduduki David.
David menggelengkan kepalanya. "Kau cemburu karena Radit menahan tubuh Zahira saat akan terjatuh begitu?" tanya David lagi.
__ADS_1
"Dia mengadu padamu, tentu saja aku kesal, mereka terlalu dekat, malah terlihat seperti sedang berpelukan." akhirnya Anggara menjawab.
Tapi malah David tertawa terbahak-bahak, pria itu benar-benar merasa lucu dengan jawaban Anggara. David tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Kau pikir itu lucu." Anggara menatap tak suka.
"Tidak, hanya aku sedang mengingat sesuatu." David berhenti sejenak menghilangkan tawanya yang tak biasa. "Dulu saat kau sedang membangun hotel besar yang tak jauh dari perusahaan Ayu itu, kau juga menolong Reva yang terpeleset bersamaan denganmu. Kau menahan tubuhnya hingga terlihat seperti sedang berpelukan, itu membuat Aldo dan Reva bertengkar, marah besar, cemburu hingga meluapkan pada istrinya. Dan sekarang kau mengalaminya! Apa rasanya enak?" David kembali tertawa hingga memegang perutnya.
"Apa separah itu?" tanya Anggara ingin tahu.
"Tentu saja, saat itu kau masih sangat muda seperti Radit, Aldo kesal sekali padamu. Entah kesal atau juga cemburu, tentu saja ia merasa tersaingi dengan pria yang lebih muda. Dia bahkan bekerja dengan wajah memerah dan kacau, tapi akhirnya ia pulang dan menyesali kelakuannya, dan ternyata istrinya sudah tidur. Itu membuat sahabatku itu sulit memejamkan mata sepanjang malam hanya menatap wajah istrinya dengan segudang sesal." David terkekeh, namun ada kesedihan di dalam sana. Ia merindukan masa-masa itu, tapi sungguh ia hanya memiliki Zahira sebagai pengobat rindu dengan sahabatnya juga kakak angkat istrinya.
"Aku sedang menerima karmaku." jawab Anggara ikut tersenyum sedikit.
"Begitulah hidup, bahkan apa yang tidak sengaja kita lakukan tetap mendapat balasan." hati David sedang sesak dengan sedikit cerita masa lalu itu.
"Dan aku benar-benar merasa sedang menikmati bagaimana menjadi orang lain, apa harus begitu?" Anggara jadi berpikir.
"Tidak juga, hanya itu sebagai pelajaran untuk kita. Manusia tidak akan menyadari kesalahannya apa jika tidak ditegur dengan cara yang sama."
"Aku ke atas sebentar." Anggara beranjak dari duduknya, tapi David menahan.
"Tiga hari lagi hasil DNA Laura akan keluar, ku harap mereka mendapat balasan tanpa terkecuali." ucap David sambil berdiri.
"Apa Radit memberitahumu?" tanya Anggara menatap David.
"Tentu saja, dia sedang belajar menjadi laki-laki dewasa. Kasihan putraku adalah korban dari sebuah kesalahan." David bercerita dengan sedikit menyampaikan kesedihannya.
"Aku tahu. Tapi maaf, aku tidak bermaksud untuk ikut menyakiti hati putramu." jujur Anggara.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku percaya kau bisa membahagiakan Zahira, dan ku lihat dia sangat butuh dirimu." David tersenyum.
Anggara berlalu menuju kamarnya dan ternyata Ayu sudah menuruni tangga menyusul David.
__ADS_1
Pria itu langsung masuk dan, melihat Zahira sedang tidur pulas dengan rambutnya terurai di bantal. Sepertinya Ayu habis membelai rambut lembutnya hingga tertidur.
"Sayang." panggil Anggara menatap sendu, harusnya ia tak bersikap begitu, bahkan umurnya sudah tak lagi muda. Tapi cemburu memang tak mengenal usia, sama seperti halnya cinta, Anggara sungguh mencintainya.