Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
280. Akhiri saja


__ADS_3

"Ada yang masuk membawa senjata!" Hiko berteriak membuat mereka semua waspada, tak terkecuali polisi yang ada diluar masuk dan mulai menelusuri seluruh area rumah besar tersebut.


"Tidak ada yang masuk!" seorang bodyguard yang berjaga di layar CCTV mengecek berkali-kali.


"Siapa yang terakhir masuk?" Anak buah Ricko yang memang selalu berjaga beberapa hari ini sedikit meninggalkan suaranya.


"Aku!" jawab sopir Zahira, Tomy memang baru saja dari luar.


"Mobilmu!" yang lain segera membuka mobil Tomy dan memeriksa ke dalamnya.


"Tidak ada?" ketiga orang tersebut keluar dengan mengangkat tangan.


"Tapi alarmnya berbunyi! Apa kau membeli senjata?" tanya seseorang mendesak Tomy.


"Aku tidak membeli apa-apa! Aku hanya mengantar suster membeli saus tomat, di ujung jalan." jelasnya bersungguh-sungguh. Bahkan tubuh gagahnya sudah di geledah beberapa orang.


"Suster Siska!" Tomy menatap rekannya dengan mata melebar.


"Dia?" seseorang betanya.


"Tapi dia berbelanja bersamaku dan tidak kemana-mana." Tomy tampak berpikir.


"Aku harus mencarinya, tidak ada yang tidak mungkin, bahkan Kay bisa berkhianat." ungkap seorang bodyguard Ricko, dia memang senior dan tampak berpengalaman.


Di luar pagar, Radit baru saja datang tapi di cegah Polisi.


Radit membuka kaca mobilnya setengah. "Pak, aku putra Tuan David, ayahku ada di dalam, dan aku juga mendapat alarm yang sama." Radit menunjuk ponselnya.


"Silahkan masuk." Polisi muda tersebut mempersilahkan Radit masuk.


"Tak lama kemudian Ricko juga sudah datang dengan beberapa orang keluar dari mobilnya.


"Masuk kedalam dan lindungi kamar Jia, anak-anak ada di sana." perintah Ricko, yang kemudian diangguki kelima orang tersebut.


"Polisi sudah ada di dalam Tuan." Polisi muda itu menyampaikan.


"Terima kasih." Ricko masih berdiri di luar, dia sedang menunggu Zahira dan Jia.


Radit masuk dengan terburu-buru, dia benar-benar khawatir dengan keadaan di rumah besar itu, anak-anak dan kedua orang tuanya ada di dalam, sedang penyusup juga ada di dalam, tak ada yang tahu dia bersembunyi di mana.


"Mama!" Radit berteriak, melihat ke kiri dan kanan, tak menemukan siapapun. "Tuan Nyonya sedang bersama anak-anak, di kamar Nona Jia, seorang bodyguard menjelaskan, tampak di luar kamar tersebut beberapa orang sedang berdiri.


"Sebaiknya anak-anak di bawa keluar, bukankah bersama polisi mereka akan lebih aman.

__ADS_1


"Penyusup belum di ketahui, jika keluar takut terjadi sesuatu pada anak-anak dan juga orang tua Anda Tuan." bodyguard itu menjelaskan.


"Zahira!" ucapnya merogoh ponsel dan menghubungi wanita cantik itu.


"Halo!" suara Zahira terdengar khawatir, dia menangis.


"Kau ada dimana Zahira?" tanya Radit berusaha sepelan mungkin.


"Aku masih di jalan, aku khawatir dengan anak-anak, juga Papa dan Mama." tangisnya di seberang sana.


"Mereka akan baik-baik saja, aku ada di rumahmu sekarang. Mereka di jaga ketat." jawab Radit menenangkan Zahira.


"Aku akan segera sampai." Zahira menutup ponselnya.


Radit kembali melihat suasana rumah besar tersebut, tak ada yang mencurigakan. Tapi mengapa alarm tanda bahaya tersebut berbunyi dan masih belum berhenti.


"Keluarkan saja anak-anak, aku akan membawanya pergi dari sini." pinta Radit kepada seorang polisi.


"Tunggu keadaan aman Tuan, bahkan kita belum tahu dan siapa yang masuk membawa senjata." Polisi tersebut menjelaskan.


"Bagaimana kalau yang membawa senjata itu adalah orang dalam?" tanya Radit semakin khawatir.


"Tunggu sebentar lagi, anak buah Tuan Ricko sedang memeriksa suster Siska, karena yang terakhir masuk adalah dia dan sopir Nyonya Zahira." jelasnya lagi.


"Tadi masuk ke dapur." jawab seorang bodyguard Ricko.


Radit berlalu menuju dapur, dia sungguh penasaran sekali dengan suster Siska yang terakhir masuk. Tapi jika dilihat dari hari-hari biasa, wanita itu tak mungkin melakukan hal yang berbau kejahatan. Namun sekali lagi, apa saja bisa terjadi jika sudah berhubungan dengan uang.


Radit membuka pintu dapur, tapi kosong tak memperlihatkan seseorang di dalamnya. Radit terus berjalan menuju dapur kotor tempat para asisten sering memasak apa saja yang mereka suka.


Dengan sangat waspada Radit membuka pintu, tapi tak menemukan juga.


Radit kembali ke depan ingin menanyakan dimana kamar wanita itu. Tapi kejadian menghebohkan malah terjadi di ruangan paling belakang, di sana beberapa orang berkumpul karena menemukan pakaian suster Siska, tapi tak menemukan orangnya.


Radit membuka ponselnya, akses CCTV juga ada di ponsel Radit. Tentu dia juga bisa mengawasi dimana wanita itu berada.


"Radit!"


Suara Zahira memanggilnya, tampak wanita itu berjalan terburu-buru ke arah Radit diiringi Jia bersamanya.


"Sebaiknya kau bersama yang lain, agar tidak terjadi sesuatu yang buruk." ucap Radit khawatir.


"Semua orang bisa dalam bahaya!" jawab Zahira juga melihat sekeliling mereka.

__ADS_1


"Baiklah, kita_"


Radit menghentikan ucapannya, ketika melihat layar ponselnya menunjukkan gambar seorang wanita tengah berjalan menuju ruangan diman mereka berada. Dia memakai baju suster, bawahannya adalah celana selutut. Radit semakin membelalakkan matanya ketika wanita itu mengacungkan senjata.


"Zahira!" Radit langsung menjatuhkan ponselnya dan menarik Zahira ke belakangnya. Tepat sekali dibelakang Zahira ada seorang wanita yang memakai masker dan baju suster Siska.


"Kita bertemu lagi." ucapnya dingin, membuka maskernya dan melempar sembarangan.


"Merry!" Radit memanggil namanya.


"Kau jahat!" ucapnya dengan wajah sedih, tapi tangannya tetap bersiap untuk menembak.


Radit berusaha mengatur nafas, mengahadapi Merry tentu perlu kewaspadaan dan ketenangan.


"Kau membiarkan aku menderita sendirian." ucapnya lagi, dia benar-benar menangis.


"Aku tidak jahat Merry, kaulah yang jahat." jawab Radit berusaha tenang.


"Aku sedang berubah Radit, tapi kalian malah memasukkan aku ke tempat yang dingin dan tak bisa kemana-mana. Aku sendirian, kalian juga membunuh ayahku!" ucapannya sedih tapi dingin menakutkan.


"Tidak Merry, tidak ada orang yang membunuh ayahmu. Bahkan dia meninggal karena serangan jantung."


"Bohong!" bentak Merry dengan penuh amarah.


"Lalu siapa yang membunuh Anggara?" tanya Radit maju selangkah mendekati Merry.


"Aku!" jawabnya dengan dada naik turun.


"Mengapa?" tanya Radit pelan, lembut membujuknya.


"Dia jahat, dia tidak boleh bahagia!" Merry kembali membidik Zahira, sedangkan Radit sudah ada diantara mereka.


"Merry hentikan!" Radit memintanya, dengan tetap berdiri di posisi angkat tangan.


"Dia juga jahat!" Merry menatap tajam kepada Zahira yang sudah semakin gemetar.


"Dia tidak jahat Merry, dia sudah cukup menderita karena kita." Radit berkata serius kali ini.


Merry menoleh pria yang selalu menjadi khayalannya, kata-kata 'kita' membuatnya sedih.


"Jika kau merasa kecewa padaku, maka kau luapkan saja padaku. Aku yang bersalah Merry." Radit terus bicara membujuknya.


Merry menangis, antara sadar dan tidak dia sedang bersedih.

__ADS_1


"Jika tak pernah puas dengan apa yang sudah kau lakukan untuk menghancurkan orang lain, sebaiknya sekarang kau akhiri saja, bunuh aku!"


__ADS_2