
"Tenagamu masih belum pulih sayang, kau masih butuh banyak istirahat." Anggara masih membujuknya, pria dewasa sepertinya sangat paham perasaan seorang gadis yang ingin di manja. Tentunya jika sudah menikah, dia akan melakukan semua itu tanpa diminta.
"Aku hanya ingin bersamamu." jawabnya pelan, masih memainkan jari Anggara.
"Kita sekarang sedang bersama." Anggara hanya bisa tersenyum menikmati jari lentik itu bermain di sela jarinya.
"Baiklah, aku mau tidur saja." Gadis itu melepaskan tangan Anggara dan masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
Ingin rasanya Anggara menyusul dan membujuknya lagi, tapi akan sangat bahaya jika dia masuk ke dalam sana. Pria tampan itu menarik nafas dengan berat, dia meraih ponsel di saku celananya.
"Iya, ada apa?" jawaban dari seberang sana langsung terdengar.
"Kau siapkan pernikahanku secepatnya." Anggara menoleh kamar gadis yang sudah tertutup rapat.
"Kenapa?" terdengar suara terkekeh geli di seberang sana.
"Dia sedang kesal padaku gara-gara aku tidak mau tidur dengannya." Anggara sedang mengungkapkan kegelisahan.
Pria di seberang sana semakin tertawa hingga terbahak-bahak.
"Kau dengar tidak?" Anggara jadi kesal sekali.
"Iya, aku dengar. Aku sedang mengumpulkan berkas untuk pernikahanmu termasuk berkas perceraian Zahira. Untung saja kemarin aku tetap mengurusnya saat sidang terakhir perceraian, jika tidak kau tak dapat menikah." dia kembali tertawa.
"Baguslah." Anggara bernafas lega.
"Sabar, kau akan merasakannya." Ricky kembali menggoda bosnya.
"Jika aku yang harus bersabar aku akan menahan sekuat tenaga, tapi ini sebaliknya, aku jadi tidak tega."
Ricky semakin tergelak hingga batuk dan tak bisa berbicara.
"Sudah, nanti nyawamu bisa melayang karena terlalu banyak menertawaiku. Aku akan menikahi Zahira secepatnya, pastikan semuanya sudah selesai sebelum akhir pekan." perintahnya tak perduli Ricky masih tertawa.
"Baiklah, aku tidak akan mengecewakanmu." ucap pria itu mencoba serius dan berhenti tertawa.
"Baguslah." Anggara memutuskan panggilan teleponnya.
Sejenak pria itu masih berdiri sesekali masih memandangi kamar Zahira, hatinya sedikit penasaran apakah dia sudah tidur, atau masih kesal terhadap dirinya, dia jadi gelisah.
__ADS_1
Lama berdiri menikmati udara malam sendirian, hatinya masih saja merasa tidak tenang, mata coklatnya tak bisa berhenti menoleh lagi pada pintu di sebelah sana.
Langkahnya berayun perlahan, tangan halusnya terangkat walau sedikit ragu namun tetap ia membukanya.
Mengintip gadis itu ternyata belum tidur, dia bergerak kesana-kemari seakan meluapkan hati yang sedang gelisah.
"Mengapa belum tidur?" Anggara masuk perlahan mendekat.
Zahira bangun dan duduk di ranjang, bibir merahnya mengerucut tak mau tersenyum.
"Kau harus istirahat." ucap Anggara lagi.
"Apa kau punya istri yang lain sehingga kamar kita-pun harus terpisah?" Zahira menatap tajam pada pria yang berdiri di hadapannya.
"Hah! Ti_ tidak." jawabnya dengan terus menatap wajah yang sedang merajuk.
"Lalu kenapa kita seperti ini, apa kau tidak mencintaiku? Kita tidak seperti suami istri." Zahira-pun menatap heran pada Anggara.
Anggara menarik nafas, pria itu tak mengelak kali ini. Ia duduk mendekati gadis cantik itu dan meraih tangannya.
"Aku akan memberitahu sesuatu padamu, tapi kau harus berjanji untuk tidak marah padaku." ucapnya begitu lembut.
"Apa?" Mata beningnya mencari sesuatu di mata coklat milik Anggara.
"Kau bukan suamiku? Tapi perawat itu bilang kau suamiku?" Zahira seperti sulit menerima kenyataan yang di dengarnya.
"Tapi kita akan segera menikah, aku akan benar-benar menjadi suamimu dan kau istriku." Anggara mengeratkan genggaman tangannya.
"Kapan?" tanya Zahira pelan, mata beningnya mulai berembun.
"Setelah berkas kita selesai, dua atau tiga hari lagi." ucap Anggara tersenyum seakan memberi janji.
Zahira menunduk, ia bingung dengan keadaan yang sedang di jalaninya.
"Tidak akan lama sayang, aku juga sudah tidak sabar untuk selalu bersamamu, memanjakanmu dan memelukmu hingga pagi. Aku bahkan sudah sering membayangkan hal itu sejak lama." Anggara sedikit menarik tangan lentik itu agar wajah cantiknya tak terlalu jauh.
Sejenak ia terdiam, dia sedang memikirkan berbagai hal yang dia sendiri tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
"Apa aku punya rumah?" tanya Zahira kemudian.
__ADS_1
"Punya." jawab Anggara jujur.
"Selama aku sakit, aku hanya melihat kau saja, apa ayah ibuku tidak tahu?" tanya Zahira masih tak berhenti keingintahuannya.
"Mereka sudah tak ada, mereka sudah meninggal." Anggara juga berkata jujur.
"Aku sendirian?" tanya suara halus itu, matanya tak mau berkedip menatap wajah yang dengan sabar menjawab pertanyaannya.
"Iya." jawab Anggara.
"Aku ingin melihat makam orang tuaku." Zahira berkata serius.
"Tentu kita akan ke sana nanti setelah hari kita menikah, kita akan memberitahunya bahwa kita akan menjalani hidup bahagia." Anggara terus saja menggenggam tangan lentik itu, ia sangat takut jika gadis itu akan bersedih.
Dia tersenyum memamerkan lesung pipinya lagi, "Aku ingin melihat wajah Ayah dan ibuku." Mata beningnya mengalih pandang, menerawang keluar tepat pada pintu yang terbuka, langit yang jauh itu seakan menjadi tempat keberadaan ayah ibunya.
"Aku punya fotonya jika kau ingin lihat." Anggara membuat gadis itu menoleh cepat.
"Benarkah?" tanya Zahira senang sekali.
"Aku akan mengambilnya."
Anggara keluar meninggalkan Zahira, sejenak kemudian dia sudah kembali dengan sebuah kotak berisi banyak foto.
"Aku ingin lihat." Zahira mendekat pada Anggaran yang baru saja duduk.
"Ini foto ibumu, dia mirip denganmu." ucap Anggra memberikan foto gadis cantik seusia Zahira, dia sedang tersenyum dan terlihat cantik, anggun dan lembut sekali.
"Dia mirip denganku." ucapnya pelan.
"Ini foto ayahmu saat aku dan dia bekerja sama membangun Hotel di Bali." Anggara menyerahkan foto dia dan ayah Zahira, kedua orang di foto itu tampak bersaing dengan ketampanan masing-masing, dan dengan senyum sama-sama manis bak gula dan tebu bersaing merebut perhatian semut.
Zahira begitu fokus melihat wajah pria berkaca mata hitam di foto itu, tampak senyumnya manis sekali dengan bibir merah dan lesung pipi seperti dirinya. Dia sungguh kagum dan pastinya ingin sekali berada di masa itu, bertemu ayahnya.
Anggara juga ikut tersenyum melihat gadis itu begitu hanyut dalam suasana di dalam foto. Dan Anggara juga terhanyut dengan semua yang di miliki gadis kesayangannya itu, kecantikan ibunya, juga ketampanan ayahnya menjadi satu dalam kesempurnaan diri Zahira, tentu itulah yang membuat Anggara sangat menginginkannya.
"Boleh aku menyimpannya?" tangan kecil itu tak melepas ke dua foto yang di berikan Anggara.
"Tentu boleh." Anggara menyerahkan kotak berukuran sedang.
__ADS_1
"Tidurlah, kau harus banyak istirahat agar kau benar-benar pulih. Aku tidak mau melihatmu sakit apalagi sampai kehilanganmu." ucapnya halus.
"Iya mas." suara merdunya membuat hati bergetar.