Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
162. Berbeda dari Sebelumnya


__ADS_3

"Selamat datang Kembali." seorang sekretaris wanita menyapa dengan hormat.


"Terimakasih, bisakah kau panggilkan pengacaraku?" Radit tak pernah berbasa-basi.


"Baik." wanita berusia hampir empat puluhan itu langsung undur diri menuju lantai bawah, sementara Radit masuk ke ruangannya untuk beristirahat sambil menunggu pengacara pribadinya.


Tangan halus Radit menyentuh beberapa barang di atas meja, salah satunya bingkai foto kecil yang sengaja tertutup sejak lama, namun tidak di buang. Bingkai foto itu terangkat perlahan, hingga memperlihatkan seorang bayi perempuan yang sedang tersenyum.


"Laura!" gumam Radit seolah merindukan suara menggemaskan bayi kecil itu. Jarinya mulai bergerak dan mengusap bibir mungil di dalam foto tersebut, Radit terlarut dalam rasa yang pernah mengisi hatinya, bayi itu menyenangkan, ia pernah membagi kasihnya pada Laura.


"Seandainya kau tidak terlahir dari seorang penjahat seperti ibumu." Radit tersenyum namun berakhir sinis ketika mengingat Merry yang menipu dirinya.


Pernikahan di masa muda yang menyenangkan itu harus berakhir dengan hadirnya Merry dalam kehidupan Radit, perempuan yang ambisius, nekat dan licik. Gusar sekali mengingat bahwa ia pernah melakukan hubungan suami istri pada wanita licik seperti Merry. Wajah tampan itu terlihat getir dengan merapatkan sebagian gigi-gigi putihnya.


Tok


Tok


"Masuk!" ketukan pintu yang sudah di nantinya berhasil membuyarkan kekesalan atas penyebab kisahnya yang berantakan. "Duduklah." perintah Radit tampak berbeda dengan Lima tahun sebelumnya, bahkan ia tidak menunggu untuk di sapa.


"Selamat datang kembali Bapak Direktur utama." sapanya sedikit gugup.


"Tidak perlu sungkan, bukankah Lima tahun yang lalu aku sangat membutuhkan bantuanmu? Dan sekarang aku ingin tahu apakah wanita yang sudah berusaha membunuh istriku saat itu masih dalam penjara?" tanya Radit menatap lekat wajah pengacaranya.


"Merry dan Aldi Vino masih berada di dalam penjara, namun Anwar sudah bebas satu tahun yang lalu, menjual semua sahamnya dan pindah ke luar kota. Sesekali ia datang untuk mengunjungi putrinya."


"Aku bahkan lupa menanyakan berapa lama hukuman yang di terima Merry Sandra saat itu." Radit masih menatap wajah pengacara itu dengan menopang dagu dengan kepalan tangannya.

__ADS_1


"Merry Sandra mendapatkan hukuman Dua belas tahun pada awalnya, namun pengacara mereka mengajukan penangguhan dan keringanan, sehingga hanya di jatuhkan hukuman Delapan tahun penjara. Sedangkan Vino tetap di jatuhkan hukuman Dua belas tahun penjara karena tidak ada yang mengajukan keringanan." jelas pengacara itu lagi.


"Bukankah harusnya Merry tidak mendapatkan keringanan? Dia yang meminta Vino untuk menghabisi Zahira!"


"Tapi saudara Vino menjelaskan jika perintah Merry Sandra tidak di laksanakan saat itu, sehingga Vino memiliki inisiatif sendiri dalam melakukan penabrakan dari belakang, dengan alasan terbakar cemburu karena melihat Anda dan Merry Sandra sedang berdua di apartemen." tegasnya lagi.


Mendengar akhir dari penjelasan itu membuat Radit mengepalkan tangannya sangat erat, giginya merapat dan mata yang menatap tajam namun jauh menerawang. Ia tidak suka ketika mengingat pernah bercinta dengan Merry.


"Cukup." Radit mengibaskan tangannya sebagai permintaan untuk di tinggalkan sendiri, ia butuh banyak ruang untuk menetralisir udara agar terbebas dari rasa sesak yang selalu saja membuatnya lelah.


"Entah mengapa rasanya ini belum berakhir." gumamnya sendiri.


*


"Sayang jangan berlari!" teriak seorang wanita cantik dengan gaun panjang dan hijab sederhana namun terlihat berkelas. Tubuh ramping dan kulit halus dengan wajah yang selalu berseri, bibir merah dan mata beningnya membuat ia terlihat seperti seorang gadis belia yang belum menikah.


"Sudah Ibu bilang, berhenti!" wanita cantik itu memeluk erat anak yang meminta perlindungan darinya, ia bergelayut manja dengan wajahnya bersembunyi di perut sang ibu.


"Kau manja sekali." gumam anak di laki-laki yang satunya setelah mendekat. Ia juga meminta untuk di peluk pada akhirnya.


"Mandilah Sayang, ini sudah sore." Zahira mengelus kepala Dua orang putra kesayangannya.


"Aku ingin mandi bersama Ayah." jawab anak yang memiliki rambut lurus berponi.


"Ayah sedang beristirahat sebentar, dia lelah Sayang. Mandi bersama Bibi Ya!" rayu Zahira pada dua bocah tampan itu.


"Baiklah." mereka menjawab bersamaan, melepaskan pelukan ibunya dan berlalu menuju ruang tengah dimana seorang wanita berpakaian seragam kesehatan sudah menunggu untuk memandikan Dua anak laki-laki tampan dan aktif itu.

__ADS_1


"Nyonya ada yang datang ingin bertemu Tuan Anggara." seorang bodyguard pilihan Anggara bernama Hiko datang mendekati Zahira.


"Siapa?" tanya Zahira penasaran.


"Aku!"


Seorang pria dengan tubuh besar, tak terlalu tinggi namun sedikit gemuk, ia tersenyum masuk dengan santainya.


"Om Daniel." Zahira tersenyum karena memang mengenal laki-laki paruh baya itu, mungkin sekitar Lima puluh tahunan.


"Ya, kebetulan aku baru saja menyelesaikan meeting di sebuah cafe tak jauh dari sini, aku ingat jika disini aku memiliki keponakan dan menantu yang sangat cantik, itu mengundangku untuk datang bertemu kalian semua." tersenyum hingga dua sudut bibirnya tertarik rapi itu terlihat sedikit aneh.


"Suamiku sedang istirahat di kamar, biar aku memanggilnya sebentar." ucap Zahira tak nyaman dengan pembicara berbeda usia itu, jujur saja dari segi bicara itu sangat berbeda dengan Anggara atau David. Dia aneh!


"Tidak perlu Sayang, aku sudah bangun." tampak Anggara sudah menuruni tangga, wajah tampan dengan senyuman namun terlihat tajam di manik matanya.


"Oh keponakanku, bolehkah aku makan malam bersama kalian, hanya makan malam setelahnya aku akan pulang." wajah tuanya memohon.


"Tidak masalah Paman." jawab Anggara penuh dengan nada tekanan.


"Ah, kau ini. Istrimu sangat muda, sedangkan kau masih saja menyebutku dengan 'Paman' aku jadi merasa sangat muda seolah kembali pada Dua puluh tahun yang lalu saat aku bertemu dirimu." dia duduk di sofa dengan santai tanpa di persilahkan.


"Ya, dan setelah itu Paman tak pernah datang, hingga akhir-akhir ini Paman kembali mengunjungiku. Aku berpikir jika Paman sedang butuh bantuan." Anggara duduk berhadapan dengan Pamannya. Namun sepertinya ia tak ingin jika Zahira ikut serta dalam obrolan mereka.


Zahira meninggalkan mereka, ia memilih menemani Dua anak-anaknya yang sedang sibuk berganti pakaian. Aneh, itu yang sedang dipikirkan Zahira. Ini adalah kunjungan ke dua Daniel ke rumah mereka, dan kedua kalinya pula Anggara tidak ingin Zahira terlibat pembicaraan dengan Pamannya tersebut. Terlebih lagi Dua anak mereka, Anggara tidak ingin anak-anak mereka sampai berbicara atau bahkan bertemu dekat dengan pria tua itu. Padahal jika dengan rekan atau dengan para asistennya Anggara akan mengizinkan Dua jagoanya bertemu, bahkan bermain dalam waktu lama sampai anak-anak mereka merasa bosan.


Siapa sebenarnya Daniel? Zahira merasa ada yang di tutupi darinya.

__ADS_1


__ADS_2