Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
226. Kaulah pembunuhnya


__ADS_3

"Untuk apa?" tanya Ricky merasa itu tak ada gunanya.


"Hanya ingin." jawab Zahira singkat, kemudian memutuskan panggilan teleponnya begitu saja.


"Ra-." Zahira mengurungkan niatnya memanggil Radit, padahal mengajak Radit adalah ide yang bagus, tapi menjadi tidak bagus ketika mengingat Radit dekat dengan Merry dan bisa menciptakan keributan yang lain nantinya.


"Jia!" Zahira berbalik menuju kamar tak jauh dari kamarnya.


Jia dan Bibi memang di berikan kamar khusus di rumah Anggara, sedangkan yang lainnya tinggal di rumah bagian belakang dengan banyak kamar yang ditempati para Asisten rumah tangga, bodyguard, sopir dan tukang kebun. Meski sedikit terpisah, tapi Anggara tak pernah melarang kedua anaknya bermain di rumah bagian belakang, bahkan di sana sama-sama memiliki fasilitas lengkap dan persediaan makanan lengkap. Anggara selalu memastikan semua anak buahnya mendapatkan kehidupan baik dan layak, termasuk juga keluarga mereka. Itu sebabnya Anggara selalu mendapatkan prioritas utama di hati mereka semua. Perhatian dan saling menjaga, memberikan keamanan dan kenyamanan untuk semua orang, mendapatkan timbal balik yang terkadang melampaui hanya sekedar bekerja. Mereka bahkan sanggup membahayakan diri sendiri untuk Anggara dan keluarganya hingga kini.


"Jia!" ulang Zahira memanggil bodyguard sekaligus teman baginya.


Pintu terbuka. "Iya Nyonya." jawab Jia yang sepertinya baru saja bangun. Sudah tentu dia lelah dan mengantuk, hampir subuh mereka baru bisa tidur nyenyak.


"Maaf aku mengganggumu." Zahira merasa tak enak hati.


"Tidak masalah Nyonya, aku malah tidak suka kesiangan, ototku bisa lemas dan pegal di seluruh tubuh." jawabnya memang tak pernah bangun siang. "Ada apa?" tanya Jia lagi.


"Aku akan ke pemakaman Anwar nanti sekitar pukul Sembilan. Jika kau lelah, istirahat saja biar aku bersama Hiko atau Reza."


"Tidak! Nyonya harus bersamaku. masih banyak waktu ini baru Pukul Enam." Jia melihat jam dinding di kamarnya.


"Baiklah." Zahira meninggalkan kamar Jia, masih menggenggam ponsel, ia berpikir jika mengajak Reza Mahendra akan lebih baik.


Pukul sembilan kemudian, Zahira sudah siap berangkat menuju pemakaman. Tanpa setahu yang lain ia pergi hanya berdua, dan Reza sudah menunggu di luar halaman rumah Anggara.


"Pakai mobilku saja." Reza tampak senang melihat wanita cantik itu kembali menghubunginya setelah semalam pulang bersama Radit.


"Kau saja yang bersamaku."


"Baiklah." Reza meminta sopirnya untuk mengikuti mereka.


"Apakah sepenting itu melihat Anwar di makamkan?" Reza berbicara setelah berada di dalam mobil bersama Zahira, Jia menyetir kali ini.


"Entahlah, hanya saja hatiku ini ingin sekali datang ke sana." jawab Zahira juga sedang memikirkan apa untungnya menyaksikan Merry menangis.

__ADS_1


'Ya, Merry menangis kehilangan, seperti aku! Menangisi Mas Anggara hingga pagi ini aku masih meneteskan air mata karena kehilangan. Aku ingin melihatnya!'


"Parkirannya padat, kita harus berjalan kaki masuk ke dalam sana." Jia berhenti di parkiran paling ujung, banyak sekali mobil termasuk mobil polisi di sana.


"Tidak apa-apa, sepertinya kita datang terlambat." Zahira melihat ada beberapa orang sudah keluar dari area pemakaman.


Sedangkan Jia hanya memasang wajah dingin, tidak berbicara sama sekali. Hanya mengikuti Zahira turun dan siaga melihat sekeliling dengan mata tajamnya.


"Hati-hati." Reza memegang pergelangan tangan Zahira ketika menaiki beberapa anak tangga menuju pemakaman.


"Aku bisa." Zahira tersenyum melihat kekhawatiran rekan kerja sekaligus teman saat ini.


"Kau sedang hamil, aku khawatir." ucapnya masih tetap memegangi tangan Zahira.


"Hamil tidak selemah itu. Kau terlalu khawatir seperti suamiku." Zahira kembali tertawa.


"Tentu saja, aku bahkan sudah siap menjadi suamimu." jawab Reza mendapat celah untuk mengungkapkan perasaannya.


Zahira menoleh. Namun tatapan herannya tak membuat Reza Mahendra gugup, malah dia tersenyum manis sekali.


Benar saja pemakaman Anwar sudah selesai, hanya tinggal beberapa orang bawahannya masih terlihat, dan Polisi terus berjaga. Merry tentunya masih memeluk batu nisan Anwar menangis dan meratap di sana.


"Selamat siang Pak, kami datang terlambat." Zahira menjawab dengan tenang.


"Kami membutuhkan keterangan Nyonya nanti siang. Apakah Nyonya ada waktu." Polisi itu menatap Zahira.


"Ya." Zahira mengangguk.


"Apa ada surat resmi?" Reza ikut bicara.


"Tidak ada Pak Reza Mahendra, surat Resmi kami tujukan pada Saudara Ricky dan Ricko sebagai pelapor dan saksi." jelas seorang polisi itu lagi.


"Artinya tidak harus hadir bukan?" Reza terus bertanya.


"Tidak harus, hanya sekedar meminta keterangan saja, karena ada kaitannya dengan meninggalnya Tuan Anggara beberapa bulan yang lalu." jelas polisi itu dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aku akan datang Pak, jika hari ini aku tidak bisa maka besok aku akan datang." Zahira meyakinkan.


"Oh, baiklah terimakasih." Polisi itu senang.


Zahira melanjutkan langkah mendekati Merry Sandra. Bayangan kesedihan saat kehilangan Anggara kembali melintas, namun segera ia menepis duka itu, ini bukan waktunya kembali menangis, tapi waktunya melihat balasan dari tangis yang menjadi nyanyian setiap malam-malam Zahira merindukan Anggara.


"Papa!" panggilnya di sela isak tangis pilu itu, wajahnya sembab dengan nafas yang seolah akan berhenti lalu menyambung lagi.


"Mengapa Papa pergi, aku tidak mau sendirian Papa." Merry merintih pelan dengan air mata terus mengalir.


Mata yang memerah itu sedang mencerminkan hatinya yang hancur, sesak dan lemah kehilangan.


"Bagaimana rasanya di tinggal mati ayahmu?"


Tak di sangka Jia duduk santai di belakang Merry dengan pertanyaan yang sudah tentu menyakitkan hati.


"Kau!" Merry menoleh dengan wajah sembabnya. Matanya di penuhi amarah menatap tajam bergantian kepada Jia lalu Zahira.


Zahira tak memberi respon, hanya melihat dan menyaksikan apa yang beberapa bulan lalu ia rasakan, bahkan lebih pedih daripada itu.


"Ini pasti ulahmu, kau yang sudah menghabisi Papa!" marahnya namun tak berdaya, sebelah kakinya sakit hanya untuk sekedar berdiri.


"Aku tidak melakukan apapun Merry Sandra." jawab Zahira tenang.


"Bohong! Pasti orang-orang mu yang telah menghabisi ayahku, kau yang menyuruh mereka! Kau mengobrak-abrik rumahku dan membunuh ayahku!" teriaknya sangat marah.


"Aku tidak membunuh, kaulah pembunuh yang sebenarnya. Ayahmu meninggal juga akibat dari kelakuanmu, kau terlalu banyak membuat ulah sehingga ayahmu terkena serangan jantung dan mati. Jadi kaulah yang sudah membuatnya pergi." jawab Zahira membalas ucapan Merry.


"Bohong! Kaulah yang menghabisi ayahku!" tangisnya bercampur amarah.


"Aku tidak berbohong, aku bahkan kehilangan suamiku karena kau sudah membunuhnya." Zahira berusaha tetap tenang.


"Tidak! Kaulah pembunuh, kau menghabisi ayahku.


"Hem, tidak sadar diri. Kau yang menembak malah aku yang kau teriaki pembunuh!" geram Zahira.

__ADS_1


"Dasar gila! Kau pembunuh, kau wanita tidak waras!" teriaknya mengamuk, namun tak mampu mendekat.


"Kaulah yang gila, kewarasan mu berkurang setelah membunuh suamiku, kini kau malah menjadi penyebab kematian ayahmu sendiri." Zahira tersenyum sinis.


__ADS_2