
"Tidak, itu juga tidak bagus!" Ricky tidak setuju.
"Tidak bagus bagaimana, bukankah rumahku adalah tempat yang paling privasi?" Anggara meninggikan suaranya.
"Sekarang kita akan menemui seseorang." Ricky terus melaju, sesekali ia melirik bosnya yang sedang terlihat galau.
"Sepenting apa orang yang akan kita temui?" ucapnya kesal.
"Tidak begitu penting, tapi berguna untuk menentukan keputusanmu." Ricky tersenyum sedikit.
Tak berapa lama mereka tiba di hotel Anggara, mereka turun menuju ruang rapat di lantai dasar.
"Tuan!" seorang pria menyapa dengan menunduk hormat.
Anggara masih tak bersuara, ia duduk dengan melihat Ricky juga pria yang sudah menunggu itu.
"Bagaimana?" tanya Ricky melihat wajah pria itu.
"Aku belum menemukan orang itu, aku kehilangan jejak dan benar-benar tidak tahu harus mencarinya dimana. Orang tuanya hanya tahu jika dia sedang bekerja dan juga kuliah." dia menjelaskan.
"Kalau begitu kau cari saja sampai ketemu." jawab Ricky.
"Satu lagi Tuan, saat ini pak Anwar sedang mencari penanam saham dari luar daerah untuk menutupi kebutuhan keuangan perusahaannya, dia menduga anda akan menarik semua saham dengan segera."
"Berapa orang yang ia minta untuk mengawasi aku?" tanya Anggara.
"Ada Empat orang, salah satunya orang yang sudah bekerja dengan Anda." ucapnya dengan yakin.
"Siapa?"
"Maaf aku sedang menyelidikinya, kemungkinan mengincar istri Anda." jawab pria itu lagi semakin membuat gusar Anggara.
"Baiklah, kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Jika kau butuh bantuan hubungi Ricky, dia akan membantu semua hal yang kau butuhkan." ucap Anggara padanya.
"Terimakasih, saya permisi." pria itu sedikit membungkuk dan keluar meninggalkan Anggara bersama Ricky.
"Yang mana lebih penting?" tanya Ricky pada pria yang sedang berpikir.
"Istriku." jawabnya singkat.
"Lalu?"
__ADS_1
"Tarik semua saham yang terlibat dengan Anwar, biarkan dia datang mencariku." Anggara sedang tidak bermain-main, dia benar-benar sudah memikirkan semuanya sebelum terjadi.
"Oke." Ricky meraih ponsel, melenggang keluar dengan entengnya.
Sedangkan Anggara masih terdiam dengan sejenak memejamkan matanya, seumur hidupnya tak pernah merasa serumit ini. Kali ini ia merasa menjadi seorang yang kejam, demi Zahira, dan anak-anaknya.
Bibir tipisnya tersenyum mengingat kata-kata yang di pikirannya baru saja, 'anak-anak' dan istri. Itu terdengar indah sekali jika di ucapkan, harta yang paling berharga baginya saat ini adalah mereka.
Tangan halusnya meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
"Jia, kau temani Zahira. Jangan tinggalkan dia sendiri atau dengan siapapun, termasuk jika bersama Bibi kau harus menjaga mereka." perintah Anggara.
"Baik Tuan." jawab wanita itu di seberang sana.
"Apa istriku sudah sampai?" tanya Anggara pada Jia.
"Baru saja Tuan." jawab Jia lagi.
"Ya." Anggara mengakhiri panggilan ponselnya, ia sedikit lega karena Jia bisa di percaya.
Terdengar suara pintu terbuka dengan kasar, membuat Anggara terkejut dan melihat siapa yang datang.
Anggara beranjak dari duduknya, baru beberapa langkah tapi pria itu sudah mendekati dengan terburu-buru. Tanpa di duga langsung memukul wajah Anggara dengan tenaga penuh.
"Dia tidak ada di sini." jawab Anggara mengusap pipinya juga sudut bibirnya yang terasa asin.
Radit kembali menyerang, mencengkeram kerah baju Anggara dengan kuat dan mendorong pria itu hingga tersudut di dinding yang memang berjarak tak begitu jauh dari Anggara.
"Kau mencuri istriku! Kau laki-laki brengsek yang memanfaatkan keadaannya!" Teriak Radit semakin mendorong Anggara hingga sesak terhimpit di dinding.
Anggara memegang kedua tangan Radit dan mendorong mundur dengan paksa, sudah pasti ia tahu bagaimana membebaskan diri dari Radit yang sedang marah.
"Mengapa kau melakukannya? Bahkan kau sudah tahu sejak awal dia hanya mencintai diriku!" bentaknya lagi, pria bertubuh tinggi itu tidak kalah saingan dengan Anggara, sama-sama tampan dan gagah dalam versinya masing-masing.
"Karena dia menginginkannya." jawab Anggara tenang.
"Omong kosong, dia tidak mungkin menyukaimu! Bahkan saat pertama kali dia bekerja bersamamu dia merasa tak suka, sampai menghubungi aku untuk tidak bertemu denganmu. Aku yakin kau sudah menipunya!" Radit masih berteriak.
"Tapi benar begitu kenyataannya, dia tidak bisa bertahan dengan pria egois seperti dirimu, ingin memiliki keduanya dalam satu waktu tanpa peduli seperti apa perasaan Zahira? Kau pikir dia boneka, yang bisa kau mainkan sesuka hati tanpa merasakan apa-apa termasuk jika kau sedang bersama anak juga wanitamu?"
"Itu bukan urusanmu, aku hanya mencintai dia saja tidak dengan lainnya atau siapapun. Dan kau tidak akan mengerti hal itu."
__ADS_1
"Aku mengerti, apa yang tidak aku mengerti? Jika kau benar mencintainya, harusnya kau pertahankan Zahira, tidak dengan wanita licik itu."
"Aku tidak bisa memilih antara anakku juga istriku."
"Tentu saja bisa, jika kau bilang tidak bisa artinya memang kau sudah siap kehilangan Zahira." Anggara membuat Radit tersentak dengan ucapannya. "Dan dia menjadikan aku pelarian, tentu saja aku menerimanya dengan senang hati."
"Aku tidak percaya, kau pasti membual, kau sedang sengaja membuat cerita dan menipu semua orang!"
"Aku tidak berbohong, bahkan pada Zahira. Aku tidak akan melarang apapun yang membuatnya bahagia, juga tentang keluargamu juga dirimu, tapi tidak dengan kisah cintamu yang menjengkelkan itu."
"Artinya kau tidak ingin dia mengingatku, kau lupa DIA ISTRIKU, DIA MASIH ISTRIKU!"
"Dia bukan lagi istrimu!"
"Dia istriku."
"Aku sudah menikahinya!" jawab Anggara tegas.
"Kalau begitu ceraikan dia, CERAIKAN ISTRIKU!" dia kembali berteriak dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak mungkin!"
"Mengapa tidak mungkin?" Radit marah dan berteriak.
"Kalian sudah bercerai! Mana mungkin masih istrimu." Anggara mundur dengan wajah malas.
"Aku tidak pernah menceraikannya, aku tidak pernah melakukan itu." ucap Radit dengan sesak semakin menyerang dadanya.
"Kau memang tidak pernah menceraikannya, tapi dia yang menggugat dirimu. Kau lupa Ricky punya kuasa penuh atas Zahira, dia bisa melakukan semuanya tanpa kehadiran Zahira."
"Kalian licik, aku tidak menyangka seorang Direktur Anggara melakukan semua itu dan mencuri istriku." Radit masih sangat marah.
"Jaga ucapanmu, aku tidak pernah mengambil apapun darimu. Sudah ku katakan dia sendiri yang ingin pergi darimu!" Anggara juga terbawa emosi.
"Kau hanya pelarian, setelah dia sadar dia akan kembali padaku. Kau hanya akan menjadi pria tua yang menyedihkan." Radit berbalik dengan kesal.
"Bagaimana jika dia tidak mau pergi dariku?" ucap Anggara membuat langkah Radit berhenti.
"Dia istriku, sudah pasti dia akan kembali padaku." geram Radit kembali menatap tajam Anggara.
"Apa harus ku ingatkan jika sekarang dia bukan lagi istrimu, dia istriku sekarang, dia milikku."
__ADS_1
"Aku masih suaminya, perceraian tanpa kehadiranku tidak sah!" Radit kembali menyapa Anggara dengan mata memerah.