
"Aku tidak mau melihatmu! Karena dirimu lah suamiku meninggal!" bentak Zahira.
"Tidak Zahira!" pelan Radit dengan nada meminta.
"Jika kau tidak membawa Merry ke dalam hidupmu, ini tak akan terjadi Radit! Kau yang melakukan kesalahan tapi mengapa aku yang harus membayar." Zahira melangkah ke lain arah, ia tidak ingin berbicara dengan Radit.
"Zahira, aku mohon jangan seperti ini. Tak ada saksi yang melihat jika dia adalah pelakunya! Aku juga menyelidiki ini." Radit berusaha menjelaskan.
"Aku saksinya! Dia memegang senjata yang menghabisi suamiku. Suami yang menukar nyawanya untukku." tangis Zahira.
"Zahira." panggil Radit memohon.
"Kau tahu, hatiku masih berdenyut nyeri ketika mengingat bagaimana suamiku dimakamkan. Dunia seakan runtuh dan aku merasa tak punya tempat berlindung karena laki-laki yang selalu melindungi aku telah tiada. Jiwaku bergetar, tanganku gemetar, aku mencari kemana aku bisa berpegangan. Anak-anakku masih terlalu kecil untuk merasakan kehilangan. Harusnya bukan dia yang ada di dalam sana, harusnya dia tidak di sana! Siapa yang membuat dia di sana?" Zahira bertanya dengan tangis yang menyentak.
Diam
"Kaulah penyebabnya." pelan namun dengan air mata.
"Aku akan menemukan buktinya, aku akan mencari pembunuh suamimu Zahira!" teriak Radit ketika Zahira sudah menjauh.
Zahira tak peduli, ia tersenyum getir dengan ungkapan Radit, bagaimana bisa Radit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zahira, bahkan sejak kecil ia tak pernah berbohong.
Hanya ketika akan membuka pintu, di dinding aula besar itu terpampang jelas foto Anggara. Wajah tampan dengan senyum tipis penuh wibawa, tampak sejuk seakan dia masih ada.
Zahira berhenti menikmati hangatnya wajah Anggara yang setiap detiknya dia rindukan. Sejenak kemudian wajah yang mendongak itu tampak mendung. Memilih pulang, di rumah akan lebih mudah menikmati kerinduan itu sendiri.
"Om!" Radit memanggil Ricky yang juga sudah bersiap pergi.
"Ya." Ricky melepas kacamatanya menatap Radit.
"Kemarin aku sempat bertemu dengan Merry." ungkap Radit duduk berhadapan dengan Ricky.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Ricky mengernyitkan keningnya.
"Di sebuah butik, dia membuka butik dan studio musik bersamaan." jawab Radit, ia sedang berpikir.
"Aku minta padamu untuk tidak mendekati Zahira, juga anak-anak. Aku tidak mau terjadi sesuatu lagi dengan mereka bertiga." Ricky berbicara serius.
"Tapi tak ada yang melihat kejadian itu, kita hanya menyaksikan Om Anggara tertembak, tapi tak ada yang melihat pasti siapa penembaknya."
"Siapapun dia , harus tetap di temukan. Dan sebaiknya jauhi Zahira." Ricky berkata tegas, meninggalkan Radit yang masih butuh bicara.
"Zahira tak mungkin berbohong. Tapi bagaimana bisa Merry baik-baik saja setelah melakukan penembakan?" Radit berpikir jika mengunjungi Merry akan lebih berguna. Ya, mengunjungi mantan istri yang perlu diwaspadai.
Jalanan terlihat ramai, mungkin karena sedang banyak acara belakangan ini, dapat di lihat dari Hotel yang disewa pengusaha sebagai tempat perayaan. Huh, nafas terasa sesak jika mengingat hari-hari berlalu indah bersama suami tercinta. Datang dengan bergandengan tangan seolah mengatakan kepada dunia jika merekalah yang paling bahagia.
Tapi, kini sendiri......
"Nyonya!"
"Ya?" Zahira merubah posisi duduk, mendadak punggung Zahira pegal setelah beberapa puluh menit diam tak bergerak.
"Di depan ada banyak restoran, juga pedagang kaki lima. Apa Anda ingin membeli sesuatu?" tanya Sopir Zahira, sudah tentu ia mendapat pesan dari Bibi untuk selalu memperhatikan Zahira, mana tahu dia ingin membeli sesuatu mengingat nafsu makannya masih tak membaik semenjak kepergian Anggara.
"Ah. Aku tidak tau harus membeli apa." jawabnya melihat ke depan tapi tidak fokus dengan apa yang di lihatnya.
"Sebaiknya Nyonya lihat dulu. Mungkin makanan tradisional akan lebih enak, atau kue-kue khas daerah seperti itu!" sopir itu menunjuk kue yang terbungkus daun pisang.
Zahira mengikuti arah telunjuk sopirnya, ia berpikir mungkin saja kue itu enak. Lagi pula penjualnya adalah ibu-ibu tua yang tampak sabar menunggui jualan di pinggir jalan bersama teman-teman lainnya. "Kita turun Pak." Zahira meraih tasnya.
Sopir itu mengangguk, mengikuti majikannya membeli makanan, dan ternyata setelah melihat banyak penjual dengan bermacam-macam makanan Zahira larut dan membeli banyak sekali. Baru setelahnya ia pulang dengan senyum terukir di wajah cantiknya.
"Dimakan saja Nyonya, sepertinya ayam kampung bakar itu enak sekali." sopir itu kembali membujuk.
__ADS_1
"Bapak mau makan sekarang?" tanya Zahira menatap sopirnya yang mulai mengemudi.
"Saya nanti saja, setelah di rumah." jawab sopir itu tertawa senang.
Zahira mulai membuka bungkusan dan makan dengan sesekali melihat ke depan, jalanan masih lumayan ramai, juga terkadang harus berhenti karena terlalu padat.
Tiba di rumah dengan perut yang sudah berisi, dia membawa sendiri barang belanjaannya.
"Apa itu Non?" Bibi mendekati Zahira, meraih kantong plastik yang di bawa majikannya.
"Kue Bi." jawabnya tersenyum.
Bibi melihat apa saja yang di belinya. "Non suka? Bibi bisa buatkan kue ini jika Non Zahira suka." Bibi tidak ingin mengatakan jika Anggara juga menyukainya. Bibi mengajak Zahira duduk di ruang makan.
"Suka Bi." Zahira menuangkan air dan minum perlahan.
"Non, tadi dokter Amelia menghubungi Bibi." ucapnya pelan.
Zahira mengelus perutnya, satu bulan kepergian Anggara, ia terkadang lupa jika ada bayi di dalam perutnya juga butuh perhatian.
"Non harus periksa, besok mungkin!" Bibi menyambung ucapannya, terdengar seperti merayu.
"Seandainya Mas Anggara masih ada Bi." wajahnya kembali mendung.
"Bibi juga tidak menyangka Mas Anggara meninggalkan Bibi lebih dulu." Bibi menarik nafas berat. "Tapi jangan terus-terusan bersedih Non, nikmati dan jalani apa yang sudah ditinggalkan untuk kalian, seperti anak ini, jaga dan sayangi dia seperti Mas Anggara menyayangi kalian. Dia akan bahagia jika kalian bahagia, sebaliknya akan bersedih jika kalian bersedih. Apa Non mau Mas Anggara bersedih di sana?"
"Tidak Bi, aku ingin Mas Anggara selalu bahagia seperti saat masih bersamaku, aku ingin Mas Anggara selalu tersenyum." Zahira mengusap air matanya. "Hanya saja, aku terlalu merindukannya." lirihnya, menunduk dengan air mata kembali membasahi.
"Dia juga merindukan Non di sana. Dia ingin Non bahagia, menjadi ibu yang kuat untuk Satria dan Sadewa, juga untuk yang masih di sini." Bibi mengelus perut Zahira yang masih rata.
"Aku akan menjaganya Bi, aku akan menjaga semua yang dia tinggalkan. Anak-anak, rumah, kalian semua, bahkan baju yang ku pakai ini adalah darinya." tangis Zahira kembali pecah, menggema di ruangan besar itu membuat sebagian asisten rumah tangga ikut mendekat menyaksikan betapa kehilangan itu membuat Zahira menderita. Ya, hanya bisa menyaksikan bagaimana seorang istri tak berdaya tanpa suami yang terlalu mencintainya.
__ADS_1