Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
258. Kalau aku menikah lagi


__ADS_3

Reza Keluar menuju mobilnya, pria itu tak menoleh sama sekali, bahkan tak peduli yang terpenting baginya sudah bertemu Zahira.


"Jangan pernah bermimpi untuk menikahi adikku."


Suara seorang yang membuat Reza menghentikan langkahnya.


"Kau tidak pantas untuknya." Ayra berjalan masuk tanpa peduli Reza kesal dan marah.


"Kau mengenalnya?" Radit menghadang langkah Ayra.


Gadis itu benar-benar terkejut dan mundur beberapa langkah, dengan mulut sedikit terbuka.


"Dimana kau mengenalnya?" tanya Radit lagi, mata sipitnya menatap tajam.


"Tentu saja aku kenal, aku sudah satu Minggu di rumah Zahira, dan dia sering datang ke rumah Zahira." jawab Ayra dengan senyum di buat, ia segera masuk melewati Radit.


Deru mobil meninggalkan rumah itu, Radit menatapnya hingga menghilang ketika gerbang rumahnya kembali di tutup, dia sedang memikirkan sesuatu. Mana mungkin Ayra mengenalnya, sedangkan Reza baru saja pulang tadi pagi.


"Aku mengantuk." suara Sadewa terdengar merengek pada ibunya.


"Baiklah, kita tidur ya." Zahira beranjak, begitu juga Ayra ikut dengannya.


"Kalian tidurlah di atas, kamar Zahira selalu di bersihkan jadi kalian bisa tidur dengan nyaman." Ayu menunjuk lantai dua.


Radit mendekati Zahira, langsung meraih Sadewa dan menggendongnya. "Kita akan tidur bersama." ucapnya memeluk Sadewa yang juga memeluk leher Radit.


"Kau sudah besar, apa kau tidak malu di gendong paman Radit?" Satria mendekat.


"Bilang saja kau juga ingin di gendong." Radit terkekeh dengan kelakuan keduanya terutama Satria yang banyak akal. "Ayo kita tidur." Radit menurunkan Sadewa menuju tangga.


"Kau tidur di atas?" Zahira membuat Radit menoleh.


"Ya, ada apa?" Radit menatapnya heran.


"Kau di bawah saja, aku akan tidur di atas." Zahira mendorong sedikit bahu Radit.


"Kamarku ada di atas, mana mungkin aku tidur di bawah." Radit tetap berdiri di anak tangga pertama.


"Harusnya kau mengalah, karena ada aku yang hari ini tidur di atas!" kesal Zahira.


"Mengapa aku harus mengalah, kita tidak tidur sekamar Zahira, kamar kita berbeda." jelas Radit, sengaja membuat Zahira diam. Ia berlalu lebih dulu, melirik sedikit dengan senyum menang.

__ADS_1


Zahira menyusul dengan langkah kesal, tentu dengan wajah di tekuk dan bibir mengerucut.


"Ayo sayang kita masuk." suara Radit terdengar menjengkelkan di telinga Zahira, walaupun ia sedang mengajak anak-anaknya masuk ke kamar tapi sikap tak mau mengalah nya masih menciptakan onggokan di dada Zahira.


Radit menoleh Zahira, wanita itu malah membuang muka.


"Mengapa kau marah?" Radit menarik lengan baju Zahira sementara Ayra sudah lebih dulu masuk ke kamar yang bersebelahan.


"Kau menyebalkan." kesal Zahira menarik bajunya dari Radit.


"Menyebalkan bagaimana? Atau jangan-jangan kau juga ingin tidur denganku?" Radit menatapnya menyelidik.


"Dasar mesum, tadi kau tidak berhenti memperhatikan Kak Ayra, sekarang malah menggodaku. Matamu itu perlu di beri colokan sedikit, agar tidak bisa melihat wanita lagi." geram Zahira menunjuk mata Radit.


Radit terkekeh geli, membiarkan Zahira memarahinya. "Apa kau sedang cemburu?" ucapnya lagi masih tertawa.


"Kau sedang bermimpi!" Zahira semakin marah, meniggalkan Radit masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa pintunya tertutup sedikit keras.


Radit kembali tertawa.


Ya, kamar sebelah sudah lama sekali tidak terbuka dan tertutup seperti itu, terakhir ia menutup pintu dengan keras, ketika Radit membuatnya patah hati, menikahi Merry dan membuat Zahira sangat tersakiti.


Senang sekali rasanya jika pulang dan langsung melihat wajah cantik itu sudah ada di rumah, seperti saat itu, jantung Raditya berpacu dengan langkah yang selalu terburu-buru memasuki rumahnya, ingin segera bertemu gadis kecil yang manja, dan akan merengek meminta di temani bermain atau membeli sesuatu.


Huh, dada bidangnya kembali sesak.


Sedangkan di dalam kamar Zahira, kedua wanita cantik itu sudah mengambil posisi masing-masing, tidur di ranjang yang empuk dan menatap langit dengan berbagai pikiran.


"Kak, apakah kau sakit?" tanya Zahira memiringkan tubuhnya.


"Tidak, mungkin hanya masuk angin." jawab Ayra lalu memejamkan matanya.


Zahira kembali menatap langit-langit. Tidak munafik jika masih teringat masa dulu pernah tidur berdua dengan Radit di kamar ini. Masih ingat bagaimana pria itu mencintainya dengan sangat, selalu memanjakan dan memujanya.


Tapi.


Zahira menggeleng kala teringat terakhir kali, sakitnya ketika Radit pernah mendua. Bahkan semalaman menangis di kamar ini tak membuatnya puas.


Malam kian merayap, suasana memenangkan masih terasa, tidak pernah berubah seperti dulu ketika ia masih kecil tinggal di sana. Namun entah mengapa sekarang menjadi gelisah dengan mengingat hal yang sudah terlewati.


Pintu kamar Zahira terbuka, wanita cantik itu keluar dengan hijab singkat sederhana. Mungkin ia rindu menatap rembulan dari balkon kamar tersebut, dia memang selalu melakukan itu.

__ADS_1


"Mengapa belum tidur?"


Suara Radit membuatnya menoleh, namun kemudian kembali melihat langit yang luas.


Radit mendekatinya, ikut melihat langit yang sama, dan perasaan yang sama.


"Kau sendiri mengapa belum tidur?" Zahira balas bertanya.


"Hanya belum mengantuk, aku sudah terbiasa tidur lewat tengah malam." jawab Radit, tapi kemudian menatap wajah Zahira.


"Kau serius ingin menikah dengan Reza?" tanya Radit.


Zahira juga menolehnya sehingga mereka saling menatap.


"Aku rasa tidak." jawab Zahira kemudian menunduk.


"Kenapa?"


"Sudah ku katakan padamu, aku ingin fokus dengan anak-anak." jawab Zahira serius.


"Ya." jawab Radit.


Suasana hening, sepi, rembulan saja tak terlihat malam ini.


"Zahira. Aku minta maaf sekali lagi untuk semua kesalahanku padamu. Maaf jika aku selalu menyebalkan untukmu, sama sekali aku tidak bermaksud menciptakan jarak antara kita." Radit menatapnya dari samping.


"Tidak perlu meminta maaf, semua yang terjadi sudah digariskan untukku dan untukmu. Jika kita tidak berpisah, maka tak akan ada Sadewa dan Satria sekarang. Mereka juga kebahagiaan untukku." jawab Zahira masih menatap langit.


"Kau benar, kau tak akan pernah memiliki Satria dan Sadewa jika masih bersamaku. Entahlah, aku harus bersyukur atau bersedih. Yang pasti aku juga menyayangi mereka, sama seperti kau menyayanginya." Radit tersenyum sedikit, entah jika ia sedang menertawai dirinya sendiri.


"Lalu? Mengapa kau belum menikah lagi?" tanya Zahira lebih berani.


Radit menautkan alisnya, menatap Zahira dengan banyak pertanyaan.


"Ada apa?" tanya Zahira juga sedikit heran.


"Tidak, hanya merasa aneh." jawab Radit masih dengan ekspresi yang sama.


"Aneh apa?" Zahira mulai merasa tak beres.


"Aku melirik Ayra saja kau sudah cemburu, bagaimana jika aku benar-benar menikah?" Radit lebih mendekati Zahira. "Aku akan tidur berdua dengan istriku, mencintainya dan memanjakannya. Saat itu terjadi kau tidak boleh lagi tidur di kamar ini." Radit menunjuk kamar Zahira.

__ADS_1


__ADS_2