
"Dokter!" Tomy beranjak sambil menoleh Zahira yang sedikit melamun.
"Dok, bagaimana keadaan Jia?" Zahira mendekati dokter yang baru saja membuka masker tersebut.
"Operasinya berhasil, hanya belum sadar. Dia baik-baik saja walaupun bahunya terluka cukup dalam." jelas dokter laki-laki tersebut.
"Oh, syukurlah. Terimakasih banyak Dokter." Zahira tersenyum lega.
"Baiklah, saya permisi." ucap Dokter itu berlalu.
"Syukurlah." Ayu ikut bernafas lega.
"Ricky menelpon." David menjawab panggilan diponselnya. "Halo."
"Antarkan Zahira kekantor polisi, Aku akan mengirim asisten lainnya untuk mengurus Jia." suara Ricky di kantor polisi.
"Ya." David menutup panggilan ponselnya tersebut.
"Ada apa?" tanya Ayu khawatir.
"Zahira harus ke kantor polisi sekarang, agar semuanya cepat selesai." David meraih kunci mobil yang ada di kursi tunggu.
"Bagaimana dengan Jia?" Zahira menoleh kamar tersebut.
"Asisten yang lain akan kemari." David meyakinkan.
"Tomy, jaga Jia." pinta Zahira menoleh sopirnya tersebut.
"Anda tak perlu khawatir." Tomy mengangguk.
Mereka bertiga meninggalkan rumah sakit itu, tentu di sana juga sangat menegangkan. Radit bahkan melepaskan peluru di perut mantan istrinya. Zahira jadi merasa menyesal dengan kejadian malam ini. Tapi, jika tidak dilakukan maka nyawa sendirilah yang akan melayang. Apapun nantinya, semua sudah terlanjur.
Pukul 20:00, tak butuh waktu lama mereka sudah berada di halaman kantor polisi. Zahira turun bersama Ayu juga David dibelakangnya.
"Mas Reza!" Zahira terkejut melihat pria tampan dan selalu rapi itu kini terlihat kusut.
"Kau tak apa-apa?" tanya Reza lembut, matanya menatap rindu wajah Zahira, tangan kanannya terulur memegang kepala Zahira sedikit menunduk melihat bekas pukulan tangannya beberapa hari lalu.
"Aku tak apa-apa Mas." Zahira sedikit tersenyum.
"Syukurlah." Reza menarik nafas lega.
"Mengapa Mas Reza ad disini?" tanya Zahira.
"Aku hanya_, sudahlah. Aku hanya ingin minta maaf." ucapnya sendu.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Mas Reza." ucap Zahira sedikit melirik David dan Ayu berlalu lebih dulu menuju kursi tunggu.
"Aku sudah membuatmu kecewa, juga membuat wajahmu terluka." kata-kata penuh penyesalan.
"Aku tidak kecewa, mungkin kau memang bukan di ciptakan untuk mendampingiku, tapi untuk menjadi kakak bagiku."
"Sayang."
__ADS_1
"Mas! Temui Kak Ayra, dia sedang kesulitan dengan anak kalian di dalam rahimnya. Dia butuh suami, anakmu butuh ayah." Zahira membiarkan tangan Reza memegang kepalanya yang terbungkus kerudung.
"Aku sangat mencintaimu." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu, cintamu lah yang membuat aku nyaman bersamamu selama ini. Tapi sekarang kau harus mencintai dua orang yang membutuhkan dirimu, kau akan mencintainya setelah kau melihat betapa istimewanya Kak Ayra. Bukalah matamu, dia sempurna Mas." ucap Zahira pelan.
Reza tak menjawab, mata mereka beradu begitu lama.
"Pergilah dan coba untuk menerima."
Reza menggeleng pelan, kegetiran terlihat jelas di wajah tampan itu. "Apakah takdir sekejam itu?" tanya Reza.
"Kehidupan memang tak tentu, bagiku itu sudah biasa." jawab Zahira pelan dan juga sedih terdengar.
Reza meraih tubuh Zahira memeluknya erat, tanpa sempat wanita itu menolak.
"Hanya sekali." ucapnya di belakang telinga Zahira. "Sekali ini saja aku ingin memelukmu. Setelah ini aku tidak akan melakukannya lagi." suaranya terdengar bergetar, menyimpan kesedihan yang dalam.
"Lepas."
Tangan kokoh Radit meraih bahu Reza yang dengan hangatnya mendekap Zahira.
Reza menatap Radit dengan kesal, dia bahkan belum puas memeluk tubuh ramping namun berisi itu.
"Pulanglah, atau Om Ricko akan memasukkanmu lagi ke dalam sana." Radit menunjuk tempat mereka di tahan.
Reza tak peduli, dia hanya fokus dengan Zahira saja.
"Pergilah Mas, Kak Ayra sendirian dan dia sedang sakit. Kami semuanya ada di sini." ucap Zahira memohon, agar Reza mengerti.
Langkahnya lunglai, sama persis dengan hatinya yang sedang berantakan, tak memiliki kebahagiaan di dalamnya.
"Kau hanya perlu hadir, semua sudah jelas." ucap Radit membuat Zahira berhenti memandangi punggung Reza Mahendra.
"Hem?" Zahira mendongak wajah Radit.
"Kau masih memikirkannya?" tanya Radit menunjuk Reza yang sudah hilang.
"Hanya memikirkan apa tidak boleh, aneh sekali." protes Zahira.
"Harusnya kau memikirkan aku, aku di tahan!" Radit berlalu menemui orangtuanya.
"Di tahan?" Zahira mengikutinya di belakang.
"Iya." Radit memeluk Ayu juga David.
"Pengacara Papa sedang menuju kemari, bersama Abi, ayah Akbar juga akan membantu kau dan Jia." ucap David tak terlalu khawatir.
"Tapi kita membela diri." Zahira bergumam sendiri.
"Membelamu." ucap Radit sengaja mendekatkan wajahnya di telinga Zahira.
"Dia mantan istrimu!" ucap Zahira tidak suka.
__ADS_1
"Kau juga sama, dan aku membelamu! Apa sikapku masih kurang?" tanya Radit sengaja mengajak Zahira berdebat.
"Itu berlebihan, aku tidak suka menjadi mantan istrimu, sungguh aku sedang menyesalinya." Zahira berbalik menuju toilet.
Radit menautkan alisnya.
"Jangan di kejar!" David menghentikan langkah Radit. "Baru beberapa menit yang lalu dia mengatakan akan tinggal di rumah kita. Jika kau berulah dia akan membatalkan niatnya." jelas David lagi.
"Dia?" Radit menunjuk Zahira yang sudah masuk ke toilet.
"Ya." Ayu tersenyum manis sekali, dia sedang bahagia.
"Kalau begitu Papa harus cari pengacara yang banyak, agar aku juga bisa pulang besok pagi." ucap Radit menyukainya.
"Kau pikir dia sedang mendekatimu?" David tertawa mengejek.
"Aku tidak tau." Radit juga tertawa.
"Kau harus bersabar, ini tidak akan lama." Ricko menepuk bahu Radit, dia baru saja keluar dari ruangan di depan mereka.
Radit hanya mengangguk, dia hanya bisa sabar bukan? Baginya tak masalah, peristiwa malam ini akan membuat Zahira kembali kerumahnya.
"Tuan Radit, mari." seorang petugas mengajak Radit masuk ke ruangan dingin menggantikan Reza.
Radit menurut, sejenak menoleh Ayu yang mulai terlihat sedih, tentu saja seorang ibu akan bersedih melihat anaknya tak bisa pulang ke rumah, terkurung walaupun hanya sementara.
Dua hari kemudian, Jia sudah lebih baik, dia juga berada di kantor polisi guna pemeriksaan.
"Kau sudah sembuh?" seseorang menanyainya.
"Iya Tuan, terimakasih." Jia tersenyum sedikit, merasa pria itu lebih memperhatikan dirinya.
"Beruntung kau bisa menghindar. Ku dengar kau pandai sekali bela diri?" pria itu mengajak Jia mengobrol.
"Aku belajar banyak dari Tuan Anggara, beliau memintaku belajar bela diri hingga ke luar negeri. Tapi hanya bisa membela diri, tidak bisa membela orang lain, bahkan Tuan Anggara meninggal saat bersamaku." sesal Jia, merasa nyaman dengan pria tua itu, sepertinya dia adalah pengacara dari Ricko.
"Itu bukan salahmu, memang sudah waktunya dia meninggal, Tuhan sudah memanggilnya." pria itu sedikit menghibur Jia.
"Ya." Jia menunduk sedih, berbagai pikiran menghampiri membuatnya tidak sadar jika laki-laki di hadapannya sedang memperhatikan.
"Ini hanya sementara, kau pasti bebas bersama Radit. Kami berjumlah delapan orang, mengajukan permohonan juga jaminan untuk kalian berdua." ucap pria itu lagi tersenyum menangkan.
*
*
*
Halo reader semuanya...🙋
Terimakasih masih setia di novel DCMZ(Ceraikan Istriku) hingga episode ratusan ini, sesekali author lelah, idenya turun, tapi tetap nyambung ya...? 😁
Di bab-bab akhir ini kita akan membuat ending untuk semua orang, termasuk Reza dan Ayra, dan untuk novel berjudul Ketika 'Cinta Menyatukan Kita' itu di revisi semuanya dan tidak berhubungan dengan novel DCMZ(CI).
__ADS_1
Jangan lupa baca ya..
Terimakasih kasih 😘😘