Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
154. Sabar tak ada batas


__ADS_3

Senja di sore itu, hamparan langit menjadi atap bagi bumi dan semua makhluk ciptaan Tuhan, alam semesta terasa luas ketika di pandang dari tempat yang tidak terhalang mata. Sungguh indah ciptaan Yang Maha Kuasa pada semua titik yang kecil hingga yang besar tak terkalahkan desain alam yang luar biasa. Dari yang Rumit, yang sulit hingga yang mudah, semuanya tampak sempurna.


Seorang lelaki duduk di tepi pantai dengan deru angin meniup tubuhnya, rambut lurus itu tersibak membentuk susunan yang tak rapi. Walau tidak mengurangi ketampanan di wajahnya namun jelas terlihat ada gundah yang sulit di urai, angin yang bertiup dengan sesekali kencang pun tak dapat membawa bebannya ikut serta.


"Sudah lama?"


Suara bariton itu membuyarkan aktivitas melamun yang panjang, namun terasa nikmat kala hati mensyukuri keindahan alam milik sang pencipta.


"Aku baru saja menemui calon istriku. Tapi dia malah belum siap untuk di ajak menikah, aku jadi bingung." ungkapnya ikut duduk di atas mobil bagian depan milik pemuda yang menunggunya.


"Lebih baik kau bersabar, dari pada setelah mendapatkannya malah kehilangan. Seperti aku!" jawabnya pelan, namun penuh ungkapan kesedihan.


Akbar tertawa, sejenak menikmati angin yang berhembus menerpa tubuhnya. "Aku pernah mendengar, bahwa yang paling berat di dunia ini adalah bersabar, dan hal yang paling sulit adalah ikhlas. Tapi ku rasa keduanya adalah hal serupa, kita dengan mudah mengucapkan teorinya tapi sungguh sulit melaksanakan prakteknya."


"Berapa lama aku harus bersabar?" Radit menoleh mengerti maksud sahabat juga sepupunya itu.


"Sabar itu luas saudaraku, soal batasannya tentu aku tidak tau, tapi soal balasan tentu Allah tidak akan ingkar dengan luas kuasanya." Akbar tersenyum, wajah dewasanya jelas terlihat ketika berhadapan dengan Radit.


"Entahlah. Aku sedang di uji atau sedang di hukum, yang pasti aku sudah tidak tahu harus seperti apa menjalani hidupku. Kesalahanku menikahi Merry dan mengira Laura adalah putriku, hingga saat ini aku masih menyesalinya. Juga kehilangan istri tercintaku Zahira, aku sudah kehabisan kekuatan untuk menjalani hidup ini." Radit menunduk sedih dengan dada yang mulai sesak.


"Semua akan berlalu, dan hidup akan terus berlanjut meski apapun yang kau rasakan, waktu tak akan berhenti hanya karena kau meratapi kesakitan."


"Dua hari yang lalu, aku melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit. Dan hasilnya memenuhi kecurigaanku selama ini. Aku sulit memiliki keturunan, boleh di katakan itu adalah bahasa halus untuk tidak terlalu menyakiti aku. Aku tidak bisa punya anak." ucap Radit sedih.


"Kau yakin?" Akbar menatap Radit dengan tak percaya.

__ADS_1


"Ya, aku yakin! Walaupun hasil pemeriksaannya belum keluar. Besok aku akan kembali ke rumah sakit untuk memastikan hasil pemeriksaan. Entahlah!" terlihat putus asa.


"Ku harap kau tidak putus asa, rencana Allah sudah pasti lebih indah dari pada rencana manusia. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana, mungkin saja bahagia sudah menanti setelah kau melewati cobaan ini. Mana tahu jika kau berhasil maka akan membuatmu kembali bersama orang yang kau cintai." Akbar tersenyum memberikan semangat.


"Dia sudah bahagia, kau tahu itu." Radit tertawa namun sedang menahan sakit di hatinya.


"Ya, aku tahu. Aku menyaksikan kebahagiaan mereka, aku sering datang ke rumah pamanku akhir-akhir ini, dan yang sering ku lihat adalah Zahira bahagia." jelas Akbar jujur.


"Syukurlah, yang paling penting adalah dia bahagia. Aku sangat mencintainya dan sudah tentu aku ingin dia selalu bahagia. Bukankah jika bersamaku dia tidak akan pernah mengandung dan punya anak? Artinya aku hanya akan mencintainya tapi tidak membahagiakan dirinya." mendadak hidung putih dan mancung itu terasa pedas di ujungnya.


"Nah, itu adalah salah satu rencana Allah yang paling indah." Akbar tersenyum yakin.


Radit menoleh Akbar yang juga sedang menatapnya.


"Kau benar!" Radit menunduk, tersenyum kecut namun bersyukur Zahira tercinta sedang bahagia, atau sedang berbohong dengan rasa syukur itu, sungguh Radit ingin Zahira bahagia bersama dirinya.


"Percaya saja, Allah akan mengembalikan apa milikmu. Dan akan menjauhkan yang bukan milikmu." Akbar menepuk pundak saudaranya.


"Setelah hasil pemeriksaan besok pagi, aku akan pergi ke Malaysia." ungkap Radit.


"Untuk apa kau kembali ke Malaysia? Apa kau akan mencari istri di sana?" Akbar sedikit bergurau.


"Mana ada wanita yang mau dengan laki-laki mandul seperti aku." Radit menjawab gurauan Akbar.


"Tentu saja banyak, kau tampan dan mapan. Atau jika kau ingin punya anak, kau pilih saja janda beranak yang masih cantik dan fresh." Akbar tertawa lepas.

__ADS_1


"Jika harus menikah dengan janda maka aku akan menunggu Zahira menjadi janda. Aku akan dengan ikhlas menerima anak-anak pamanmu itu. Yang penting ibunya tidak menolakku." Radit ikut tertawa.


"Hahaha." Akbar benar-benar tertawa. "Pembicaraanmu tidak jauh dari Zahira." Akbar menggelengkan kepalanya.


"Apa lagi, hanya dia yang ada di dalam hatiku." Radit masih tertawa.


"Benar juga, jika kau menjadi ayah dari adik-adikku maka aku tak perlu khawatir akan nasib mereka. Paling tidak kau bukan ayah tiri yang kejam." Akbar kembali terbahak-bahak, dia sedang bercanda, tapi tidak bercanda bagi Raditya, dia benar-benar menikmati candaan itu sebagai harapan.


Seperti langit yang tadinya biru, saat malam maka akan berubah manjadi gelap. Meskipun ribuan bintang menghampar berusaha menerangi, namun tetaplah bulan separuh yang paling dekat. Tentu hanya Zahira yang paling dekat, paling bersinar, paling meneduhkan di hati Raditya. Walaupun banyak wanita yang akan mengejar dirinya, statusnya, namun tetap ia berpikir hanya Zahira yang pantas untuk di cintai selamanya.


"Ayo pulang, aku takut kau melihat penampakan yang mirip Zahira." gurau Akbar turun dari tempat duduknya.


Radit tersenyum sedikit, hari yang mulai gelap tentu tak ada bedanya tersenyum atau menangis. Lagi pula tak ada yang melihatnya.


*


Anggara baru saja tiba di rumah besar miliknya. Langkah terburu-buru itu langsung menuju lantai dua, segera menemui Zahira. Tangan halusnya membuka pintu.


"Mas! Mengapa sampai malam begini baru pulang." suara halus itu sedikit berteriak, tangan lentiknya menelusup diantara pinggang dan memeluk Anggara.


"Maaf Sayang." Anggara memeluk erat istri kesayangannya.


"Aku rindu." rengeknya sangat manja, wajahnya terus bersembunyi di dada Anggara, menghirup aroma parfum mahal bercampur keringat pria dewasa itu, menenangkan seolah membuatnya kenyang.


"Aku juga sangat merindukanmu. Aku bahkan menaiki tangga dengan setengah berlari hanya untuk segera bertemu dengan istriku." kecupan hangat jatuh tepat di bibir merah Zahira.

__ADS_1


__ADS_2