
Tak berselang lama, seorang pria dengan banyak bulu di wajahnya, tapi sudah lebih rapi saat ini, mungkin ucapan Satria membuatnya berubah, rapi akan membuatnya lebih tampan.
Dia menuju dimana Jia sedang duduk menunggu dengan bahu terlihat tinggi di satu bagian, perbannya belum di lepas meskipun sudah bisa di tutup dengan baju yang sedikit longgar.
Akbar menunduk sedikit menyapanya dengan lembut. Wanita yang tangguh dan keras bukan berarti tak menyukai kelembutan seorang lelaki.
"Hei." ucapnya pelan menatap wajah cantik Jia.
Jia mendongak sehingga mata mereka bertemu.
"Maaf aku baru datang." Akbar duduk berjongkok dihadapan Jia.
"Tidak apa-apa, kemarin kau sudah datang di rumah sakit." Jia tersenyum sedikit, sorot mata bagai elang betina itu kini redup dan lembut.
"Apakah sudah selesai?" tanya Akbar lagi.
"Sudah." jawabnya singkat, dia bukanlah tipe wanita yang ceria, apalagi bercanda. Kalaupun bercanda dan banyak bicara itu hanya kepada orang terdekat saja.
Usia Enam belas tahun dia sudah bekerja dengan Anggara, saat itu ada pembangunan di proyek Vila kota B, dan Jia butuh pekerjaan untuk menyambung hidup karena ibunya adalah seorang janda. Kegemaran belajar bela diri dan tidak mau ditindas membuatnya cukup tangguh dan bisa dipercaya. Saat itu, Anggara masih muda, banyak wanita yang mengejarnya dan itu Anggara sangat tidak suka. Pria kaya itu mengajak Jia selalu bersamanya, dan mengakui kalau Jia adalah adik. Adik yang pintar, tidak membiarkan wanita duduk di samping Anggara. Sejak saat itu mereka menjadi lebih dekat dan membawanya pulang untuk belajar bela diri dan kemudian Zahira datang.
"Semoga semuanya cepat berlalu, kita akan menikah bulan depan. Aku sudah sangat tidak sabar." Akbar menggoda Jia dengan senyum nakalnya.
"Bagaimana dengan orangtuamu?" Jia memang belum pernah bertemu mereka, mengingat mereka lebih suka di luar negeri.
"Papa sudah pulang, Mama juga akan menyusul lusa." jawab Akbar sedikit mengangkat alisnya, sudah tentu Jia tidak mengetahui jika ayahnya juga ada di sini bahkan sudah lebih dulu.
"Oh." Jia menunduk, menghindari tatapan Akbar yang membuatnya serba salah.
"Hei!" Radit keluar dari ruangan tersebut, menghampiri akbar dengan rambutnya yang kusut.
"Bagaimana?" Akbar menanyainya.
"Masih butuh proses, mungkin beberapa Minggu." Radit duduk lemas.
"Semoga lebih cepat, aku tidak mau kalian terus di sini. Kau tahu aku sudah akan menikah." Akbar ikut duduk di samping Jia.
__ADS_1
"Aku juga tidak mau di sini. Kau tahu, Zahira akan kembali ke rumah. Walaupun mungkin tidak setiap hari." Radit tersenyum penuh khayalan.
"Kau masih belum menyerah. Malah dia berkhayal." Akbar terkekeh.
"Aku punya objek yang pas untuk berkhayal." Radit juga ikut tertawa.
"Aku takut kau menjadi gila." Akbar mengatainya.
"Aku sudah pernah menjadi gila, dan itu karena dia." Radit menyandar dan tersenyum-senyum. Tapi kemudian dia berhenti, memikirkan sesuatu. "Tapi mengapa dia tidak datang, bukankah harusnya dia melihat keadaanku, keadaan Jia juga."
"Mungkin dia sibuk, kau lupa dia adalah bos besar?"
"Paling tidak keluar sebentar untuk melihat diriku, aku di sini karena membelanya." Radit menggerutu sendiri.
Jia hanya mengulum senyum, berusaha fokus pada dinding yang satu warna, dia tak mau berkomentar.
"Kau merasa jadi pahlawan, harusnya kau lebih rendah hati untuk mendapatkan wanita impianmu! Sabar dan tidak terburu-buru." Akbar menasehatinya.
"Sepertimu? Beruntung Jia cepat menyadarinya, jika tidak kau akan menjadi perjaka tua." Radit mengatai sepupunya.
"Cukup! Aku sedang gelisah." kesal Radit tak mau ikut tertawa.
"Itu masalahmu, aku tidak termasuk di dalamnya." Akbar semakin terkekeh geli.
"Boleh aku memakai ponselmu?" Jia berbicara kepada Akbar yang asyik tertawa.
"Boleh Sayang." jawab Akbar membuat Radit semakin kesal.
Akhirnya Jia tertawa juga, walau hanya sedikit. Wanita kurus itu mengambil ponsel dari tangan Akbar. Dia ingin menghubungi seseorang.
"Wa'alaikum salam Nyonya." jawabnya dengan suara datar.
Radit meraih ponsel dari tangan Jia, dia ingin mendengar apa yang sedang di bicarakan Zahira.
"Apakah sudah selesai?" tanya Zahira, tak mendapat jawaban. "Aku sedang menuju ke sana." suaranya kembali terdengar.
__ADS_1
Radit hanya tersenyum tipis, tak juga menjawab dan mengembalikan ponsel kepada Jia.
"Aneh sekali." gumam Jia melihat wajah Radit yang mendadak cerah.
"Biarkan saja, kita tidak masuk dalam keanehannya." Akbar merangkul Jia sedikit.
Sementara di tempat lain, Ayra sedang duduk di taman rumah dua lantai itu, hanya memperhatikan bunga-bunga yang lumayan berumur, tapi masih indah karena selalu di rawat. Air mancur mengucur di dalam lingkaran kecil menambah kesegaran mata memandang.
"Non, ini makanannya." ucap wanita berusia 40 tahun itu, semenjak Ayra tinggal di sana, dia mempekerjakan seorang wanita yang lebih muda dari pada Bibi sepuh untuk membantu dan mengurus kebutuhannya.
"Terimakasih." Ayra mengambil piring berisi potongan buah yang lumayan banyak. Akhir-akhir ini dia menyukai rasa yang sedikit asam.
Dia tidak tahu di belakangnya sudah berdiri seorang laki-laki tegap dengan wajah tampan dan segar. Tentu Reza tak mau tampil seperti pengemis di hadapan Ayra. Pria itu memperhatikan gerak-gerik Ayra tanpa terlewatkan sedikitpun. Wajahnya cantik, lembut dan halus. Tubuhnya berisi tapi terlihat lemas tak bertenaga, dia sedang mengidam parah akhir-akhir ini. Tidak mau makan dan minum, hanya buah jenis tertentu saja yang bisa di makan olehnya.
Bibir merahnya tampak menggiurkan ketika mengunyah buah untuk yang kedua kali. Tapi tak berlangsung lama, dia malah merasa mual.
"Biar aku bantu." suara dan tangan yang tiba-tiba merangkulnya membuat rasa mual itu hilang seketika.
"Bagaimana kau bisa masuk?" Ayra berdiri mendorong tangan Reza yang sedikit memeluknya.
"Aku mendapat akses dari Zahira." jawab Reza tidak dengan wajah sombong dan marah. Dia datang dengan cara berbeda kali ini.
"Pergilah, aku ingin istirahat." Ayra meninggalkan Reza masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, tentu saja Reza mengejarnya dan tak akan melepaskan wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Tunggu Ayra." pinta Reza terus mengiringi langkah Ayra menuju lantai Dua.
"aku ingin istirahat, apakah kau tuli?" Ayra memarahinya, sejenak berhenti di tengah-tengah anak tangga kemudian kembali naik ke atas.
"Aku tidak tuli, aku juga tidak buta." ucap Reza ketika sudah menginjak lantai dua.
"Lalu apa?" Ayra masih terlihat sinis.
"Aku ingin kita berdamai." Reza menatap dalam wajah wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya tersebut.
"Sudah terlambat, dan lebih baik kau pulang. Aku tidak butuh kehadiranmu."
__ADS_1