
"Apa yang membuatmu minta maaf? Kau juga selalu tersakiti dengan keadaan. Mama hanya bisa menyaksikan." ucap Ayu masih tidak mengerti.
Ingin sekali Zahira menjelaskan apa yang baru saja di ketahui olehnya. Tapi untuk saat ini ada yang lebih penting.
"Radit di bawa Polisi Ma." ucap Zahira pelan.
"Kita akan ke sana." Ayu tidak menangis, tentu ditahan lebih baik daripada di habisi oleh wanita yang penuh ambisi tersebut.
"Ayo Sayang, kita berangkat." Ayu meraih tangan kecil milik Satria dan Sadewa.
"Apakah sebaiknya mereka bersama denganku saja Nyonya, ada Hiko menjaga kami di sini." Bibi Lastri menyarankan, wanita yang sudah tua itu mendekati mereka.
"Iya Ma, tidak baik mereka berada dalam suasana ketegangan di sana." Zahira menyetujui.
"Baiklah." Ayu memberikan tangan keduanya kepada Bibi Lastri.
"Jangan nakal Sayang, sebaiknya kalian tidur lebih awal." pesan Zahira kepada dua anaknya.
"Bibi Jia terluka?" tanya Sadewa mendengar pembicaraan bodyguard Ricky menyebut nama Jia.
"Ya Sayang, Ibu harus mengurusnya." Zahira mengelus kepala Sadewa, anak laki-laki yang mirip sekali dengan Anggara ayahnya, dia menyayangi semua orang.
Sadewa mengangguk mengerti, menarik tangan Bibi Lastri menuju kamar lantai dua, kamar ayah tercinta. Suasana tegang dan banyak orang di lantai dasar sudah tentu membuat mereka merasa tak nyaman.
"Kita berangkat."
David mengangguk, sudah tentu dia akan mengurus semuanya juga. Yang penting ketakutan dan kesedihan anak-anaknya sudah berakhir.
"Papa, apakah Radit akan di hukum? Lalu bagaimana dengan Jia, kami menemb*k bersamaan, tapi aku di lempar oleh Jia dan dia yang memegang senj*tanya." Zahira sibuk berpikir, duduk gelisah di dalam mobil David.
"Kita akan berusaha membebaskan mereka seandainya Polisi menahan. Menghabisi seseorang tentu adalah kesalahan, kita punya aturan." David sendiri menarik nafas, tidak tahu bagaimana nantinya.
"Tapi kami membela diri Papa!" Zahira menekan jari-jarinya sendiri, dia benar-benar takut.
"Kita lihat nanti, semoga saja ada pertimbangan sendiri atas semua yang sudah terjadi." David berusaha tenang.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkannya Papa, Om Ricko dan Om Ricky pasti membebaskan mereka." Zahira mengingat jika dia punya dua orang andalan suaminya.
"Ya, kau tak perlu khawatir." David melirik wajah Zahira yang sedang duduk di belakang.
"Aku harus menemui Jia." ucap Zahira lagi.
"Bagaimana? Apakah langsung ke kantor atau bertemu Jia terlebih dahulu?" tanya David kepada Ayu.
"Kita ke rumah sakit, lagi pula Radit tidak sedang terluka." Ayu setuju, dan mereka berbelok arah.
Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Zahira segera turun mendahului Ayu dan David, masuk ke dalam rumah sakit.
"Dia sangat khawatir." David menatap punggung Zahira yang sudah diambang pintu rumah sakit.
"Dulu Kakak juga seperti itu, selalu menghawatirkan aku." Ayu tersenyum, ingatan masa lalu membuatnya merindu, ikatan perasaan bisa membawanya pada Radit dan Zahira, beruntung sekali bisa memiliki keduanya.
"Kata orang, darah tidak lebih kental daripada air, nyatanya air dapat menyembuhkan dahaga, dia menyegarkan dan menyejukkan. Tanpa air masuk ke dalam tubuh maka darah pun akan membeku. Mereka sama-sama di butuhkan." David memeluk bahu Ayu, masuk bersama ke dalam rumah sakit.
Tentu saja maksudnya adalah hubungan yang sulit di pisahkan antara mereka dan Zahira.
Tomy sekaligus sopirnya mendekati Zahira.
"Bagaimana?" tanya Zahira dengan wajah khawatir.
"Baru saja masuk ruang operasi Nyonya." ucapnya menunduk hormat.
"Ya Allah, semoga dia baik-baik saja." Zahira duduk di kursi tunggu dengan gugup.
"Dia akan baik-baik saja Nyonya, hanya masalahnya dia membawa senj*ta saat masuk ke dalam mobil, saat ini polisi sedang mengambil dan mengamankannya." jelas Tomy membuat Zahira menautkan alisnya.
Lalu Zahira mengusap wajahnya, ternyata Jia menggenggamnya begitu erat, harusnya Zahira yang memegang karena mereka membidik Merry bersamaan.
"Aku khawatir." ucap Zahira kembali menggenggam tangannya sendiri.
"Semua akan baik-baik saja, hanya mungkin kita akan berurusan dengan Polisi." ucap Tomy pelan.
__ADS_1
Zahira melirik sopirnya sedikit, kemudian memilih diam karena Radit juga sudah ada di sana, entah bagaimana nantinya yang pasti Zahira tidak bisa diam saja.
"Jia ada dimana?" Ayu mendekati Zahira dan sopir tersebut.
"Di ruang operasi Nyonya." Tomy menunjuk ruangan sebelah kiri tempat mereka duduk.
"Baiklah, paling tidak butuh satu jam." ucap Ayu duduk di dekat Zahira.
"Bagaimana dengan Radit Mama?" tanya Zahira bingung, wajahnya menunduk hanya bicara tanpa bergerak.
"Sudahlah Nak, kau ada di sini memikirkan Radit, kau bersama Radit memikirkan Jia. Sebaiknya tenangkan dirimu yakinlah semuanya baik-baik saja, lagipula Radit hanya duduk menunggu kita, sambil memberikan keterangan sama seperti dirimu nanti, dan mereka sudah mengambil data CCTV rumahmu, jadi tak perlu banyak bicara menghadapi mereka."
"Minumlah Nyonya, agar tidak terlalu tegang." Tomy mengambil air mineral yang sengaja dibawanya sejak tadi.
Ayu meraihnya dan memberikannya sedikit, tak hanya Zahira tapi dia juga tegang.
"Untung saja penyakit jantung Papamu tidak kumat, kalau tidak maka yang ada di dalam sana adalah dia." Ayu menunjuk David.
"Jangan sampai itu terjadi." Zahira menyahut, menatap David yang sedang tersenyum.
"Papa hanya sakit saat kehilanganmu." ucap David juga menatap Zahira.
"Setelah ini Papa tidak akan kehilangan semuanya, aku akan pulang ke rumah Papa." ucap Zahira dengan mata tak berkedip masih bertatapan dengan David.
David dan Ayu saling berpandangan, kemudian menatap Zahira bersamaan.
"Aku akan pulang, apa tidak boleh?" tanya Zahira pelan.
Ayu tertawa bahagia, meraih tubuh di sampingnya dan memeluk erat. "Tentu saja boleh, Papa dan Mama berharap begitu sejak lama." Ayu tertawa sambil meneteskan air mata, entah apa maksudnya tapi yang jelas peluang untuk kembali hidup bersama kedua anaknya akan segera terwujud. Harap-harap bisa menikahkan mereka lagi, memiliki semuanya secara utuh, anak, menantu dan cucu.
"Tadinya Papa khawatir kau tidak punya niat pulang ke rumah Papa, karena rumah Papa tidak semewah rumah Anggara suamimu. Tidak punya banyak asisten dan bodyguard, juga tidak seluas taman milikmu." David tersenyum lembut.
"Tentu saja rumah Papa yang paling nyaman untukku, aku mendapatkan segalanya di sana." Zahira masih memeluk Ayu.
Namun tak bisa di jelaskan untuk memulai kembali hubungan dengan Radit, hatinya masih ragu walau beberapa saat sebelumnya dia menyadari jika kembali dengan Radit adalah jalan terbaik. Dan lagi, Jia dan Radit berada dalam masalah sekarang ini, tentu mereka semua belum bisa tidur nyenyak jika salah seorang masih terlibat urusan rumit.
__ADS_1
'Lagi pula, apakah Radit masih bersedia kembali padaku? Semua yang sudah terlewati membuatku ragu, terlebih lagi sikap kasar ku kepadanya.'