
Radit langsung melihat ponsel yang di rampasnya dari tangan Zahira ia tak peduli dengan teriakan istrinya. Tapi sejenak kemudian ia menghembuskan nafas lega karena ternyata yang di lihat istrinya adalah hasil kerja karyawan kantor yang sedang bertugas di luar kota.
Zahira masih melongo tak percaya dengan tingkah Radit hari ini.
"Maaf sayang, ku kira kau sedang menyaksikan apa hingga tak berkedip begitu." Radit mengembalikan ponsel Zahira dan segera memeluk serta mencium seluruh wajah istri kesayangan.
"Aku bosan, kau tak pulang-pulang." wajah cantik itu terlihat merajuk.
"Aku sengaja pulang sore karena harus ke Cafe ayah kita terlebih dahulu." Radit masih memeluknya, menikmati wanginya rambut Zahira.
"Kau bau keringat, sebaiknya kau mandi." pinta Zahira meraih jaket Radit dan membantu melepaskannya.
"Bersamamu sayang." bisik Radit sekilas mengecup pipi mulus Zahira. Membiarkan tangan kecil itu membuka pakaian yang di kenakan Radit juga menyiapkan handuk untuknya.
Sungguh momen seperti itu selalu membuat Radit bahagia, istri cantik dan sholehah melayani dengan sepenuh hati. Sungguh tak dapat di bandingkan dengan siapapun termasuk dengan Merry, wanita brengsek yang sudah menjebak dirinya. Lalu bagaimana jika Zahira tahu? Pikiran itu selalu merusak kebahagiaannya.
Mandi bersama yang memakan waktu cukup lama, sesekali bercanda lalu sejenak diam dan hanya menikmati kemesraan saja, hingga usai dengan aktivitas senang-senang berdua dan keluar dari kamar mandi dengan wajah bahagia.
"Radit kakiku pegal." Zahira mengeluh dan memijat kaki jenjangnya.
"Maaf sayang, lain kali kita akan membuat tempat yang nyaman di kamar mandi kita. Agar istriku tidak merasa pegal-pegal." Radit memeluknya begitu mesra. Senyum bahagia itu terbit tak henti-hentinya, dunia sedang milik mereka berdua yang lain dinggap tak ada.
"Aku rindu dengan Papa dan Mama." ucap Zahira masih dalam pelukan Radit.
"Kita akan ke sana, menginap di kamarmu yang dulu sangat ingin aku tinggali." Zahira tersenyum dan mulai bersiap pergi ke rumah David dan Ayu.
*
Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa)
Ya badrotimmin haza kulla kamaali
Maaza yu'abbiru 'an 'ulaaka maqoalii
Ya badrotimmin haza kulla kamaali
__ADS_1
Maaza yu'abbiru 'an 'ulaaka maqoalii
Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa)
Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa)
Solla 'alaikallahu robbii daa'iman
Abadan ma'al ibkaari wal asoalii
Solla 'alaikallahu robbii daa'iman
Abadan ma'al ibkaari wal asoalii
Allaahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Yaa Robbanaa)
By: Ay Khodijah.
Lagu yang sudah lama tidak terdengar mengalun merdu di rumah itu, kini terdengar menggetarkan hati penghuni yang lainnya.
Ayu turun dari mobil langsung melihat ke lantai atas dengan tatapan bahagia, dari halaman rumah itu Ayu dapat melihat ada Radit yang sedang berdiri di dekat jendela dengan tersenyum.
"David anak-anak kita sudah pulang!" serunya, binar bahagia jelas terlihat di wajah tirus putih bersih itu. David hanya menoleh, tersenyum lalu menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah.
"Zahira sayang." panggil Ayu saat ia sudah berada di lantai atas bersama David.
"Mama, Papa!" menghentikan bermain musiknya dan berlari memeluk David dan Ayu secara bersamaan.
"Mama pikir kau sudah dewasa setelah memiliki tempat bermanja yang baru." ucap Ayu mengelus wajah Zahira.
__ADS_1
"Aku masih anak Mama dan Papa kan?" tanya Zahira begitu polos.
"Tentu, siapa lagi putri Papa dan mama selain dirimu." David merasa lucu mendengar pertanyaannya.
Radit masih tak beranjak dari posisinya, pikirannya mulai kacau kembali teringat ancaman Merry 'Bagai mana jika mereka semua melihat rekaman itu, Papa, Mama, dan sudah tentu Zahira akan terluka. Aku merusak hubungan yang hangat ini, aku merusak pernikahanku dengan gadis yang paling aku cintai, aku merusak semuanya. Papa pasti akan marah besar karena aku sudah menyakiti hati putri kesayangannya, begitu juga Mama, dia pasti akan menangis meraung-raung karena kebodohan yang ku lakukan walaupun tanpa sengaja. Tapi sungguh aku tidak menginginkan ini, demi tuhan aku tidak mau. Apa yang harus ku lakukan?'
"Hey, kau tidak rindu pada papamu ini?" David mendekati putranya yang sedang melamun.
"Tentu saja aku rindu papa." Radit memeluk ayahnya dengan perasan tak menentu.
"Ku rasa kau sudah lupa padaku semenjak menikah." David memulai candaannya.
"Tidak Papa, makanya kami ingin menginap disini." jawab Radit pelan.
David menautkan alisnya, tak seperti biasa anak semata wayangnya itu menjawab dengan lembut dan sopan. Bahkan ia sangat suka berdebat jika di ajak bercanda, apa lagi bercanda mengenai Zahira sudah pasti dia akan kukuh dengan ucapan dan pendapatnya saja.
Hingga di malam hari saat sesudah makan malam, Zahira sedang bercerita banyak hal dengan Ayu. Layaknya seorang anak yang rindu dengan ibu, mereka mengobrol penuh dengan canda tawa, sesekali serius lalu kemudian sedikit bertanya, mereka berdua sangat menikmati momen kebersamaan itu.
Namun berbeda dengan David, kedua pria itu tak terlibat banyak obrolan, David lebih banyak memperhatikan sikap anaknya yang lebih pendiam dengan gurat kebingungan tersimpan diwajahnya.
"Kau punya masalah?" akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Tidak papa, hanya sedang kurang enak badan. Mungkin lelah?" jawabnya.
"Setahuku kau tidak pernah lelah apalagi menyangkut istrimu, itu terdengar sedikit aneh." David mulai memancingnya.
"Tentu saja jika hal itu tidak akan membuatku lelah, aku rasa semangatku itu menurun dari Papa." Radit membalasnya.
David terkekeh geli mendengar jawaban Radit, sungguh putranya sudah dewasa, bahkan menimpali obrolannya dengan berani. Wajah datar yang tampan itu membuat David sangat bangga, sampai akhirnya mengikat Zahira dalam pernikahan dan mereka tidak perlu merasa kehilangan.
"Jaga istrimu baik-baik jangan sampai menyia-nyiakan dirinya, kerena sudah pasti kau tidak akan mendapatkan istri yang lebih baik dari Zahira. Apapun yang terjadi jangan pernah melepaskan istrimu, seperti ayahnya tak pernah melepaskan istrinya."
"Jujur saja aku takut kehilangannya Papa." jawab Radit dengan ragu-ragu.
"Kau melakukan kesalahan?" tebak David, karena dia melihat wajah Radit sedikit murung dari pertama dia datang.
Sejenak ia berpikir, ingin rasanya mengatakan hal itu pada David, mana tahu ada jalan keluarnya. Namun kembali ia urungkan mengingat David sangat menyayangi Zahira dan pasti, David akan marah padanya.
"Tidak." jawabnya singkat, namun terlihat lemas membuat David semakin penasaran.
__ADS_1
Hingga malam semakin larut Radit mengajak Zahira naik ke lantai dua untuk beristirahat.
"Istirahatlah sayang." Ayu melepas Zahira yang sudah berada dalam rangkulan Radit putranya.