
Radit kembali terkejut, bagaimana mungkin Laura bukan putrinya, jelas-jelas dalam rekaman CCTV itu dialah orang pertama melakukan itu pada Merry. Atau Anggara sedang mengalihkan perhatiannya? Tapi untuk apa? Berbagai pikiran itu mendadak merasuk di kepala Radit.
"Kau jangan main-main! Aku jelas tahu jika Laura adalah putriku, itu sebabnya aku bertahan dengan Merry hingga-"
"Hingga menghancurkan hidupmu sendiri? Kalau tidak percaya tidak masalah, lagi pula itu lebih baik daripada kau terus memikirkan istriku yang jelas-jelas mengandung anakku." Anggara memotong ucapan Radit.
"Itu berbeda!"
"Berbicara denganmu membuat ruangan ini kehilangan oksigen." Anggara melangkah melewatinya.
"Aku belum selesai!" Radit mencegahnya.
"Kau urus saja DNA putri kesayanganmu itu. Jika dia putrimu aku akan menunda penangkapannya, tapi jika bukan? Aku akan segera membawa istrimu ke dalam tahanan." ucap Anggara.
"Jika di tunda dia akan pergi." ungkap Radit dengan pikirannya.
"Kau pikir dia tak pernah mencoba untuk kabur? Jika bisa maka dia sudah pergi sejak beberapa waktu yang lalu, dan Anwar tidak perlu bermusuhan denganku." Anggara menatap wajah bodoh Radit.
Radit mengusap kasar wajahnya, ia merasa tak berguna dan kalah jauh dari Anggara. Pria itu meraih ponsel dari atas meja, dan keluar tanpa menoleh, mendahului langkah Anggara. Radit menuju mobilnya dengan wajah kusut dan pikiran tak kalah kusut pula, ternyata selama ini dia dibodohi banyak orang. Mobilnya melaju, namun kemudian ia bingung harus kemana, ingin menuju kantor Mars Media milik mertuanya, atau segera pulang menuju rumah untuk bertemu dengan Merry dan menanyakan kebenarannya.
Sejenak ia berhenti lalu kembali melaju, mungkin pulang lebih dulu, segera memastikan DNA Laura seperti yang dikatakan Anggara. Harus di akui pria itu benar-benar bisa di andalkan, wajar saja Zahira lebih memilih bersamanya. Berkali-kali Radit mengusap kasar wajah hingga rambutnya, namun tak juga mengusir gelisah yang terasa semakin membuatnya tak nyaman.
Ingin rasanya meninju seseorang tapi siapa? Jika itu Merry maka sungguh tak berguna, dia adalah perempuan yang tak akan membalas meskipun di pukul hingga mati, atau Anwar? Ah tua bangka itu pula tak butuh pukulan, namun perlu di tegaskan bahwa harusnya dia tak ikut campur.
"Merry?" panggil Radit setelah berada di rumah dan segera menuju kamar Laura.
__ADS_1
"Merry!" teriak Radit disertai amarahnya. Tapi tetap tak ada jawaban, sepertinya Merry tak ada di rumah.
"Ada apa Mas Radit?" tanya asisten rumah tangga Radit, ia datang mendekat terburu-buru mendengar Radit berteriak.
"Kemana Merry pergi?" tanya Radit, kulit wajahnya yang putih kini memerah.
"Tadi naik taksi Mas, mungkin ke rumah orangtuanya." jawab wanita yang sedang memakai celemek itu.
Radit mengibaskan tangannya agar ART itu segera pergi. Radit-pun kembali keluar menuju mobil, sepertinya ia akan menyusul Merry dan Laura ke rumah Anwar mertuanya. Itu lebih baik, bertemu Dua orang sekaligus untuk membahas hal yang bersangkutan dengan mereka, walau bagaimanapun Merry sudah keterlaluan.
"Dia sudah memisahkan aku dengan Zahira, aku tidak akan mengampunimu. Apalagi jika Laura bukan putriku." Radit berbicara sendiri sambil sesekali mengepalkan tangannya.
Beruntung sekali ia tidak kembali menikahinya, jika tidak, masalahnya akan semakin rumit. Radit menggeleng dan memijat kepalanya yang semakin berat karena banyak beban yang tak terduga.
*
Seorang wanita tersenyum melihat kedatangan mobil hitam, ia beranjak meninggalkan Jia, berjalan mendekati mobil itu dengan tak sabar.
Anggara keluar dengan senyum manis terukir di wajah tampannya, segera meraih dan memeluk tubuh wanita itu dengan penuh cinta. "Assalamualaikum Sayang." ucapnya menatap wajah cantik Zahira.
"Wa'alaikum salam." jawab Zahira, langsung membenamkan wajahnya di dada Anggara.
"Istriku sedang bahagia?" tanya Anggara mengecup pucuk kepala Zahira.
"Akhir-akhir ini kau sering mengucapkan salam." jawabnya masih bersembunyi.
__ADS_1
"Tentu saja, aku lupa karena sering berhadapan dengan orang-orang berbeda agama, rekan bisnisku beragam agama dan kebiasaan, hingga aku ikut kebiasaan mereka. Tapi sekarang aku tidak akan seperti itu lagi, ada dua anak yang akan merespon kebersamaan kita, termasuk ucapan dan suasana hati, baik itu aku atau dirimu." jelas Anggara.
"Benar, kita harus menjadi orang tua yang baik jika ingin menjadikan anak-anak kita orang yang baik, mereka adalah cerminan dari orang tua."
"Benar sekali Sayang, dan kau harus selalu bahagia itu yang utama." Anggara melihat wajah di dadanya.
Kemudian mereka masuk menuju kamar di lantai Dua. Membantu suami melepaskan pakaian dan memanjakannya, Zahira sedang menikmati indahnya menjadi istri, benar-benar seorang istri.
Dulu saat bersama Radit ia juga melakukan hal itu, hanya saja takdir mengubah jalan hidup seseorang sesuai maunya sehingga harus berpisah dengan cara luar biasa. Mungkin Tuhan memang menciptakan seorang Zahira untuk Anggara, rasanya sungguh pas ketika semua rindu itu menyatu, ketika rasa ingin selalu dekat dan tak mau berpisah, Zahira merasa kehidupannya sungguh sempurna.
"Istriku memikirkan apa?" tanya Anggara lagi, tangan kokohnya meraih Zahira mengambil kemeja yang dipegangnya dan meletakkan di ranjang.
"Aku hanya sedang menikmati kehidupan yang lengkap ini. Aku, kau dan calon anak-anak kita. Aku sungguh beruntung bertemu dan menjadi istrimu, aku sangat bahagia." ungkapnya menampilkan lesung pipi yang semakin dalam.
"Akulah yang merasa beruntung, memiliki istri yang sangat muda, cantik dan sekarang sudah mengandung anak kembar untukku." jawab Anggara sangat romantis.
"Itu karena kau yang menanam bibitnya, aku hanya menerima saja." Zahira kembali memancing Anggara.
"Tidak juga, aku bisa sehebat itu karena melihat istriku sungguh menggoda." Anggara mengecup pipi Zahira, ingin sekali ia menggigit di tempat itu.
"Kau pintar sekali membuat alasan." ucapnya manja.
"Itu memang benar, kau terlalu cantik untuk di lewatkan. Aku bahkan tidak bisa tidur ketika malam pertama menjadi suamimu, aku sangat bahagia, sangat bersyukur Tuhan mempertemukan aku dengan mu. Meskipun aku bukanlah yang pertama di hatimu."
"Jujur saja jika aku bisa memilih, aku ingin menjadi yang pertama dan menjadikanmu yang pertama juga. Tapi kita tidak dapat memilih jalan hidup sesuai keinginan, hingga aku menjadikanmu tempat berlari."
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Anggara memeluk dan mengecup kembali pipinya, sentuhan yang penuh rindu itu tak mampu ia lepaskan, hanya bergeser dan bergeser menelusur semua yang dapat di rasa semakin membuat nikmat. Tanpa sadar tangan Anggara sudah bersembunyi di balik gaun mahal Zahira, keduanya larut dalam rasa yang menggelora melupakan sejenak apa yang akan terjadi di luar sana.