
"Aku jadi gugup." ungkap Zahira menatap jalanan dengan tersenyum sedikit.
"Ada aku di sampingmu, apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu." Reza meraih tangan Zahira yang sedikit mengerat.
Zahira menoleh sedikit, sepertinya dia memang harus percaya. Menghindarinya selama berbulan-bulan harusnya sudah cukup untuk membuatnya menjauh. Tapi kenyataannya dia malah semakin nekat, sudah tentu pria itu benar-benar mencintainya.
"Kita sudah sampai." Reza menghentikan mobilnya di parkiran Cafe.
Zahira berbenah sedikit, mengatur kerudung dan merapikan pakaiannya.
"Kau sudah cantik, dan selalu cantik." Reza mengulurkan tangannya setelah membuka pintu untuk Zahira.
"Hanya tidak ingin membuatmu malu." jawab Zahira tersenyum.
"Tentu saja kau membuatku bangga, bahkan ada banyak yang menginginkanmu." Reza mendapatkan jari lentik itu, tetap menggenggamnya sambil menutup kembali pintu mobil. "Jangan lupa memanggilku dengan sedikit mesra." Reza mengingatkan.
"Iya." Zahira tertawa sedikit, mengerti apa yang di inginkan Reza Mahendra.
"Apa?" pancing Reza sambil berjalan masuk.
"Memanggilmu." jawab Zahira ikut senang dengan candaan yang di mulai pria jangkung itu.
"Memanggil apa?" tanya Reza lagi menoleh wajah disampingnya, lebih pendek tapi terlihat mesra.
"Mas Reza." ucapnya lembut sambil tertawa hingga menyipitkan mata.
"Oh ya Tuhan, aku sedang bahagia." Reza semakin tertawa senang, masih tetep menggenggam jari halus Zahira, berjalan sejajar menuju sebuah meja, dimana seseorang sudah menunggu dan memperhatikan kemesraan keduanya. Tawa yang lepas, cantik dan tampan, genggamam tangan yang erat, semua itu tak luput dari penglihatan seorang wanita yang sudah berumur tapi terlihat elegan.
"Mama, maaf membuatmu menunggu." Reza masih menggenggam tangan Zahira hingga tiba di sebuah meja yang tampak sudah diatur untuk mereka bertiga.
"Assalamualaikum Nyonya." Zahira sedikit membungkukkan kepala, lalu meraih tangan wanita yang sejak masuk sudah memperhatikan dirinya.
"Ah, wa'alaikum salam." jawabnya tersenyum kagum. Mata tuanya nyaris tak berkedip menikmati cantiknya calon menantu yang katanya merupakan seorang pengusaha yang sedang menjanda. Dia juga menikmati tangan halus calon menantu tersebut meraih dan mengecup punggung tangannya.
"Mama, ini Zahira. Wanita yang sudah aku ceritakan kepada Mama." Reza memperkenalkan Zahira yang sudah lebih dulu menyapa ibunya.
"Ya." Ibu Carolina mengangguk sambil tersenyum manis.
Kesan pertama yang cukup membuatnya senang, cantik, sopan, kaya dan masih sangat muda. Namun tak sampai di situ, Nyonya Carolina masih ingin tahu lebih banyak tentang Zahira.
__ADS_1
"Saya Carolina, ibu kandung Reza Mahendra. Senang bertemu denganmu."
Suasana yang santai, namun tetap terasa canggung bagi Zahira, gugupnya melebihi rapat tahunan yang di hadiri banyak pengusaha.
"Pesanlah sesuatu, agar kita bisa mengobrol lebih santai." Nyonya Carolina menunjuk menu makanan yang sudah ada di meja, mungkin pelayan sudah datang lebih dulu saat mereka belum datang.
Reza tersenyum, lalu meraih menu makanan lebih dulu. "Jus jeruk?" tanya pria itu pada Zahira.
"Ya Mas." jawaban yang membuat Reza semakin bersemangat.
"Baiklah, kita pesan makanan yang sama. Mama ingin pesan apa?" Reza juga bertanya kepada ibunya.
"Apa saja, Mama ikut yang muda." jawabnya dengan tertawa.
"Baiklah." Reza mengangkat telunjuknya memanggil heater agar segera mendekat.
"Kalian sering makan bersama?" tanya Nyonya Carolina pada Zahira.
"Jarang Nyonya, hanya sesekali, mungkin masih dapat dihitung." jawab Zahira jujur.
Wanita itu mengangguk-angguk. "Bukankah kalian sudah lama saling mengenal?" tanya wanita itu lagi.
Seketika bibir merah Nyonya Carolina membulat, dia baru saja mendengar jika Zahira punya anak. Tentu hal itu dia belum mengetahuinya, bahkan Reza belum menjelaskan perihal anak padanya.
"Kalian tidak melakukan hal aneh bukan?" Nyonya Carolina menatap curiga.
"Mama!" Reza menyela ucapan ibunya.
"Sama sekali tidak Nyonya, semenjak suamiku meninggal kami bertemu hanya karena urusan bisnis, dan karena sering bertemu maka akhirnya kami memutuskan untuk berteman." Zahira menjawabnya dengan yakin.
"Maaf!" Wanita yang hampir enam puluh tahun itu menghembuskan nafas lega.
"Tidak masalah." Zahira tersenyum ramah.
"Makananya sudah datang." ucap Nyonya Carolina dengan senyum sedikit memaksa.
Begitu juga Zahira, langsung menerima Jus jeruk miliknya dan minum sedikit.
"Berapa usia putramu?" lanjut Nyonya Carolina lagi.
__ADS_1
"Sebentar lagi genap enam tahun Nyonya. Mereka sedang bersekolah di sebuah sekolah khusus, hari ini baru saja selesai melakukan ujian kelas Dua sekolah dasar." jelas Zahira dengan bangga mengakui kelebihan kedua putranya.
"Mereka?" tanya Nyonya Carolina menghentikan gerakan sendok yang mulai memecah kumpulan makanan di piringnya.
"Iya, aku memiliki putra kembar." Menjawab sebaik mungkin meskipun hatinya sedang merasa tak nyaman, sepertinya ibu Reza Mahendra itu memiliki pikiran yang lain.
"Oh begitu." jawabnya kemudian makan dengan serius, hanya dentingan sendok yang terdengar setelah itu.
"Sayang, mau Lobster?" Reza menanyai Zahira dengan lembut seperti biasa.
"Tidak, ini sudah cukup." Zahira menjawab dengan tak kalah lembut, tak mau peduli dengan suka atau tak suka, seorang Zahira harus tetap sopan, lembut dan elegan. Begitu wanita cantik itu berpikir untuk melabeli dirinya sendiri.
Tentu saja karena dia sangat berharga, tak hanya Reza Mahendra tapi masih banyak laki di luar sana yang mengharapkan cintanya.
Begitu juga yang dipikirkan Reza Mahendra, dengan atau tanpa restu ibunya, dia akan tetap mencintai Zahira dan akan menikahinya, menjadikan istri seperti impiannya selama ini.
Makan malam yang santai namun sedikit mencekam, diamnya dua orang wanita di meja yang sama itu menciptakan kengerian tersendiri untuk Reza Mahendra.
"Mama datang bersama sopir?" tanya Reza memberitahu arah bicaranya.
"Ya, Mama akan pulang sendiri." ucapnya pelan dan tersenyum, berusaha menutupi apa yang sedang ia pikirkan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantar Zahira. Anak-anak pasti sudah menunggu." Reza sengaja mempertegas keberadaan anak-anak. Agar ibunya tahu jika putranya sudah menerima semua tentang Zahira.
"Baiklah, anak-anak memang akan seperti itu. Dia akan menunggu ibunya pulang sebelum mereka tertidur." jawabnya tersenyum sedikit memaksa.
"Tentu saja Mama, aku pun seperti itu saat aku masih kecil, menunggu dan ingin tidur bersama Mama." jawab Reza seperti mengandung kekecewaan.
Wanita tua itu terdiam, bibirnya mengisut seperti mendapat serangan di hatinya.
"Terimakasih atas waktunya Nyonya, senang sekali bisa bertemu denganmu." Zahira mendekati wanita yang menatap kaku kepada putranya itu. Memeluknya dan mencium pipi yang sudah mulai kendur itu dengan lembut.
"Hati-hati di jalan." ucap Nyonya Carolina pada akhirnya.
"Terimakasih, Assalamualaikum Nyonya."
"Ya." jawabnya masih tertegun entah sedang memikirkan apa.
"Mau membeli sesuatu?" tanya Reza menggandeng bahu Zahira menuju arah keluar.
__ADS_1
"Tidak Mas." Zahira menoleh sedikit dan tersenyum manis.