Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
06. Bagaimana jika aku merindukanmu


__ADS_3

"Ingin sekali aku menggigitmu" gumamnya.


"Kau bicara sesuatu?" Zahira berbalik.


"Tidak, hanya akan bersiap ikut denganmu." Radit bersikap biasa-biasa saja.


Zahira meninggalkannya naik ke atas, butuh waktu lebih dari setengah jam untuknya melakukan aktifitas mandi, ganti, dandan dan sempurna. Anak gadis memang butuh waktu lama untuk bisa tampil percaya diri. Zahira turun dengan santainya, wajahnya sedikit di poles make up, memakai dress panjang berwarna ungu muda dan hijab senada. Membuat pria yang menatapnya sulit berkedip dan tak mampu berkata.


"Mengapa dia cantik sekali." ucapnya di dalam hati, mata sipit itu melirik seperti tak peduli, tapi hatinya sudah tidak terkendali. Radit memang luar biasa, di balik es batu ada air sejuk yang mengalir, mungkin itu tepat untuk mengungkapkan perasaan Radit yang seperti tak acuh pada Zahira.


"Papa, ayo kita berangkat." Zahira mendekati ayahnya. Radit sedikit kesal, kenapa tidak bermanja dengannya saja.


"Ayo." David tampak bahagia, putri cantiknya tidak berubah meski sudah tahu dia bukan ayah kandungnya.


Zahira akan membuka pintu depan, tapi tangannya di tahan Radit. "Kau duduk di belakang bersamaku saja." Radit mencoba merayunya.


"Aku ingin di depan bersama papa." jawabnya pelan.


"Baiklah." Radit mengalah karena David menatapnya dengan heran.


Mobil melaju perlahan, tanpa terasa sekitar empat puluh menit mereka sudah tiba di sebuah rumah dua lantai dengan taman di depan dan di samping, ada dua pohon mangga di samping rumah dengan tata taman yang rapi. Sepertinya nyaman sekali.


"Zahira ayo." David membuka pintu mobilnya. Sungguh kebiasaan itu tak bisa dirubah, Zahira adalah bak tuan putri kesayangan dibuatnya.


Radit hanya mengikuti dari belakang, hingga satpam berusia sekitar lima puluh tahunan itu membuka pintu, matanya tidak berkedip menatap Zahira, "Selamat datang nona!" sapanya hormat sekali.


Zahira tampak heran dan canggung mendengar sapaannya. Pak satpam itu heboh sekali, sampai berteriak memanggil bibi yg bekerja sebagai asisten di sana.

__ADS_1


"Non!!" panggil nenek yang rambutnya sudah sedikit beruban. Sepertinya dia sangat merindukan dan menantikan kedatangan Zahira. Wanita itu memegang tangan zahira dengan tulus dan penuh kasih sayang. Zahira semakin terharu.


David membawa kedua orang anaknya masuk kedalam, Zahira melihat kesana-kemari tak ada foto yang terpajang. Semakin melangkah dia semakin penasaran seperti apakah wajah ayahnya.


Hingga sampai di lantai atas. Langkah kaki Zahira mulai terasa berat, matanya membulat menatap tanpa berkedip melihat foto terpajang di dinding, wanita yang mirip dirinya sedang tersenyum bahagia dalam pelukan seorang laki-laki tampan dengan mata bulat sedikit menyipit di ujungnya, berkulit putih dan satu lesung Pipit di sebelah pipinya, sama persis seperti yang Zahira miliki.


"Ayah." ucapnya lirih memegang foto yang masih terawat itu.


"Dia ayahmu Sayang." David merangkul bahu Zahira, sudah pasti gadis kesayangan itu menangis, bahagia, hari, sedih menjadi satu.


"Ayah, ibu." lirihnya sangat ingin memeluk tapi apalah daya, bisa menatap fotonya saja sudah beruntung baginya. Tatapan matanya menjadi sendu, membayangkan seandainya mereka masih ada, sungguh bahagia hari-harinya.


Zahira menarik nafas, beralih menatap David yang masih tampak serius memandangi foto rekannya. "Papa." panggilnya.


"Iya, ada apa nak!" jawabnya terdengar sedih.


"Tentu saja, aku ayahmu. Kau putri kecilku yang manja." jawabnya tak kalah tulus. Teringat masa kecil Zahira ingin selalu duduk di bahu dan memeluk kepalanya, gadis kecil itu tertawa senang sekali. Ketika lelah bermain, dia akan tertidur memeluk lehernya. Di tempat tidur dia akan meraba jenggotnya dan kembali terlelap ketika menemukan bulu di wajah David. David selalu memanjakannya karena saat itu Ayu mengurus Radit yang masih menyusu.


"Sungguh aku ingin bersama mereka, tapi tidak kalah beruntung di besarkan Papa dan Mama." Zahira menyandarkan kepalanya di bahu David, matanya selalu memandangi foto ayah ibunya.


"Kau ingin melihat kamar ayah ibumu?" David mengarahkan pandangannya ke arah sebuah kamar.


"Iya Papa." Zahira berjalan menuju pintu kamar yang tertutup, tapi sepertinya selalu di bersihkan, karena nyaris tak ada debu di pintu itu. Zahira berdiri sejenak, lalu membuka pintunya perlahan.


"Kamar yang sangat bagus." humamnya, nuansa putih pink yang lembut, persis dengan warna kesukaan Zahira.


Foto-foto yang sangat cantik, dan tampan sekali, terpajang di atas meja rias. Ranjang yang luas sekali membuat ia ingin mencoba tidur di sana.

__ADS_1


"Istirahat sebentar mungkin tak masalah." ucapnya sendiri, mulai menikmati suasana menenangkan.


"Sepertinya ada yang tak ingat pulang!" suara itu membuyarkan suasana menyenangkan yang sedang di nikmati Zahira.


"Tentu saja aku akan pulang, tapi ini juga rumahku." jawabnya.


Radit hanya melihat dari pintu, tidak berniat mengganggu gadis manja yang sedang berbaring. Dia tersenyum sedikit, menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban itu.


"Keluarlah, jangan lama-lama di dalam sana." Radit meninggalkan Zahira kebawah, melihat teman di bawah sepertinya sangat enak untuk bersantai.


Zahira melihat balkon yang lumayan luas. Dia melangkah perlahan melihat keluar, sungguh akan indah jika pagi hari berada di sini. Suasana di atas memang membuatnya nyaman dan memikirkan hal yang indah, ingin menikah muda, memiliki anak-anak yang lucu, hidup bahagia bersama suami yang tampan, dia tidak perlu bekerja di perusahaan. Ahhh itu membuatnya sedikit tidak waras, Zahira mengetuk-ngetuk kepalanya. "Sebaiknya aku mencari Radit, dari pada semakin berfikir yang tidak-tidak." batinnya.


Zahira turun ke bawah menuju taman yang rapi dan cukup nyaman untuk bersantai. Ternyata Radit sudah lebih dulu di sana, pria tampan itu sedang berdiri dengan tangannya di dalam kantong celana, tubuhnya yang tegap dan rambutnya yang lurus itu membuatnya sangat tampan dilihat dari segi manapun, dari belakang saja dia sangat sempurna, Zahira mendekatinya perlahan.


Radit yang sadar Zahira mendekat segera berbalik, menatap hangat pada gadis berhijab itu, wajah cantik yang membuatnya berkhayal indah, berharap bisa hidup bersama di kemudian hari. Radit yakin itu pasti akan terjadi.


"Aku akan tinggal disini." ucap Zahira duduk tak jauh dari Radit.


"Kau akan meninggalkan aku?" Radit bertanya sambil terus menatapnya.


"Tidak, bukankah rumah ini tidak jauh dari rumahmu." Zahira tersenyum.


"Aku akan merindukanmu jika kau tidak ada di rumah." Radit membuang pandangannya.


"Kau tinggal mencari ku jika kau rindu, ini hanya setengah jam, bukan beda negara." Zahira menggodanya.


"Benar juga, di Malaysia saja aku pulang untukmu, apalagi disini." Radit mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Ish kau mulai tidak sopan" Zahira jengah menatapnya, membuat Radit terkekeh geli melihatnya, gadis cantik ini sangat menggemaskan


__ADS_2