Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)

Dua Cinta Milik Zahira (Ceraikan Istriku!)
94. Baik dan Sholehah


__ADS_3

Ayu pulang dengan hati yang semakin hancur, ia tak pernah menyangka Anggara akan mengatakan itu semua, bahkan selama ini ia tak pernah berkata kasar pada semua orang. Tapi, ia juga berpikir bahwa dia sudah gagal menjaga Zahira, benar adanya jika ia tidak memperhatikan Zahira setelah ia selesai sekolah, ia mengira Radit akan mengurus semuanya dengan benar. Ternyata kepercayaannya kepada Radit masih belum tepat, kini baru ia menyadari, jika menganggap Zahira belum cukup dewasa untuk memegang perusahaan, harusnya Radit juga belum cukup dewasa untuk di beri kepercayaan sepenuhnya atas Zahira.


Andai waktu bisa di ulang, harusnya Zahira juga mendapatkan akses keuangan sepenuhnya dari Ayu, bukan bergantung dari Radit. Dan lagi, dia bukanlah orang miskin yang tak punya segalanya, harusnya ia bebas memakai semua miliknya.


"Aaaaaaghhhhhh!" Ayu berteriak tersungkur di ruangan Direktur perusahaan Zahira, sore menjelang Maghrib ia mendatangi kantor penuh kenangan itu. Foto wanita cantik sedang tersenyum itu seakan menyaksikan tangis dari seorang adik angkat yang sedang bersedih.


"Kakak!" tangisnya terdengar menggema di rungan kosong itu. "Aku gagal menjaga putrimu, aku sangat bodoh hingga kehilangan putriku, aku memang bodoh." ia semakin menangis pilu dengan air matanya jatuh membasahi lantai yang bersih.


"Maafkan aku Kak, ampuni aku!" dia semakin tidak terkendali, sesekali tangan kanannya meremas kerah bajunya sendiri, menahan sesak yang begitu besar di dada.


"Aku harus bagaimana Kak, aku harus bagaimana? Aku tidak bisa kehilangan Zahira."


Foto itu tetap tersenyum, ia tak mungkin menjawab meskipun tangisnya semakin meraung keras, ia juga tak akan ikut menangis meskipun melihat air mata. Jika dulu mereka akan menangis bersama, tentu itu tidak akan terjadi lagi saat ini. Hingga malam hari Ayu tak juga beranjak, ia menikmati kesendirian di ruangan yang gelap, ingin merasakan penderitaan agar mengurangi rasa marah dan bersalahnya, tapi percuma itu malah membuatnya semakin bersedih saja.


Cklek


Lampu ruangan itu menyala, terdengar seseorang menekan start listrik di dekat pintu. Langkah pelan itu mendekat dengan pasti, bahkan aroma khas menenangkan itu sudah bisa dia rasakan.


"Apa yang terjadi?" tanya David pelan, tangan besarnya merengkuh dan mengusap kepala istri tercinta.


Ayu kembali menangis menyandar di bahu David, ia meluapkan semua beban di hatinya lewat air mata.


"Bukankah kau di rumah sakit?" tanya David heran dengan istrinya.


Namun tak juga mendapat jawaban, pria itu ingin tahu, tapi tentu ia harus bersabar. Hingga lama David membiarkan tangisnya reda, barulah Ayu duduk dengan nafas yang mulai teratur.


"David!" panggilnya.


"Iya." David menjawab dan terus memperhatikan wajah sang istri yang sembab.


"Kau akan sangat terkejut jika mengetahui siapa istri Anggara." ucap Ayu terdengar masih sesenggukan.


"Siapa?" David tak terlalu ingin tahu, namun ia mendengarkan Ayu.

__ADS_1


"Zahira!"


Mata hitam pekat David membulat sempurna, ia seperti sedang berada di alam mimpi, berada di ruangan direktur, dan membicarakan anaknya. Dia benar-benar bermimpi menemukan kenyataan bahwa putri kesayangannya masih hidup. Bibirnya tertarik, ia mencoba menikmati suasana tak nyata.


"David aku tidak sedang bercanda, Zahira benar-benar masih hidup!" ucap Ayu lagi dengan sedikit menekan ucapannya.


"Sayang, apa yang membuatmu seperti ini?" David merengkuh kembali tubuh istrinya.


"Aku serius David, aku melihatnya di rumah sakit bersama Anggara, dan aku menyusulnya tadi sore ke rumah pribadi Anggara. Dan kau tahu aku melihatnya begitu mesra dengan Anggara, dia seolah tidak mengenalku. Tapi aku tahu itu Zahira, tangannya, matanya, bibirnya juga semuanya." Ayu kembali meneteskan air mata.


"Tapi Zahira sudah meninggal Sayang, kita yang memakamkannya!" David tak percaya.


"Tidak David, dia masih ada. Dia di rumah Anggara hidup dan menikah dengannya, dia di perlakukan seperti Ratu di sana." dengan ucapan kata kalimat terakhir yang terdengar pilu.


"Bagaimana bisa." David mulai memahami ucapan Ayu.


"Aku ingin sekali memeluknya, tapi dia terlalu berharga bagi Anggara, bahkan untuk mendekatinya aku tidak bisa." Ayu menunduk lemah.


"Aku akan datang ke sana." David beranjak mengajak Ayu ikut serta.


"Baiklah, kalau begitu kita pulang. kau tidak bisa seperti ini jika ingin bertemu Zahira, kita harus berpikir dengan jernih." David mengajaknya berdiri, keluar dan pulang ke rumah mereka.


*


"Mas!"


"Iya sayang?" jawaban itu selalu saja terdengar mesra.


"Mengapa wanita yang datang tadi menangis, apa aku pernah mengenalnya? Tapi sepertinya aku pernah melihatnya." Zahira melihat langit-langit kamar mereka, matanya kesana-kemari mencari sesuatu untuk di ingat.


"Iya, kau mengenalnya Sayang." Anggara tak mau menutupi apapun.


"Lalu?" Zahira merubah posisinya menyamping menghadap Anggara, begitu juga sebaliknya mereka berhadapan.

__ADS_1


"Dia yang membesarkanmu." ungkapnya tersenyum.


"Aku!" Zahira terkejut, dengan wajahnya sedikit panik. Ia sedang terbayang wajah cantik wanita itu menangis, juga meringis karena di pukul Jia.


"Iya, hingga akhirnya kau sudah dewasa dan kembali bertemu denganku. Dan setelahnya kau kecelakaan, hilang selama berbulan-bulan, mereka menganggapmu sudah tak ada." Anggara menjelaskannya dengan lembut.


"Aku melupakannya?" Zahira masih di penuhi tanda tanya.


"Tapi ku rasa kau tidak melupakan aku saat kau sadar dari komamu yang beberapa kali." Anggara sedikit merayunya.


Gadis itu tersenyum, dia bahagia sekali selalu bersama Anggara, rasa aman dengan di banjiri kasih sayang, tentu itu membuatnya tak mau jauh apalagi sampai melupakannya.


"Artinya akulah yang paling berarti di dalam sini." Anggara menunjuk tengah dada Zahira dengan tertawa.


Dia tertawa, memeluk dengan wajah mendongak menatap wajah tampan itu dengan bahagia, mata beningnya menyipit, gigi rapinya terlihat berbaris putih.


"Tapi dia menangis." ucapnya masih diliputi rasa penasaran.


"Karena dia bersedih, ia tak pernah menyangka akan melihatmu."


"Apa aku harus menemuinya?" tanya gadis itu.


"Nanti, kau akan ke sana tapi tidak sekarang. Biarkan semua berjalan dengan kehendak Allah saja, jangan hadir sebelum Allah mengatur kehadiranmu di sana, jangan bersembunyi jika Allah sudah membuatmu muncul di antara mereka. Satu hal yang pasti, aku akan mendampingi dirimu, selalu." Anggara selalu bisa membuatnya tenang.


"Aku jadi ingin mengingat semuanya, tentang semua orang." ucapnya setengah berbisik.


"Itu pasti akan terjadi. Aku tidak akan melarang apapun yang membuatmu bahagia, asal tetap menjaga anak kita dan pernikahan kita."


"Tentu saja, keluarga kita akan selalu menjadi yang utama." memeluknya erat.


*


Sementara di rumah sakit, Merry sedang mengobrol dengan Radit, mereka sedang memperhatikan wajah imut yang masih merah itu.

__ADS_1


"Dia putrimu!" ucap Merry tersenyum.


"Iya, aku senang mendapatkan anak perempuan, tapi ku harap dia akan menjadi wanita yang baik dan Solehah tidak seperti aku." Radit menatapnya dengan mata menerawang.


__ADS_2