
"Sebaiknya kita turun, kau kedinginan." Radit merangkul bahu Zahira, menoleh sekitar yang mulai redup, pemandangan yang indah tapi membuat hati gelisah.
Zahira menurut, menuruni anak tangga yang lumayan panjang, selalu memegang bahunya hingga masuk ke lantai Enam. Hanya di penuhi dengan foto dan barang-barang antik, tahun 50an, hingga 80an, sepertinya hanya sebuah koleksi.
Lantai Lima yang juga tampak bersih, banyak barang di sana, sepertinya barang-barang milik seorang wanita, mungkin milik ibunya Anggara.
Lantai Empat, banyak mainan anak-anak di era 80an, juga barang-barang koleksi seperti lukisan, dan ada beberapa kamar di sana, tampak rapi dan bersih juga.
Lantai Tiga, alat olahraga modern. sepertinya sering di pakai, dapat dipastikan Anggara sering olah raga dan bersantai di sana, bahkan busa tipis masih terbentang di bagian tengah ruangan.
"Mengapa tidak pakai lift saja." dengan setia Radit menemani Zahira.
"Hanya ingin melihat semua yang ada di rumah ini." jawab Zahira masih berjalan pelan.
"Tapi kau akan kelelahan, aku tidak bisa membayangkan kau naik dari lantai satu hingga ke atas sana. Kau sedang hamil Zahira!" Radit kembali meraih bahu Zahira.
"Aku ingin di sini sebentar, kau turunlah lebih dulu." Zahira berdiri menatap alat-alat olahraga suaminya, seakan masih berderit bunyi gerakan tangan kokoh Anggara sedang melatih otot dadanya.
"Baiknya kau istirahat." Radit merasa berat meninggalkan Zahira sendiri di sana.
"Aku akan istirahat di sini sebentar." masih tak mau beranjak dari posisinya.
"Baiklah." rasanya tidak bisa meninggalkan Zahira, tapi karena keinginan wanita cantik itu Radit memilih keluar namun tidak pergi. Duduk di anak tangga menunggu Zahira dan mengawasi dari sana.
Beberapa menit, masih tidak tampak Zahira keluar bahkan setelah adzan berkumandang. Radit sedikit khawatir, beranjak dari duduknya dan naik di beberapa anak tangga, memastikan jika Zahira baik-baik saja.
Sholat, dia sedang sholat di atas busa tipis yang terbentang di tengah-tengah ruangan itu. Menenangkan sekali menatap wajahnya di saat sedang menghadap Allah. Cantik, lembut, wajahnya semakin membuat hati Raditya porak-poranda. Teringat saat dulu setelah sholat Radit akan menggendong tubuh kecilnya dan membawa ke atas ranjang yang luas. Menikmati bening matanya, mereguk manisnya cinta penuh kehangatan.
Dia sudah selesai, tapi wajah yang menyamping itu masih tetap menunduk menatap sajadah, lama dan sepertinya dia sedang menangis.
"Za-" Radit mengurungkan panggilannya.
Dia benar-benar menangis, sesekali tarikan nafasnya kasar terdengar. Mata beningnya melihat ke sebagian ruangan mencari sesuatu yang tidak ia temukan tapi membuat tangisnya semakin kencang.
"Mas!" suaranya mengisi penuh ruangan sunyi, sepertinya dia sering di sana hanya untuk melampiaskan kesedihan yang tak dapat di luapkan ketika bersama anak-anak.
"Maafkan aku Zahira." lirih Radit dengan wajah sedih dan hati yang ikut terluka.
...***...
__ADS_1
Pagi yang cerah, hari ini semua kembali normal setelah kasus penyerangan di rumah Anwar dan rumah Daniel. Meski sempat mengguncang media tapi pada akhirnya selesai dengan terungkapnya bisnis terlarang Daniel yang juga di lanjutkan Anwar.
"Akhirnya semua kembali baik-baik saja." Ricky merasa lega. Dia sedang mempersiapkan proyek barunya bersama Reza Mahendra dan Raditya, kerja sama tiga perusahaan itu akan membuat banyak hotel serentak di beberapa daerah luar kota.
"Om!" Zahira masuk ke ruangan Ricky.
"Mengapa kau sudah bekerja, biar kami saja yang meng-handle semuanya." Ricky meminta Zahira duduk di sofa besar.
"Aku bosan di rumah." jawabnya menurut, duduk menyandar di sana.
"Sebentar lagi mereka datang, harusnya kau tinggal terima hasil saja." Ricky masih mengomel, tak ingin terjadi sesuatu pada Zahira setelah beberapa hari yang melelahkan.
Zahira meraih air putih.
"Kau terlihat lemas." Ricky melirik wajah Zahira sekilas. "Buatkan teh hangat untuk Ibu Zahira." Ricky berbicara pada gagang telepon.
Tak lama terdengar pintu terbuka, ternyata Radit lebih dulu datang. Pria itu tampak fresh dan wangi, tentu dia selalu tampan dengan kulit putih dan mata yang menyipit, hidung mancung dan bibir yang merah. Dia menoleh Zahira.
"Harusnya kau istirahat saja." wajah yang sedikit pucat itu mengundang Radit untuk mendekatinya.
"Aku baik-baik saja." jawabnya tak lagi menatap benci.
Sejenak kemudian pintu kembali terbuka, kali ini dua orang yang masuk, Reza dan Lili membawa teh hangat untuk Zahira.
"Hai Sayang." Reza menyapa sekaligus menggoda Bos besar itu.
Zahira hanya tersenyum.
"Biasanya kau minum susu, Reza langsung berkomentar melihat Lili meletakkan teh di depan Zahira.
"Dia butuh teh hangatnya, agar bersemangat." Ricky menjawab. Pria kepala Lima itu sedang sibuk menyiapkan berkas di meja.
"Kau sakit?" Reza benar-benar tak peduli siapa saja di dalam sana.
"Aku baik-baik saja." Zahira meraih teh dan meminumnya. Dia tak ingin Reza terlalu memperhatikan dirinya sementara yang lain sudah sibuk dengan berkas-berkas di meja.
"Aku yakin kau sedang sakit." Reza sengaja duduk di dekat Zahira.
"Tidak!" Zahira sedikit kesal.
__ADS_1
"Kau sedang sakit!" Reza masih bersikeras.
"Aku sakit apa?" Zahira menggeleng bingung.
"Kau terkena malarindu." Reza terkekeh, melihat wajah cantik itu sedikit menekuk.
"Itu bukan sakit." Zahira menjawab sambil membuka berkas miliknya.
"Tentu saja sakit, rindu kepada orang yang sudah tak bisa kita miliki rasanya sakit sekali. Kecuali kau merindukanku, kau tidak akan sakit." Reza sedikit berbisik di akhir ucapnya.
"Bisa berhenti merayunya! Kita sedang bekerja." Ricky sedikit kesal melihat tingkah Reza tak bisa serius.
"Zahira ayo kita pulang!" Radit meraih tangan Zahira, tapi segera di tepis Reza.
"Lama-lama kau tidak sopan." Reza menyingkirkan tangan Radit.
"Kau punya niat bekerja atau tidak? Jika tidak aku akan membawanya pulang." Radit menjadi kesal.
"Dia hanya akan pulang bersamaku!" Reza jelas tidak akan membiarkan Radit menang.
"Hem, aku saudaranya. Kau siapa?" Radit menantang tatapan Reza.
"Aku akan melamarnya nanti." jawabnya tak bisa mencari alasan.
"Kau!" Radit mengepalkan tangan.
"Kalian berdua keluar!" Ricky menunjuk pintu.
"Tapi?" mereka protes bersamaan.
"Tidak ada tapi-tapian, silahkan berkelahi di luar!" Ricky benar-benar geram sekali, kepalanya terasa pening dengan tingkah Dua orang pria muda itu, wajah Ricky sangat serius.
Reza mendengus kesal, memilih keluar pada akhirnya diikuti Radit juga menuju pintu.
"Maaf!" Zahira memijat kepalanya, malah kehadirannya membuat Dua pria itu tidak berkonsentrasi.
"Sebaiknya kau pilih salah satu, mereka tak akan menyerah sampai mati." kesal Ricky duduk meraih air putih dan meneguk habis.
Menganga tak percaya, Zahira menatap bingung.
__ADS_1
"Mereka tergila-gila padamu!" Ricky memperjelas ucapannya, memiliki atasan seorang janda cantik membuatnya darah tinggi.