
Di dalam taksi itu, Radit menatap wajah Zahira dengan khawatir, terus memanggil-manggilnya dan menyentuh pipinya namun tetap tak ada reaksi apapun.
Radit meraih ponsel di sakunya, menghubungi Ayu.
"Assalamualaikum Radit." suara Ayu langsung terdengar.
"Mama, pergi ke rumah sakit sekarang, Zahira pingsan dan kami sedang menuju ke sana."
"Apa? Mengapa bisa pingsan?" suara Ayu terdengar sangat khawatir.
"Nanti ku jelaskan." Radit mengakhiri panggilan ponselnya, kembali memeluk Zahira dengan rasa bercampur aduk.
"Zahira." panggilnya pelan, matanya berkaca-kaca dengan kedua tangannya tak henti memeluk Zahira.
Antara rindu dan takut, menyesal dan entah apalagi, Radit hanya bisa memeluk dan memandangi wajah di pangkuannya.
"Pak lebih cepat." pinta Radit kepada sopir taksi di depannya.
"Baik Pak." jawab sopir tersebut melirik Radit dan Zahira melalui kaca depan.
"Zahira." panggilnya tak berselang lama.
Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Radit membawa Zahira masuk ke dalam menuju ruang pemeriksaan.
"Dok, dia pingsan karena terkena pukulan, tolong di periksa." Radit meletakkan tubuh Zahira di tempat tidur.
"Baiklah, silahkan tunggu di luar." Dokter tersebut mendekati Zahira, memeriksa keadaannya.
Sementara Radit di luar terlihat mondar-mandir gelisah, menunggu kedatangan ibunya. Reza Mahendra datang namun menghentikan langkahnya sendiri tidak ingin membuka berkelahi dengan Radit, ia memilih menyandar di ruangan berjarak dengan Radit.
Hampir tiga puluh menit, dokter keluar dari ruangan periksaan, bersamaan dengan datangnya Ayu dan David.
"Bagaimana Dokter?" tanya Radit masih terlihat khawatir.
"Dia belum sadar, jika sampai tiga puluh menit kemudian dia belum sadar maka harus diperiksa lebih lanjut." Dokter tersebut menatap Radit dengan sedikit berpikir.
"Ada apa?" tanya Radit mengerti arti tatapan dokter padanya.
"Ada bekas jahitan di atas pelipis sebelah kiri, dan itu bekas jahitan operasi besar. Apakah pasien pernah di operasi otak atau sebab lainnya yang menyebabkan operasi kepala?" tanya dokter tersebut.
Radit semakin gugup mendengar pertanyaan dokter tersebut.
"Ada, putriku pernah melakukan operasi lebih dari satu kali di bagian kepala ketika dia koma yang disebabkan kecelakaan jatuh dari ketinggian." jawab Ayu juga tak kalah khawatir.
__ADS_1
"Oh." dokter itu mengangguk-angguk. "Kita tunggu tiga puluh menit lagi, jika tidak sadar juga maka harus di periksa lebih lanjut."
"Ba_baik Dok." jawab Radit lemas.
Dokter tersebut berlalu dengan sedikit menepuk pundak Radit, sementara Reza berdiri di belakang mereka mendengar apa yang baru saja dokter katakan. Tak sanggup bicara apa-apa, kembali menyandar dan duduk merosot di dinding.
"Mama harus memberi tahu Ricky, saat itu dia yang mengurus semuanya. Mama takut terjadi sesuatu." Ayu meraih ponsel dan sedikit menjauh.
"Apa yang terjadi?" David melirik tajam Reza dan juga Radit putranya.
Tak ada yang menjawab, bahkan keduanya menunduk di posisi masing-masing menyesalkan sesuatu.
"Radit! Bisa menjelaskan semuanya padaku?" David sedikit meninggikan suaranya.
"Zahira terkena pukulan." jawab Radit jujur, dia tahu jika David sedang marah.
"Pukulan? Pukulan apa?" David kembali melihat kedua laki-laki tersebut bergantian.
Kembali diam, mereka tak berani menatap David.
"Jawab! Jangan bilang kalian berdua berkelahi lagi!" bentak David mulai emosi.
"Dia yang memulai?" Radit menunjuk Reza.
Radit berdiri dan mendekati Reza lagi, meraih kerah bajunya dan memaksanya berdiri.
"Kau masih tidak merasa bersalah?" Radit menatap geram di pada laki-laki yang lemas tak mau mengakui rasa bersalah dalam hatinya.
Radit kembali akan melayangkan pukulan, tapi seseorang mencegahnya.
"Ini rumah sakit, bukan ring tinju." Ricky baru saja datang bersama yang lain.
"Om tidak tahu jika dia yang memukul Zahira hingga pingsan." jelas Radit dengan penuh amarah.
"Apa?" Ricky menatap Reza tak percaya.
"Aku tidak sengaja, dia yang memancingku berkelahi." Reza menunjuk Radit, tentu dia tak mau disalahkan sendiri.
"Jadi kalian berkelahi dan menyebabkan Zahira pingsan?" marah Ricky melihat keduanya bergantian.
"Dia memukul kepalanya." Radit menunjuk Reza.
"Aku tidak bermaksud memukulnya, aku tidak sengaja!" jawab Reza juga membentak.
__ADS_1
"Enak sekali hidupmu, tidur dengan Ayra kau bilang tak sengaja, sekarang memukul Zahira hingga pingsan juga tak sengaja. Ku rasa hidupmu juga sebuah ketidak sengajaan yang hanya akan menghancurkan segalanya, mengapa kau tidak mati saja?"
"Kau!" Reza kembali marah.
"Berhenti!" Ricky membentak keduanya lagi.
"Kita belum selesai, aku akan memberi pelajaran denganmu." Radit masih belum habis marah.
"Diam jika masih ingin ada di sini." Ricky menatap geram kedua pria tersebut. Ricky tidak sedang main-main kali ini.
Ancaman yang cukup membuat suasana tenang.
"Ini sudah lebih satu jam." Ayu menatap ruangan Zahira lalu masuk ke dalam melihat keadaannya.
Radit juga tak mau ketinggalan segera masuk melihat keadaan Zahira di dalam.
"Zahira." panggilnya menyapa wajah yang tertidur tanpa kerudung di kepalanya, dokter tak mengembalikan hijabnya saat memeriksa kepala Zahira.
"Zahira bangun Nak." panggil Ayu mulai meneteskan air mata.
Radit memandangi wajah cantik itu dari dekat, menutup sebagian rambutnya dengan kerudung melingkar.
Tak lama kemudian dokter masuk dan kembali memeriksa Zahira.
"Bagaimana Dok?" tanya Ayu sangat penasaran.
"Dia belum sadar Nyonya." Jawab dokter tersebut khawatir, dia juga bersama dokter lainnya kali ini.
"Kami sudah membaca riwayat kesehatan Nyonya Zahira. Dan ini terjadi sudah beberapa kali, saat operasi melahirkan dia juga mengalami hal ini, dia tak kunjung sadar melampaui batas bius yang kami berikan. Operasi ke dua saat kehamilan berikutnya, beberapa bulan yang lalu juga mengalami telat sadar juga melampaui obat bius yang kami berikan. Itu semua berkaitan dengan kondisi otaknya yang sempat melakukan operasi beberapa kali. Kami tidak bisa bertindak lebih jauh Nyonya. Mengingat kasus kali ini juga memar di pelipis sebelah kiri cukup jelas, dikhawatirkan terjadi sesuatu di dalam kepalanya. Jadi alangkah lebih baik jika di bawa ke rumah sakit tempat ia dirawat saat akan melakukan bedah otak." jelas dokter senior tersebut.
"Dok." Ayu terduduk lemas di samping Zahira.
Radit segera keluar menemui Ricky, hanya pria itu yang tahu segalanya.
"Om, Zahira harus dibawa ke rumah sakit saat dia di rawat sebelum bedah otak." ucap Radit kepada Ricky.
"Astaga." Ricky mengusap wajahnya berkali-kali, tampak sekali wajah pria lima puluh tahun itu sedang sangat marah.
Berbeda dengan Ricko yang sejak tadi diam dengan tatapan menyeramkan, kali ini ia berdiri mendekati Reza Mahendra.
"Bawa mereka berdua ke kantor polisi." perintahnya pada empat orang bodyguard yang setia berdiri tegap sejak dia datang.
"Apa maksudmu?" Reza berdiri mengelak saat tangan bodyguard meraihnya.
__ADS_1
"Itu tempat yang bagus untukmu." ucapnya terdengar dingin.